Antara Covid-19 dan Kelompok Teroris ISIS

Virus corona (covid-19) mulai merebak pada bulan januari 2020 di kota Wuhan-China dengan jumlah orang yang terjangkit pada saat itu berjumlah 500 orang, diduga virus ini menyebar akibat mengkonsumsi Sup Kelelawar (meskipun dikemudian hari berseliweran teori-teori konspirasi terhadap wabah ini), Lalu dengan sigap pemerintah China melakukan penanganan mulai dari mengevakuasi, mengkarantina, menutup akses keluar dan masuk ke daerah tersebut (lockdown) sampai membuat rumah sakit khusus corona dalam hitungan hari. Dalam penanganan tersebut pemerintah China menghabiskan dana jika dalam rupiah kurang lebih 20.000 trilyun.

Virus corona ini diantaranya masuk melalui mulut dan hidung manusia, kemudian menempati tenggorokan dan puncaknya merusak fungsi paru-paru sehingga korban akan merasakan sesak nafas dan ketika terus memburuk akan menyebabkan kematian, bahkan jika kematian tidak terjadi, konon katanya, orang yang sembuh dari virus corona akan terjadi kerusakan paru-paru secara permanen.

Maklumat ISIS Terhadap Corona / Covid-19

Kini virus corona sudah bermigrasi kebeberapa Negara, bahkan mungkin sudah berjumlah lebih dari 150 negara di dunia yang dilanda wabah corona.Negara-negara yang sudah terdampak maupun belum terdampak virus corona melalui petingginya melakukan kebijakan dalam upaya penanggulangan dan upaya pencegahan terhadap virus corona, salah satunya adalah melakukan pembatasan dan pencegahan orang melakukan perjalanan masuk atau ke luar negeri.

Kebijakan serupa juga dilakukan oleh petinggi dari kelompok teroris Negara Islam Suriah dan Irak atau ISIS, di lansir dari The New York Times, dalam edisi terbaru buletin milik ISIS yakni Al-Naba, ISIS memberikan petuah dan peringatan terhadap anggota mereka untuk sementara ini tidak melakukan perjalanan ke Eropa, dan menginstruksikan kepada para pengikutnya yang mungkin mengidap Covid-19 untuk tetap tinggal di wilayah ISIS, demi mencegah penyebaran penyakit, yang sehat tidak boleh memasuki tanah epidemi (Eropa). Pernyataan tersebut terangkum dalam empat saran dalam menghadapi virus corona. Saran-saran itu adalah 1). jauhi orang sakit, 2). cuci tangan sebelum makan, 3). hindari bepergian ke daerah yang terkena dampak, 4). percaya pada Tuhan dan berlindung padaNya”. Selain itu menurut ISIS bahwa pandemi ini sebagai siksaan menyakitkan dari Tuhan bagi negara-negara tentara salib (istilah untuk negara-negara Barat yang terlibat kampanye militer memberantas ISIS). “Kami meminta kepada Tuhan untuk meningkatkan siksaan bagi mereka dan menyelamatkan orang-orang beriman dari semua itu, Penyakit tidak menyerang dengan sendirinya, tapi atas perintah Tuhan.

Dampak Covid-19 Terhadap Negara

Pernyataan-pernyataan ISIS terkait wabah corona ini menggambarkan bahwa bahaya covid-19 ini sudah benar-benar menghantui kehidupan manusia di seluruh dunia tanpa terkecuali, ISIS yang begitu bengis dan brutal terhadap musuh-musuhnya pun mengakui bahwa pandemic ini lebih ganas dari kelompoknya. Corona tidak butuh aliansi, koalisi, federasi atau apapun namanya untuk melumpuhkan kekuatan sebuah Negara, sebab ketika sebuah wilayah atau Negara yang terdampak wabah corona ini tidak cepat dan tepat dalam menyelesaikanya, maka akan dipastikan bukan hanya fisik warganya saja yang melemah tapi kekuatan ekonominya pun dipastikan akan melemah dan mungkin jika sudah sampai pada klimaksnya Negara atau wilayah tersebut akan bangkrut, dan tentu akan menimbulkan kekacauan juga chaos.

Jika di Suriah dan Irak merebak Covid-19

Lalu bagaimana Suriah dan Irak apakah corona sudah singgah di Negara tersebut? Kompas.com menyebutkandata dari Worldometers menunjukkan sampai Senin (16/3/2020) di Irak terdapat 124 kasus virus corona dengan 10 korban meninggal dunia, sedangkan 26 pasien sembuh. Sementara itu Suriah belum melaporkan satu pun kasus infeksi virus dengan nama resmi Covid-19 ini. Namun, ada dugaan terdapat kasus tidak terdeteksi di Suriah, karena pemerintah hanya mengendalikan sebagian negara, dan sistem fasilitas kesehatan mereka porak-poranda akibat perang saudara dan ISIS.
Ketika suatu saat wabah covid-19 ini massif di Negara Suriah dan Irak tentu akan terjadi pengalihan perhatian dan sumber daya dari yang sebelumnya perjuangan melawan ISIS menjadi perjuangan melawan wabah corona, dan tidak menutup kemungkinan akan menerapkan kebijakan-kebijakan seperti Social Distancing atau bahkan mungkin menerapkan kebijakan Lockdown, sementara kita ketahui bersama kedua negera ini masih dalam proses pemulihan baik dalam bidang keamanan maupun bidang ekonomi. Jika keadaan semakin memburuk maka hal ini bisa menjadi peluang ISIS untuk melakukan gerakan terutama dalam upaya membebaskan anggotanya yang dipenjara di Irak dan Suriah, sebab ISIS sudah membaca kemungkinan terburuk dari covid-19 ini adalah rusaknya perekonomian sebuah Negara, masih dalam bulletin Al-Naba, ISIS mengatakan bahwa wabah COVID-19 telah menempatkan dunia Barat beserta kroninya “di ambang bencana ekonomi besar” dengan membatasi mobilitas, merusak pasar dan mengganggu kehidupan public, selain itu ISIS juga menyerukan bahwa salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melarikan atau meloloskan sesama anggota ISIS, istri dan anak-anak mereka dari penjara. Hal tersebut (melarikan diri dari penjara) pernah dilakukan oleh kelompok ISIS pada bulan oktober 2019 dengan memanfaatkan momen saat pasukan Kurdi diganggu oleh serangan Turki kemudian mereka melakukan kerusuhan didalam penjara dan lebih dari 750 orang yang berhubungan dengan ISIS berhasil kabur dari kamp Ain Issa di timur laut Suriah. berangkat dari pengalaman tersebut, tentu ISIS akan memanfaatkan situasi dan kondisi dampak dari wabah corona di Suriah dan Irak, jika terjadi.

Antara Covid-19 & ISIS

Inilah dilematiknya irak dan suriah ketika suatu saat wabah corona ini massif di negaranya, antara menyelamatkan warganya dari corona ditengah keadaan Negara yang belum pulih, dengan tetap harus meningkatkan kewaspadaan terhadap gerakan ISIS.

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × two =