Selamatkan Generasi Bangsa dari Fenomena Lone Wolf

Istilah lone wolf pertama kali dipopulerkan oleh advokat supremasi, Alex Curtis dan Tom Metzger pada 1990-an. Secara umum, istilah lone wolf digunakan untuk membedakan serangan yang dilakukan oleh individu dengan yang terkordinasi dalam kelompok besar.

Metzger menggambarkan lone wolf sebagai pejuang yang beraksi sendirian atau seseorang dalam kelompok kecil yang menyerang dan menargetkan pemerintahan.

Para pelaku teror perorangan itu umumnya adalah anak-anak muda yang telah mengalami proses radikalisasi akibat menyerap beragam informasi tentang ideologi ekstrem dari banyak situs dan media sosial yang bertebaran di jejaring internet.

Hasil studi Kumar Ramakrishna (2014) menegaskan hal itu. Menurut akademikus Universitas Teknologi Nanyang, Singapura, setidaknya ada 6.000 situs ekstrim dan jumlahnya diperkirakan meningkat dari waktu ke waktu sehingga diperlukan solusi kreatif untuk mengatasi fenomena lone wolf.

baca juga: 3 Langkah Menghindari Kepalsuan Hijrah

Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar mengingatkan akan bahaya radikal terorisme sebagai kejahatan serius yang membutuhkan kewaspadaan dan sentuhan seluruh pihak untuk menanggulanginya. Fakta akan masifnya pergerakan dan propaganda kelompok teror di dunia maya berimplikasi pada infiltrasi nilai radikal hingga bermunculan fenomena lone wolf. Hal itu disampaikan Boy Rafli saat melaksanakan dialog bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Sumatera Utara.

Kita tidak boleh membiarkan anak muda mengalami disorientasi informasi, di mana mereka kehilangan arah karena upaya dari kelompok radikal sekarang dari jarak jauh atau dunia maya. Ini menjadi kerentanan yang kita harus hindari. Generasi muda harus bisa membedakan mana yang terorisme mana yang amar ma’ruf nahi munkar.

Untuk mencegah dan melawan gerakan-gerakan teroris yang mampu mencuci otak melalui media internet maka dalam hal ini BNPT memiliki program kontra radikalisasi melawan propaganda di dunia maya. Mengingat pentingnya penyebarluasan informasi di media sosial sehingga diperlukan juga terlibat dalam literasi dan edukasi yang sepadan, secara maksimal terhadap pengguna media sosial guna meminimialisir informasi keliru di dunia maya.

Cara menangkal pengaruh Lone Wolf

Kepala pusat riset kajian terorisme Benny Mamoto menyatakan bahwa untuk mencegah fenomenal lone wolf ada beberapa hal yang mampu menangkal hal tersebut yakni:

  1. Keluarga Jika dari kecil seseorang sudah diajari tentang bahaya terorisme dan dididik untuk jadi nasionalis, maka tidak akan mudah  terbujuk oleh kaum radikal. Karena mereka tahu beda antara radikalisme dengan kelompok ormas biasa. Edukasi di keluarga sangat penting, karena keluarga adalah lingkungan paling awal manusia, ketika dewasa anak  akan tahu mana yang benar dan mana yang salah. Seorang anak tentu akan mempercayai omongan ibunya. Jadi sang ibu juga harus mengajarkan rasa kebangsaan dan melarang anak untuk mengikuti ajaran radikalisme.
  2. Edukasi di lingkungan sekolah dan sipil sangat perlu dalam mengurangi fenomena lone wolf di Indonesia, ketika sudah tersosialisasi, masyarakat akan paham mana saja yang termasuk kelompok teroris. Ketika ada kelompok yang mencurigakan, mereka jadi tanggap dan menelepon pihak berwajib agar menyelidikinya. Untuk melakukan edukasi tentang anti radikalisme di sekolah, maka para guru bisa mengajarkan murid untuk memiliki rasa nasionalisme. Dengan mengajak ke museum atau taman makam pahlawan. Murid diceritakan tentang sejarah perjuangan pahlawan. Sehingga tahu bahwa kemerdekaan adalah hasil dari banyak pihak, bukan satu agama tertentu.

Dalam, Al Quran Surat Al Maidah Ayat 32 menegaskan bahwa “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya …”

Syaikh Muhammad Sayyid Thanthawy dari Mesir termasuk kalangan ulama besar Dunia Islam yang mengutuk pembunuhan terhadap warga sipil dalam serangan terhadap Amerika Serikat pada 11 September 2001 (Kurzman 2001).

Ulama besar Mesir ini, seperti dikutip Charles Kurzman dalam tulisannya “Understanding the Attack on America” (2001), menegaskan bahwa menyerang orang-orang yang tak bersalah itu adalah tindakan pengecut dan bodoh, dan pelakunya akan dihukum di Hari Pembalasan.

Namun, seperti banyak negara lain, Indonesia pun tak memiliki pilihan lain kecuali berupaya menyelamatkan generasi mudanya dari bahaya radikalisasi mengingat mereka adalah generasi millenial yang rentan terhadap tipu daya agenda penyokong radikalisme di era digital ini.

Sinergitas orang tua, guru, pemerintah dan lingkungan sangatlah penting guna menangkal fenomena lone wolf yang bisa menyerang anak-anak kita.

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 − seven =