3 Langkah Menghindari Kepalsuan Hijrah

Nabi kaum Muslimin itu berusaha membuka jalan baru bagi bangsa Arab yang bercorak kekabilahan. Meluaskan cakrawala dengan menyebrangi batas-batas paling jauh yang dapat dicapai. Hingga akhirnya tercapailah rekrontruksi akidah serta pemikiran yang lebih luas dan mendalam.

Hijrah kaum muslimin telah memutuskan keterkaitan terhadap tanahnya, bisa mengubah pandangan manusia terhadap alam, dan mengubahnya menjadi pandangan yang luas dan menyeluruh, yang pada akhirnya hilanglah kejumudan, kemerosotan sosial, pemikiran, dan perasaan, sehingga masyarakat yang rigid dan jumud itu bisa berubah menjadi masyarakat yang dinamis (Ali Syari’ati, 1992).

Dengan demikian, Nabi telah berhasil meniupkan ruh hijrah sebagai energi yang menggerakkan dan memindahkan mereka dari lingkungan yang kaku menuju tangga kemajuan dan kesempurnaan. Hal ini membuktikan bahwa hijrah bukanlah sebuah hiasan sejarah semata, namun landasan sosial yang penting dilakukan.

Baca juga: Historisasi Radikalisme di Indonesia

Lebih dari itu, peristiwa hijrah dipilih sebagai awal kalender umat Islam. Pemilihan ini patut kita dalami maknanya. Pasalnya, yang dijadikan acuan penanggalan biasanya peristiwa kelahiran tokoh. Namun Islam tidak mengambil peristiwa itu sebagai permulaan penanggalan kalender. Tidak pula peristiwa fatkhu makkah (penaklukan kota makkah), kemenangan kaum Muslimin pada perang badar, ataupun diangkatnya Nabi Muhammad menjadi seorang Rasul, tapi memilih peristiwa hijrah. Karena dalam peristiwa hijrah itulah cahaya kemerdekaan Islam mulai terlihat. Dimulai dari pembangunan Masjid Quba di Madinah yang memproklamirkan kebesaran dan kemuliaan agama Islam.

Proses hijrah inilah yang mengawali terbentuknya persatuan umat. Semua orang saling berbagi dan menyayangi meski berbeda keyakinan. Mereka yang dahulu bertengkar seperti suku Aus dan Khazraj menjalin perdamaian seusai Nabi melakukan hijrah. Kemilau Nabi yang membawa semangat perdamaian, segera tersebar luas, yang menyebabkan semua orang hanyut dalam rasa persaudaraan.

Akan tetapi, semangat revolusioner Sang Nabi mulai dirusak oleh segelintir orang yang bergelut dalam arus kekerasan. Kini, kata hijrah tak ubahnya seperti seruan peperangan. Satu sama lain saling menumpahkan darah untuk menunjukkan eksistensi pada kebenaran pemahaman. Tak ada cara lain untuk memaksa persatuan pemahaman datang, selain membunuh semua orang yang berseberangan, kata mereka.

Proses kesalahpahaman ini diilhami oleh kekaburan mereka pada suatu pemikiran. Bagaimana mereka terjebak dalam propaganda Islam terancam. Islam terancam di berbagai negara dengan jumlah pemeluk agama Islam yang sedikit. Sehingga sebagai satu kesatuan keagamaan, jika ada tindak kekerasan pada mereka, maka semua umat Islam akan bersatu dan membalas dengan cara serupa.

Mereka selalu di doktrin bahwa semua orang harus memeluk Islam sebagai satu-satunya jalan yang mengiringi kematian.  Padahal cara demikian berakibat pada penghilangan hak seseorang dalam memeluk agama apa saja yang diinginkannya. Proses perpindahan agama seseorang tidak bisa dilakukan dengan unsur keterpaksaan. Harus ada kerelaan hati agar ibadah yang dijalankannya tepat menuju Sang Ilahi.

Selain itu, dalam metode dakwah, Nabi tidak pernah mencontohkan balas dendam. Sebisa mungkin melakukan proses negosiasi dan mengambil jalan menuju perdamaian. Selain itu, tindakan kekerasan yang dilakukan mayoritas kepada minoritas seringkali sebagai aksi protes atas minoritas yang dianiaya oleh umat Islam. Maka jalan keluar dari masalah tersebut adalah memberikan contoh pengayoman terhadap umat yang berbeda agama.

Pembiasan hijrah tidak pandang bulu. Bisa terjadi pada laki-laki ataupun perempuan, anak kecil maupun dewasa yang memiliki nafsu kekerasan. Bahkan perempuan yang sejatinya bergelut dalam nafsu kelembutan, berulang kali terlibat dalam aksi terorisme. Oleh karenanya, tindakan antisipasi harus cepat dilaksanakan.

Tindakan pencegahan bisa dilakukan dari bagian terkecil yaitu keluarga. Keluarga yang merupakan unsur terkecil, mempunyai pengaruh kuat dalam pembentengan setiap individu. Dan orang tua sebagai sendi terbesar dalam keluarga bisa berperan aktif dalam proses pelurusan pemahaman ini. Setidaknya ada tiga metode yang bisa digunakan orang tua dalam pemutusan rantai klamuflase hijrah.    

Pertama, Metode Keteladanan. Keteladanan dapat dilakukan orang tua dengan mencontohkan sikap dan ucapannya terhadap suatu permasalahan. Orang tua dapat mencontohkan sikap pemaaf kepada anak ketika berselisih dengan seseorang. Pun orang tua dapat memberikan pengaruh baik berupa nasehat-nasehat mulia kepada anaknya.   

Kedua, Metode Pembiasaan. Pembiasaan merupakan suatu keadaan di mana seseorang mengaplikasikan perilaku-perilaku yang belum pernah atau jarang dilakukan menjadi sering dilaksanakan hingga menjadi kebiasaan. Dalam menjauhkan anak dari radikalisme, ibu bisa membiasakan anak pada kegiatan membaca untuk memperluas pemahaman mereka.

Ketiga, Metode Motivasi. Motivasi memberikan dampak yang sangat baik dan positif bagi perkembangan kejiwaan manusia terutama perkembangan pendidikan anak. Ibu sebagai seorang yang paling dekat dengan anak harus memberikan motivasi untuk menghindari pengaruh terorisme. Misalnya ibu memotivasi anak dengan menceritakan kelembutan Nabi dalam menyebarkan agama Islam.

Jika semua keluarga berhasil melaksanakan pembentengan pemahaman, maka pondasi-pondasi hijrah berupa kekerasan bisa dibrantas secara perlahan. Karena sejatinya semua unsur kekerasan yang dilakukan dimulai dari bagian terkecil, yaitu keluarga. Maka tugas orang tua adalah melakukan serangkaian edukasi untuk membentengi anaknya dari paham-paham yang tidak benar. Meluruskan pandangan hijrah dengan menyebarkan pemahaman kelembutan Islam, bukan menumpas segala bentuk perbedaan yang ada.

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × 3 =