Faktor Penyebab Orang Bergabung dengan Kelompok Teroris

Terorisme merupakan tindakan yang bertolak belakang dengan kemanusiaan. Mayoritas Negara di belahan dunia menutup ruang gerak kelompok ini. Namun pada kenyataanya anggota dari kelompok teroris ini banyak menyebar di beberapa Negara dan melakukan gerakan teror di Negara tersebut. Di Indonesia misalnya, hampir dari tahun ke tahun tidak pernah absen dari aksi teror yang dilakukan kelompok radikal.

Secara keanggotaan, kelompok ini tidak pernah habis meskipun aparat keamanan terus melakukan penangkapan terhadap mereka. Ibarat jamur di musim penghujan, mereka terus tumbuh. Lalu faktor apa yang menyebabkan seseorang kemudian mau terlibat dalam jaringan terorisme?

Ada beberapa faktor yang membuat seseorang kemudian terlibat dalam jaringan terorisme, tetapi antara satu individu dengan individu lainnya bisa dimungkinkan memiliki faktor yang berbeda yang melatarbelaknginya. Yang membedakan faktor tersebut bisa saja faktor usia, faktor ekonomi, faktor keluarga, faktor pergaulan sosial dan tentu factor dasar keagamaan yang dipelajari.

Faktor yang paling sering disebutkan oleh para pakar dan ahli terkait terorisme adalah faktor kemiskinan dan kebodohan. Kedua faktor ini dianggap menjadi faktor dominan yang menyebabkan orang terjerumus dalam lembah terorisme, karena kedua factor ini adalah factor dasar yang memicu orang melakukan tindakan kriminal.

Namun kenyataannya, tidak sedikit pula kelompok teror yang ternyata berangkat dari ekonomi yang mapan dan memiliki latar  belakang pendidikan yang mumpuni, lalu bergabung dengan kelompok teroris, bahkan kekuatan ekonomi dan kekuatan keilmuannya kemudian dicurahkan untuk gerakan terorisme. Semisal Noordin M Top dan dr. Azahari. Kedua gembong teroris ini memiliki latar belakang pendidikan yang mumpuni, Noordin pernah kuliah di Universitas Teknologi Malaysia, ia ahli merakit bom dan ahli dalam merekrut orang untuk dijadikan pelaku bom, sementara dr. Azahari bin Husin adalah seorang dosen di Universitas Teknologi Malaysia dan memiliki gelar Ph,D yang diperoleh dari Universitas Reading di Inggris. Misal yang lain adalah Bahrun Naim. Ia adalah lulusan program D-3 Jurusan Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) di Universitas Sebelas Maret (UNS), sebuah universitas negeri yang berada di Solo. Dari ketiga gembong teroris tersebut bisa dikatakan bahwa kemiskinan dan kebodohan bukan pangkal faktor dari adanya terorisme.

Baca Juga : https://carubannusantara.or.id/profil-bahrun-naim/

Dari fenomena tersebut akhirnya muncul dua klaster atau kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok yang secara sadar dan memiliki hal prinsipil mengenai ajaran atau ideology di dalam kelompok teroris. Kelompok pertama ini diisi oleh orang-orang yang memiliki keilmuan lebih, bahkan biasanya cenderung berperan menjadi konseptor dan propagandis.

kelompok kedua adalah mereka yang bergabung tapi tidak memiliki pondasi yang utuh  mengenai konsep ideology kelompok teroris. Orang-orang yang berada di kelompok kedua ini lebih banyak di isi oleh orang yang kecewa terhadap situasi dan kondisi diri sendiri, lingkungan dan Negara. Peran kelompok yang kedua ini biasanya menjadi pelaku teror, pengumpul dana dan kurir.

Dari kedua klaster atau kelompok ini ada titik temu faktor yang membuat keduanya melakukan teror atau gerakan inskonstitusional, yaitu sebuah keinginan tentang tatanan kehidupan yang sesuai dengan falsafah dari konsep yang ada dalam benak mereka, untuk mewujudkannya mereka harus melakukan langkah-langkah perlawanan terhadap negara atau pemerintahan yang di anggap oleh mereka sebagai musuh dan dianggap menghalang-halangi terwujudnya impian mereka dengan melakukan teror dan sebagainya.

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 − seven =