Eks Teroris yang Kembali pada NKRI

Whatsapp Pinterest LinkedIn Tumblr +

Secara harfiah, terorisme merupakan tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan atau menimbulkan ketakutan atau ancaman. Tindakan terror ini banyak dilakukan dengan tujuan untuk menyingkirkan lawan politik atau hanya sekedar menunjukan eksistensi sebuah kekuatan yang dimilikinya. Terorisme merupakan kejahatan kemanusiaan. Tidak ada aturan yang membenarkan tindakan terorisme, di negara manapun.

Sejarah mencatat kelompok radikal Islam di Indonesia dipelopori oleh seorang tokoh yang bernama Kartosuwiryo. Ia adalah pemimpin kelompok Negara Islam Indonesia (NII) yang memiliki tujuan menjadikan Indonesia menjadi Negara Islam atau negara yang berasaskan pada syareat Islam. Kelompok ini terus mengalami regenerasi dan pembaharuan. Setelah kepemimpinan Kartosuwiryo berakhir karena dieksekusi aparat, kemudian kelompok NII ini terpecah menjadi beberapa kepemimpinan diantaranya adalah Kahar Muzakar, Daud Beurueh dan Mbah Gaos. Lalu di era tahun 1970an diteruskan oleh Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir, dan pada tahun 1990an kemudian dipersatukan kembali oleh Ajengan Masduki. Pada bulan Februari 1993 Jama’ah Islamiyah (JI) dibentuk, kelompok ini kemudian terbagi menjadi dua gerakan, yang pertama fokus perang gerilya dan yang lainya fokus melakukan tindakan teror, kelompok yang terahir ini berafiliasi dengan Osama Bin Laden dengan Al-Qaedanya, sampai kemudian pecah kongsi lagi, antara yang berafiliasi dengan Al-Qaedah dan yang berafiliasi terhadap ISIS.

Di era orde baru kelompok ini beberapa kali melakukan teror, diantaranya adalah melakukan pembajakan pesawat Garuda Indonesia di tahun 1981 dan Bom Borobudur pada tahun 1985. Lalu kelompok ekstrimis ini kembali menunjukan taringnya dengan masif pada era pasca reformasi 98, dimulai pada tahun 2000 dengan melakukan pengeboman di beberapa kedutaan besar Negara sahabat, termasuk pengeboman gedung bursa efek Jakarta dan pengeboman beberapa gereja dimalam natal tahun 2000. Teror yang paling menyedot perhatian dunia adalah pengeboman yang terjadi di bali pada 12 oktober 2002, terror bom ini menewaskan 200 orang lebih, sebagian besar korban merupakan warga negara asing. Bom meledak di tiga tempat dalam satu malam, dua ledakan pertama terjadi di Paddy’s Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan terakhir terjadi di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat. Serangkaian teror bom terus dilakukan oleh kelompok ekstrimis ini hingga tahun 2019.

Dalam catatan BNPT, ada kurang lebih 2000 orang yang sudah ditangkap terkait tindakan terorisme dari tahun 2000 sampai tahun 2019, dengan vonis hukuman yang berbeda-beda, mulai dari masa hukuman tahunan, seumur hidup, sampai hukuman mati (beberapanya sudah di eksekusi), namun ada juga yang sudah dikembalikan ke masyarakat setelah melalui proses Deradikalisasi.

Mereka yang sudah ditangkap terkait tindakan terorisme dan kemudian di vonis oleh negara tidak serta merta memberikan efek jera kepada para pelaku tindak pidana terorisme tersebut, sehingga mereka kemudian kembali terlibat dalam tindak pidana terorisme, seperti halnya Abu Bakar Ba’asyir dan Aman Abdurahman keduanya sempat menjalani hukuman penjara karena keterlibatannya dalam tindak pidana terorisme, lalu bebas kemudian terlibat lagi dan dipenjara lagi, mungkin bukan hanya Abu Bakar Ba’asyir dan Aman Abdurahman saja yang keluar masuk penjara dengan kasus yang sama, para penganut faham takfiri ini enggan mengakui kedaulatan negara kesatuan republik Indonesia, sehingga mereka terus memerangi bangsa ini yang menurut mereka adalah toghut, namun tidak sedikit pula yang setelah menjalani proses hukuman kemudian menyadari kesalahanya (bertaubat) dan terlibat dalam proses deradikalisasi, diantaranya adalah :

  1. Ali Imron
    Ali Imron adalah bomber bom Bali. Ia dipidana seumur hidup oleh pengadilan karena dianggap ikut merencanakan dan meledakkan bom di Legian, Kuta, Bali. Kini ia aktif dalam program deradikalisasi dan membantu kepolisian untuk membongkar kasus-kasus terorisme di Indonesia
  2. Abdurrahman Ayub
    Dia adalah alumni Majelis Terorisme Afganistan. Pernah menjabat sebagai Penasihat Gubernur IV Jemaah Islamiyah (JI) dari Australia. Setelah keluar dari JI, Ayub bergabung dengan Lembaga Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai pakar. Rekan-rekannya dari jaringan Jamaah Islamiyah masih saja sering melancarkan teror dan kecaman kepadanya dan keluarganya, ia meninggal dunia jumat 7 desember 2018 di RS. Fatmawati pada usia 55 tahun.
  3. Sofyan Tsauri
    Ia adalah memasok senjata ke kelompok Dulmatin. Dulmatin sendiri menjadi buronan internasional sebelum tewas dalam penggebrekan di Pamulang, Tangerang Selatan, pada 9 Maret 2010. Sebelum terlibat dalam jaringan terorisme ia adalah seorang anggota Polri. Sofyan sempat dijatuhi hukuman penjara 10 tahun penjara, awal 2011. Dia hanya menjalani setengah dari vonis dan dibebaskan awal 2016. Kini ia sudah tak lagi terlibat jaringan radikal. Kini ia aktif dalam program pemerintah deradikalisasi.
  4. Nasir Abbas
    Ia adalah guru dari Imam Samudra serta guru dari para teroris lainnya di Asia. Ia banyak menciptakan camp latihan bagi para pemuda. Kini membantu BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme).

Selain ke empat orang tersebut, tentu masih banyak lagi orang-orang yang sudah menyadari kesalahannya (taubat) terhadap tindakan terorisme dan kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Ada beberapa hal yang membuat para kombatan ini bertaubat, menurut mereka yang melatar belakangi pertaubatanya adalah pertama menyadari kesalahanya dalam menerapkan konsep jihad di Indonesia, kedua adanya masyarakat sipil yang tidak bersalah menjadi korban atas tindakan terorisme, mereka sangat menyesal dan merasa berdosa ketika bertemu dengan para korban yang mengalami cacat permanen dan orang-orang yang kehilangan anggota keluarganya (meninggal) lalu mau memaafkan tindakan mereka dan yang ketiga adalah soal bagaimana pertanggung jawaban mereka di akhirat kelak.

“Sifat intoleran adalah pintu gerbang menuju tindakan ekstrimisme dan terorisme”

Share.

Leave A Reply

two + four =