Hukum mengganti lafadz Adzan

Belakangan ini banyak beredar Vidio yang berisi sekelompok orang mengumandangkan lafadz yang biasa digunakan untuk adzan, dalam video itu ada sekelompok orang yang bahkan sambil mengacungkan senjata, seakan akan mereka benar-benar akan berperang. Lalu apa hukum mengganti lafadz Adzan tersebut?

Adzan dari sisi  bahasa berarti pemberitahuan secara istilah adzan adalah pemberitahuan masuknya waktu sholat dengan lafadz-lafadz khusus (Badzlul Majhud fi hilli Abi Dawud Juz 4 hal 3, Syaikh Kholil Ahmad Al-Saharonfuri, dar kutub al alamiyah).

baca juga: Poso Menjadi Tanah Jihad Bagi Teroris

Adzan merupakan lafadz yang memiliki urutan tertentu yang bersumber dari ketetapan/persetujuan Nabi (Hadits Taqriri), sehingga lafadz adzan adalah merupakan lafadz baku yang tidak bisa di ganti tanpa ada dalil yang memperbolehkannya.

Diantara dalil yang membolehkan mengganti lafadz adzan adalah adanya udzur seperti hujan, atau suhu dingin yang menyebabkan seseorang susah untuk datang kemasjid, maka muadzin boleh mengganti  حي على الصلاة  diganti dengan  صلوا فى بيوتكم  atau lafadz yang sejenis lainnya. (Syarah Shohih Muslim li Qodhi Iyadh Juz 3 hal 22, Darul Wafa).

Dari dalil-dalil itulah kemudian ulama fiqih kontemporer membolehkan pelafadzan صلوا فى بيوتكم ketika terjadi pandemi Covid-19, sebagai pemberitahuan agar masyarakat tetap sholat dirumah masing-masing.

Mengganti lafadz adzan tanpa dasar yang dibenarkan

Hukum mengganti lafadz adzan dengan  lafadz yang tidak ada dasar yang menguatkannya hukumnya makruh bila penambahan itu tidak menghilangkan lafadz aslinya, namun jika penambahan itu sebagai ganti dari lafadz aslinya maka hukumnya haram sebagaimana di jelaskan dalam kitab Tuhfatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj hal 467.

ويكره فى غير الصبح كحي على خير العمل مطلقا فان جعله بدل حيعلتين لم يصح اذانه

Dimakruhkan (membaca Asholatu Khoirun minannaum)  diluar sholat subuh, seperti makruhnya menambahkan lafadz Hayya ala khoiril ‘amal secara mutlak (baik di adzan sholat subuh maupun sholat lainnya) hal itu jika tidak mengganti hayalatain, jika mengganti maka tidak sah adzannya, dalam hasyiyah Tyhfatul Muhtaz dijelaskan bahwa tidak sah adzan itu menunjukkan haramnya penggantian lafadz adzan.

Makruh itu tentu jika tidak ada maksud menjadikan Adzan sebagai bahan lelucon atau profokasi, jika kemudian penggantian itu diniatkan sebagai alat profokasi agar banyak orang melakukan tindakan makar maka tentu lebih haram lagi, bahkan jika dimaksudkan sebagai lelucon hal ini bisa mengarah pelakuknya menjadi kufur wal iyadz billah.

Apapun alasannya penggantian lafadz Hayya alasholah menjadi Hayya ‘alal Jihad adalah salah dan jika dibiarkan akan menjadi preseden buruk bukan saja pada kesakralan agama namun juga bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Avatar
Abdul Hadihttps://carubannusantara.or.id/
Seorang Pelajar, yang selalu berusaha belajar

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

thirteen − 12 =