Bagaimana Kelompok Teroris Merekrut Anggota ??

Tragedi bom bunuh diri yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan dalih jihad memang menjadi hal yang perlu kita waspadai. Bahkan beberapa waktu yang lalu pada tragedi bom beruntun di surabaya jawa timur, diduga bom bunuh diri dilakukan oleh seorang ibu dengan membawa anak-anaknya. Hal ini semakin menambah deretan panjang pelaku bom bunuh diri di Indonesia.

Meski begitu banyak tragedi bom bunuh diri, namun nyatanya semakin banyak juga jumlah kelompok teroris. Lalu, bagaimana sebenarnya kelompok teroris ini merekrut anggota mereka ?

Bagaimana teroris merekrut anggota ?

Dalam proses perekrutan anggota, kelompok teroris bergerak di dunia maya maupun di dunia nyata. Berbagai metode dengan kedok ajaran islam menjadi sarana yang mudah untuk diserap oleh beberapa orang. Tentu saja ada beberapa kriteria dan tahapan untuk menanamkan paham radikal dalam diri seseorang.

Memang anggota kelompok teroris ini memiliki latar belakang yang berbeda, akan tetapi Jendral Tito Karnavian menegaskan bahwa seseorang yang terpapar paham radikal tidak berkorelasi dengan pekerjaan atau uang.

Tito mencontohkan kasus dokter Azhari lulusan Inggris yang terpapar paham radikal. Kemudian Osama Bin Laden pemimpin Al Qaeda berstatus orang kaya. “Ada mahasiswa dan sarjana, bisa low class sampai high class,” kata Tito dalam acara Rosi, Kompas TV, Jumat (26/5/2017).

Target sasaran kelompok teroris

Direktur Keamanan Negara Polri Komisaris Besar Djoko Mulyono membeberkan cara para teroris merekrut anggota baru menggunakan doktrin. Menurutnya, pemuda yang dalam keadaan emosional labil jadi incaran mereka.

Misalnya, kata dia, pemuda yang tidak tinggal bersama keluarga atau mempunyai banyak masalah dalam kehidupan. Selain itu, orang yang mempunyai kekecewaan besar terhadap negara dan atau pemerintah juga rentan dipengaruhi doktrin radikal (CNN indonesia).

Tito Karnavian juga menuturkan bahwa seseorang yang bisa direkrut harus orang yang cenderung mudah menerima sesuatu bukan orang yang pendiam ataupun orang yang terlalu kritis.

Dalam acara Rosi, Kompas TV, Jumat (26/5/2017). Tito mencontohkan pelaku bom di Kedubes Australia, Heri Kurniawan atau Heri Golun secara psikologis pendiam dan intelektual kurang. Jenderal bintang empat itu mengaku sempat bertanya kepada kelompok teroris dalam perekrutan anggotanya. Ada masyarakat yang juga tidak dapat direkrut kelompik teroris.

“Saya tanya kepada orang itu kenapa tidak mau ikut kelompok (teroris), saya (orang yang akan direkrut) tanya ini itu tidak memuaskan. Saya tanya yang rekrut juga begitu, dia (target masyarakat) cerewet sehingga (kelompok teroris) mencari yang lain,” kata Tito.


Metode perekrutan

1. Pengajian

Djoko Mulyono Direktur Keamanan Negara Polri Komisaris Besar mengatakan metode perekrutan gerakan radikal yang mengklaim berbasis ajaran islam kerap bermula dengan pengajian-pengajian.

“Dimulai dengan pengajian, mereka bicara masalah kaidah, biasa. Cuma dalam ceramah itu kan ada tanya jawab. Ketika ada pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan bisa dipengaruhi paham radikal, mereka tandai,” kata Djoko dalam seminar kontra-radikalisme di Jakarta, Senin (22/8).

Djoko menuturkan setelah kelompok radikal menemukan kriteria orang-orang tersebut (orang yang mempunyai kekecewaan besar terhadap negara dan atau pemerintah), maka tahap perekrutan lebih lanjut akan dimulai.

2. Media Social

Dilansir dari nsdailynews.com, mereka mengungkap bagaimana ISIS menggunakan internet untuk perekrutan anggota baru.

Alasannya tentu karena internet merupakan sesuatu yang digunakan hampir seluruh orang di dunia. Ditambah pengguna berkemungkinan besar menggunakan internet tanpa adanya pengawasan ataupun filter.

Kelompok teroris ini mereka tahu cara menggunakan berbagai kanal internet untuk setiap aspek operasinya, dari rekrutmen hingga penggalangan dana, operasi hingga propaganda. ISIS menggunakan media sosial seperti YouTube, Facebook, dan Twitter untuk menyebarkan paham radikal ke individu di seluruh dunia.

ISIS memiliki ribuan kanal media online maupun media sosial yang aktif menyebarkan konten-konten ekstrem setiap harinya. Bahkan mereka bisa memproduksi video dengan kualitas tinggi, visual yang menarik dan musik yang bagus.

Mereka tahu cara menyampaikan pesan, juga menyandingkan pejuang/mujahidin yang tampak tangguh dengan gambaran perjuangan membela islam. Mereka membuat ‘perjuangan’ terlihat menyenangkan, dan menarik bagi pengguna online.

ISIS juga menggunakan aplikasi pesan terenkripsi untuk menyebarkan propaganda dan menjadi alat komunikasi bagi calon anggota ISIS,

Promotor ISIS di media sosial akan mengirimkan informasi kontak untuk perekrut ISIS, yang akan memeriksa calon anggota dan mengirimnya ke saluran. Seorang calon anggota yang tertarik dengan ISIS mungkin dihubungi oleh perekrut ISIS. Kemudin dia akan memberitahunya untuk terbang ke suatu tempat.

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 − 6 =