Anarko Sindikalis

Whatsapp Pinterest LinkedIn Tumblr +

Anarki, anarkis atau anarkisme acap kali ditafsirkan sebagai kegiatan negatif oleh setiap pendengarnya. Hal ini disebabkan masyarakat, khususnya di Indonesia mengalami bias dalam menerjemahkan sejumlah kata tersebut. Penyebabnya antara lain minimnya referensi bacaan dari kacamata sejarah, pemikiran filsafat dan ilmu-ilmu sosial lainnya.

Pada gilirannya, anarki sering kali diterjemahkan menjadi aktivitas bernuansa destruktif, huru-hara, kekacauan, kerusuhan, pemberontakan dan chaos. Sementara itu anarkis mengacu pada pelaku yang disebut sebagai orang pembuat onar, perusuh, pengacau maupun pemberontak.

Kata anarkisme berasal dari bahasa Yunani “anarchos” atau “anarchein” yang artinya “tanpa penguasa” atau “tanpa pemerintahan”.

Anarkisme pada dasarnya adalah teori politik yang berasumsi bahwa semua bentuk pemerintahan bukan sesuatu yang diinginkan dan diperlukan manusia. Lebih dari itu, manusia membutuhkan sebuah kelompok yang didasarkan pada kerja sama bersifat sukarela, baik antar individu atau kelompok.

Di Indonesia kita sering mendengar satu kelompok yang memiliki identitas yang menyerupai baik gerakan ataupun perkembangannya yakni Anarko Sindikalis.

Anarko sindikalis adalah penganut dari anarko sindikalisme. Anarko sindikalisme sendiri merupakan cabang dari anarkisme yang berkonsentrasi pada gerakan kaum buruh. Dalam aksinya, mereka sering sekali membuat keributan.

baca juga: https://carubannusantara.or.id/syekh-adnan-afyouni-menjadi-korban-kebiadaban-teroris

Kostum hitam dan bendera merah hitam menjadi ciri andalan mereka. Selain itu, atribut dengan logo anarki, huruf A di tengah lingkaran juga sering mereka bawa.

Saat Hari Buruh Rabu (1/5/2019), sekelompok orang berpakaian hitam-hitam melakukan aksi perusakan di Bandung, Jawa Barat. Ciri yang mereka kenakan sama persis dengan yang telah disebutkan di atas. Betul saja, sekelompok orang itu menyebut diri mereka sebagai anarko sindikalis.

Jenderal Tito Karnavian, yang waktu itu masih menjabat Kapolri, juga mengungkap adanya kelompok anarko sindikalis yang terlibat dalam demonstrasi. Personel anarko sindikalis, yang mengenakan pakaian serba hitam, disebut sebagai dalang kerusuhan.

Anarko sindikalis, menurut Tito, adalah paham di mana para pekerja ingin bekerja dengan bebas, tidak terikat dengan aturan. Salah satu ciri kelompok ini adalah coretan simbol ‘A’, yang jejaknya ditinggalkan dalam setiap kegiatan.

Paham anarko sindikalis menyebar dari Eropa, Amerika Selatan, dan Asia. Di Indonesia, paham itu masuk beberapa tahun lalu dan tumbuh di kota-kota besar, seperti Yogyakarta, Surabaya, Malang, dan Makassar.

Anarko sindikalis memiliki prinsip-prinsip, yakni solidaritas kaum pekerja, aksi langsung, dan swa-kelola kaum pekerja. Solidaritas kaum pekerja bermakna bahwa mereka percaya bahwa semua pekerja, apapun gender dan sukunya, berada dalam situasi yang sama atau serupa dalam kaitannya dengan majikan atau pimpinan.

Oleh karena itu, untuk membebaskan diri, segenap pekerja harus saling mendukung satu sama lain di dalam konflik kelas yang mereka hadapi.

Banyak varian anarko selain sindikalis, antara lain anarko individualis, anarko antifasis, anarko komunis, anarko feminis, dan masih banyak lagi. Semuanya adalah cabang paham anarkisme. Istilah anarko sindikalis atau revolusioner sindikalis muncul saat paham itu diadopsi gerakan buruh.

Rudolf Roker dalam buku Anarchism and Anarcho Syndicalism (1949) mengatakan banyak kaum anarkis menghabiskan sebagian aktivitas mereka di pergerakan buruh, sehingga melahirkan gerakan anarkis sindikalis.

Anarkisme itu sendiri, seperti diuraikan Roker, adalah pemikiran sosial yang penganutnya menganjurkan penghapusan kapitalisme dan menggantinya dengan kepemilikan bersama.

Kaum anarkis juga menginginkan penghapusan semua institusi sosial-politik yang ada di masyarakat. Negara dengan lembaga politik berikut birokrasinya diganti dengan komunitas bebas yang terikat satu sama lain oleh kepentingan sosial-ekonomi.

Share.

Leave A Reply

14 − three =