Historisasi Radikalisme di Indonesia

Salah satu keberhasilan terbesar negara Indonesia, dalam membangun negara yang adil dan makmur adalah menyejahterakan semua agama yang berdasarkan UUD 1945 pasal 29 yang menyatakan bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanaya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.

Walaupun negara Indonesia mayoritas beragama islam, hal itu tidak menjadi acuan atupun masalah yang mengakibatkan perpecahan masyarakat, sebab salah satu yang mendasari keberhasilan negara Indonesia adalah semboyannya. Bhinekan tunggal ika yang berarti “berbeda-beda tetap satu.

Namun sangat disayangkan dengan pekembangan zaman dan tuntutan stratifikasi sosial ditengah masyarakat Indonesia yang begitu luas, maka muncullah sakte-sakte, aliran-aliran, dan  mazhab-mazhab yang mengatasnamakan islam berkembang pesat sesuai dengan latar belakang kebudayaan dan kondisi alam yang eksis didaerah penganutnya.

Setelah hadirnya orang-orang Arab muda dari Hadramaut Yaman ke Indonesia yang membawa ideologi baru ketanah air, turut mengibah pandangan masyarakat Indonesia. Ideologi baru yang mereka bawa lebih keras, dikarenakan pada dasarnya mereka mengikuti mazhab maliki yang diadopsi dan diintrodusir oleh Muhammad bin Abdul Wahab atau yang  sering di sebut aliran yang di ajarkannya adalah Wahabi yang saat ini menjadi idelogi resmi peerintah Arab Saudi yang menjadi cikal bakal adanya radikalisme di Indonesia.

baca juga: Islam, Adzan dan Terorisme

Ibnu Qayyim al-Juziyah menegaskan bahwa ada empat dimensi didalam memberikan solusi kemungkaran atau radikalisme: pertama menyingkirkan kemungkaran dan menggantikannya dengan kema’rufan; kedua, menyingkirkan dengan menguranginya walaupun tidak menghapuskan secara keseluruhan; ketiga, menyingkirkan kemungkaran dengan memunculkan serupa; dan keempat, menyingkirkan kemungkaran dengan kemungkaran lebih jahat dari padanya. Dengan demikian dapat dicermati bahwa dimensi pertama dan kedua merupakan penanggulangan radikalisme yang disyari’atkan. Sementara dimensi ketiga merupakan penanggulangan radikalisme ijtihadi. Sedangakn dimensi keempat merupakan penanggulangan radikalisme yang diharamkan.

Dalam catatan sejarah radikalisme di Indonesia semakin berani menampakkan keeksistensiannya pasca kemerdekaan hingga pasca reformasi. Pada tahun 1950-an dibawah kepemimpinan Karto Suwirjo berdirilah Darul islam (DI). Sebuah gerakan politik yang mengatasnamakan agama, justifikasi agama dan sebagainya. Dalam sejarah gerakan ini dapat digagalkan, akan tetapi muncul lagi pada saat kepemimpinan presiden Soeharto, hanya saja kemunculan gerakan ini melalui intelijen yang dipelopori oleh Ali Moertopo dengan Opsusnya.

Setelah DI muncul, muncul komando jihad (Komji), pada tahun 1976, kemudian meledakkan tempat ibadah. Pada tahun 1977, Front Pembebasan Muslim Indonesia melakukan hal sama. Dan tindakan teror oleh para pejuang revolusioner Islam, 1968. Tidak lama kemudian, setelah pasca reformasi muncul lagi gerakan beraroma radikal yang dipimpin oleh Azhari dan Nurdin M. Top dan gerakan-gerakan radikal lainnya yang bertebaran di beberapa wilayah Idonesia.

Seperti Poso, Ambon dan yang lainya.Semangat radikalisme tentu saja tidak luput dari persoalan politik. Persoalan politik memang sering kali menimbulkan gejala-gejala tindakan yang radikal. Sehingga berakibat pada kenyamanan umat beragama yang ada di Indonesia dan berbagai ragamnya.

Indonesia yang merupakan negara dengan komunitas Islam terbesar di dunia seringkali harus menjadi “tertuduh”. Pengaitan-pengaitan peristiwa peledakan bom di tanah air dan dunia hampir selalu dikaitkan dengan fundamentalisme Islam. Contoh paling dekat misalnya pada peristiwa bom Boston Marathom. 15 April 2013 yang serta merta diakitkan dengan gerakan fundamentalisme Islam.

Fenomena ini seolah mengingatkan kembali peristiwa bom WTC yang amat mengharu biru itu. Presiden Amerika saat itu, George W. Bush, langsung menyebut Osama bin Laden sebagai representasi umat Islam yang dituding menjadi dalang. Pernyatan serupa juga pernah dilontarkan oleh Dubes Amerika, Ralp Boyce yang secara spontan menuduh jaringan Al-Qaidah berada di balik teror bom Bali. Ralp Boyce bahkan mengangap keberadaan terorisme internasional itu berada di Indonesia.

Munculnya radikalisme di Indonesia itu disebabkan tiga faktor mendasar, yaitu faktor pertama adalah pekembangan di tingkat global, dimana kelompok radikal menjadikan situasi di Timur Tengah sebagai inspirasi utuk mengangkat senjata dan aksi teror. Seperti di wilayah Irak, Yaman dan Syiria. Adapun faktor kedua adalah semakin besarnya paham Wahabisme yang menganut budaya Islam ala Arab yang konservatif. Sementara faktor ketiga adalah karena kemiskinan, walaupun hal ini tidak terjadi secaa langusung terhadap merebaknya radikalisme.

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 − seven =