Aksi Teror Milisi ISIS di Masa Pandemic Covid-19

Whatsapp Pinterest LinkedIn Tumblr +

ISIS sampai hari ini masih menunjukan aksinya baik di luar Suriah maupun di dalam Suriah. Pada bulan September 2020 pertempuran antara pasukan pro-pemerintah Suriah dan milisi ISIS terjadi di putara Provinsoi Raqa. Sebanyak 28 tentara tewas dalam insiden bersenjata itu. Pertempuran itu terjadi akibat dari serangan ISIS terhadap fasilitas Militer Suriah di Badia sebuah daerah di Provinsi Raqa.

Sehari berselang, pasukan pro-pemerintah melancarkan serangan balasan dari udara dan darat yang menewaskan 15 anggota ISIS.

Sejak kekalahannya di Suriah pada Maret 2019, milisi ISIS yang tersisa secara rutin melakukan serangan mematikan terhadap tentara pro-pemerintah Presiden Bashar al-Assad dan pasukan Kurdi–sekutu pemerintah.

Pada Agustus lalu, ISIS mengklaim melakukan serangan di dekat kota Deir Ezzor yang menewaskan seorang jenderal dan dua tentara Rusia yang bersekutu dengan pemerintah Damaskus.

Sementara itu di turki, teroris senior bernama Abu Hamzi menyerang para politisi kepala LSM atau organisasi non-pemerintah dan tokoh terkemuka lainnya di Turki pada Minggu 6 September 2020. Dan akhirnya Abu Hamzi berhasil diringkus oleh aparat keamanan setempat, setelah berhasil ditahan, ia membeberkan semua rencana besar pasukan ISIS di Turki, salah satunya menyerang Masjid Hagia Sophia. Ada tokoh teroris senior lain di turki yang ditangkap selain Abu Hamzi yaitu Huseyin Sagir, diduga ia adalah otak dari rencana teror di turki termasuk dalam membentuk tim yang beranggotakan 10 hingga 12 orang untuk melakukan serangan tersebut.

Dilansir dari https://www.cnnindonesia.com Menurut laporan Kepala Badan Kontra Terorisme PBB, Vladimir Voronkov, menyatakan saat ini kelompok teroris Negara Islam (ISIS) masih bergerak meski berada dalam situasi pandemi Covid-19. diperkirakan ada lebih dari 10 ribu milisi ISIS yang kembali menyatukan kekuatan di perbatasan Irak dan Suriah. para milisi itu terpencar menjadi kelompok-kelompok kecil. Namun, ada tanda-tanda mereka kembali gencar melakukan serangan meski tidak sebesar sebelumnya. Selain itu para simpatisan dan milisi ISIS juga bergerak di negara-negara dekat zona konflik.

Meski demikian, Voronkov menyatakan pola serangan acak yang dilakukan seorang diri oleh milisi dan simpatisan ISIS masih menjadi ancaman. Dia mengatakan, propaganda ISIS secara daring juga tidak surut di tengah pandemi.

Voronkov menyatakan kelompok ISIS di Afrika Barat juga masih bergerak. Bahkan menurut dia, kelompok itu diperkirakan mempunyai 3.500 anggota. Selain itu, ancaman juga datang dari kelompok ISIS Sahara yang bersembunyi di antara Burkina Faso, Mali dan Niger.

Dia mengatakan milisi ISIS terlibat peperangan di Libya meski dalam jumlah kecil. Namun, kata dia, kelompok teroris itu memicu pertentangan di antara suku-suku di Libya dan menjadi ancaman di kawasan perbatasan.

Selain itu, kelompok ISIS di Afrika Tengah juga masih terus menyerang penduduk pedesaan di Kongo dan Mozambik.

Milisi ISIS di Afghanistan, kata Voronkov, juga terlibat peperangan dengan banyak pihak. Termasuk pasukan koalisi asing dan Taliban.

Malah, kata Voronkov, ISIS Afghanistan atau ISIS Khurasan mencoba merekrut anggota dengan propaganda menentang perjanjian damai antara Taliban dan AS.

Baca juga: https://carubannusantara.or.id/ancaman-teroris-di-tengah-wabah-covid-19/

Share.

Leave A Reply

seventeen + 10 =