Analisis Jaringan di Media Sosial Hastag #DanaTeroris di twitter

Terorisme tak hanya mengancam dunia nyata, tetapi juga dunia maya. Dalam ruang media sosial, kita melihat banyak sekali perdebatan antara kelompok pro teroris yang memprogandakan narasi intoleran, radikal, maupun terorisme untuk kepentingan politik (kebencian terhadap pemerintah yang sah atau dengan cara “membonceng” isu) atau pun pendukung kelompok kontra teroris. Isu dan wacana yang sebetulnya sengaja diusung terorisme justeru ramai diperbincangkan oleh para netizen. Meskipun dampak terorisme berbahaya bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernengara, baik keamanan maupun keutuhan bangsa, tetapi perkembangan isu maupun wacana yang dipropagandakan terorisme sangat  laku keras dan banyak menghiasi dunia maya.

Penulis akan mencoba menyoroti perdebatan maupun diskurusus yang disusng keduanya (pro-kontra) serta membahas hasteg #DanaTeroris berikut apa saja yang dibicarakan dan bagaimana jejaring dan perdebatannya di media sosial platform Twitter. Penulis juga akan  mencoba menjelaskan bagaimana keberadaaan kata kunci dana teroris mengunakan SNA dan media social Twitter.

social network analysis (SNA).

SNA atau Social Network Analysis adalah sebuah metode perabaan algoritma pada platform media sosial yang mengartikulasikan sebuah pemahaman berupa pesan yang tersirat, maksud dan tujuan sebuah isu dan juga tujuan sebuah campaign. Kemampuan meraba algoritma ini juga digunakan untuk memetakan hal strategis dan juga hal terkait dengan keputusan pertahanan dan keamanan. Dan menjadi data pendukung bagi sebuah keputusan strategis. Keunggulan utama SNA adalah dengan cepat dan tepat mengelompokkan sebuah cluster yang terafiliasi pada suatu kepentingan.

Hasteg #DanaTeroris

Dalam data SNA, terlihat perbedaan pendapat antara yang pro dan kontra soal  dana terorisme. Yang pro menyebut bahwa dana terorisme itu tidak ada. Sedangkan kelompok kontra terorisme manyatakan bahwa dana terorisme itu ada dan sudah disiapkan. Keberadaan dana-dana tersebut salah satunya dikumpulkan melalui lembaga-lembaga filantropi.

SNA juga merekam lalu lintas wacana yang sengaja dikembangkan oleh akun-akun twitter yang pro teroris yang menyebutkan bahwa dana haji di korupsi untuk membiayai koruptor. Menurut mereka, oknum negara yang menyalahgunakan dana haji ini merupakan teroris sesungguhnya. Mereka juga melawan narasi bahwa Islam bukan teroris dan terorisme bukan bagian dari Islam. Menurut pandangan netizen pro teroris, terorisme adalah ciptaan dan merupakan rekayasa oknum negara. Misalnya, salah satu netizen kelompok pro teroris mengangkat kejanggalan barang bukti pelaku penyerangan Mapolsek Daha. Akun ini mencoba membuktikan dengan mengirimkan bentuk link berita yang berisi soal pengakuan keluarga korban penyerangan https://www.portal-islam.id/2020/06/pengakuan-mengejutkan-ibu-pelaku.html.

Sedangkan netizen kelompok kontra teroris mencoba menjelaskan keberadaan kelompok teroris dan adanya dukungan dana, seperti contoh dalam keterangan statusnya di kaun twitter  yang berisi link https://carubannusantara.or.id/jejak-dana-teroris/.  

Data twitter

TWEETS BY SENTIMENT.

Natural: akunya asli dan tweet organic dan saling terkaitan.

Bad: buruknya akun dengan kiriman berupa tweet dan link yang bersamaan.

Terrible: akun bodong dan erorr.

Jenis perangkat yang sering di gunakan untuk tweet dan portal berita top domians shared sebagai berikut.

Durasi waktu isu soal #DanaTeroris

Penjelasan soal waktu #DanaTeroris terhitung dari bulan juni tanggal 03 juni 2020, sampai 10 juni 2020.

Hasteg perlawanan kelompok Pro Teroris.

Tagar yang di gunakan oleh pro teroris untuk mengembalikan citranya bahwa dana teroris itu adalah sejatinya ada pada negara itu sendiri.

Akun twitter Pro Teroris.

akun akun yang menarasikan keberadaan dana haji bagian dari pada teroris sesungguhnya.

Akun akun Kontra Teroris.

Akun kontra Teroris menarasikan keberadaan adanya dana teroris.

Kesimpulan

Ancaman nyata terorisme hari ini adalah pemanfaatan sarana media sosial sebagai alat untuk propaganda dan pemutar balikan fakta dengan opini yang disebarkan di media sosial agar mayoritas masyarakat tidak percaya dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Penyimpangan informasi tersebut harus dicegah dan dilawan dengan bukti dan data yang terus menerus disebarkan di media sosial agar masyarakat mendapatkan informasi yang benar bukan informasi ‘hoax’ yang justeru mengorbankan masyarakat. Melihat narasi terorisme yang tersebar di dunia maya, kita semua harus aktif melakukan kontra narasi terhadap narasi menyesatkan yang dibangun oleh netizen kelompok pro teroris karena akan mengancam keutuhan bangsa dan kerukunan umat beragama. Jangan diam dan harus kita lawan!

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

thirteen − thirteen =