Perbedaan dalam Bingkai “Bhinneka Tunggal Ika”

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, dengan ribuan pulau di dalamnya. Indonesia juga lahir dari keberagaman yang dibingkai dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Perbedaan ras, suku, budaya, bahasa dan agama menjadi simbol kekuatan sekaligus kekayaan yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar dan bermartabat di mata dunia.

Generasi muda dan masyarakat, sebagai pondasi bangsa sangat penting untuk dapat memahami keberagaman di Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Bhinneka Tunggal Ika sendiri merupakan pernyataan komitmen bangsa Indonesia terkait keberagaman yang ada di masyarakat. Secara harfiah, semboyan tersebut berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Keberagaman kebudayaan masyarakat Indonesia juga tercermin dalam berbagai bentuk kebudayaan, baik yang sifatnya abstrak maupun yang bersifat kebendaan.

Dalam menjaga kerukunan, persaudaraan dan keutuhan bangsa ini, kita harus memahami lebih mendalam makna toleransi. Dalam Islam, toleransi didefinisikan dengan tasamuh, yang berarti sebagai sifat atau sikap menghargai, membiarkan, membolehkan pendirian (pandangan) orang lain yang bertentangan dengan pandangan kita. Secara prinsip metodologi toleransi adalah penerimaan terhadap yang tampak sampai kepalsuannya tersingkap.

baca juga: Mengatasi Pecah Belah Akibat “ISTILAH”

Jika toleransi adalah hal yang selalu di gadang-gadang sebagai pondasi persatuan dan kesatuan yang telah menjadi karakteristik masyarakat kita, maka seyogyanya masyarakat kita harus cerdas dalam menerima perbedaaan yang ada. Baik perbedaan agama, budaya, ras bahkan pendapat, serta tidak mudah menyebar dan menelan secara mentah berita yang mengandung unsur intoleransi.

Kita selaku masyarakat Indonesia yang bermartabat maka harus menjunjung tinggi pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Dimana sila-silanya menghargai dan menghendaki toleransi antar sesama umat beragama dan bermasyarakat. Dengan menghayati setiap sila dalam pancasila, maka pasti tidak akan ada yang namanya egoisme antarsuku, ras dan agama serta tidak akan terjadi konflik antar etnis dan agama yang dapat membahayakan kehidupan bernegara dan keamanan nasional, baik internal maupun eksternal.

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

seventeen − 8 =