Ibnu Muljam: Pembunuh Ali bin Abi Thalib RA

Whatsapp Pinterest LinkedIn Tumblr +

Nilai-nilai luhur ajaran Islam seringkali dicoreng oleh sekelompok orang yang memiliki pemahaman sempit tentang ajaran syari’at Islam namun begitu keukeuh berpegang teguh dengan pemahamannya yang keliru tersebut. hal ini tidak hanya terjadi pada masa kini, namun sudah ada semenjak Islam lahir dengan nama-nama aktor seperti Dzul Khuwaisiroh, Ibu Muljam dan lainnya. Tulisan kali ini mencoba menghantarkan pembaca untuk mengenal Ibnu Muljam pembunuh Ali Bin Abi Thalib yang termotifasi oleh pemahan yang salah terhadap Al-Qur’an.

Ibnu Muljam bernama asli Abdurrahman bin Amr bin Muljam bin Maksyuh bin Nafr bin Kildah bin Humair. (Jumalun min Ansabil Asyraf; Muhammad bin Yahya Al Baladhuri; Daarul Fikr; Juz 3 hal 250).

Ibnu Muljam adalah salah satu murid Sahabat Agung Mu’adz bin Jabal ra, ia berguru dan menghafal Al-qur’an kepada Muadz bin Jabal  dan senantiasa membantu Muadz bin Jabal sepanjang hidup Muadz ra.

Ahli Ibadah

Ibnu Muljam dikenal ahli Ibadah dan banyak melakukan shalat sunah sampai-sampai jidatnya ada tanda gosong dampak banyaknya sujud. Ia juga ahli Al-Qur’an Penguasan Ibnu Muljam terhadap ilmu al-qur’an membuatnya terpilih sebagai orang yang secara husus di utus oleh Khalifah Umar bin Khattab untuk mengajarkan Al-Qur’an di Mesir atas permintaan Amr bin Ash yang menjadi gubernur disana.

Amr bin Ash berkirim surat meminta kepada Khalifah Umar untuk dikirim orang yang paling Ahli al-qur’an. (lisanul mizan; Ibn Hajar al Asqalany; Juz 5 hal 141; Al Matbu’at Al Islamiyah)

Sepuluh orang terbaik

Pasca syahidnya  Utsman bin Affan ra, Sayyidina Ali ra, di paksa oleh segenap kaum muslimin untuk dibaiat sebagai khalifah, awalnya beliau menolak, namun atas desakan kaum muslimin akhirnya beliau bersedia di baiat dengan catatan pembaiatan dilakukan secara terbuka di masjid.

Setelah pembaiatan, Ali bin Abi Thalib segera mengirim surat ke para gubernur yang diangkat oleh Utsman bin Affan ra di berbagai daerah, ada yang beliau gantikan ada juga yang beliau teruskan jabatannya, salah satu yang ditetapkan meneruskan jabatannnya sebagai gubernur adalah Habib bin Al Muntajib.

Ali ra mengirim surat kepada habib yang berisi perintah untuk mengambil baiat kepada seluruh penduduk Yaman, jika penduduk Yaman sudah melakukan pembaitan Habib bin Al Muntajib diperintahkan untuk memilih sepuluh orang terbaik di Yaman untuk membantu tugas-tugasnya.

Setelah penduduk Yaman berbaiat untuk Ali ra, selanjutnya Habib menyeleksi secara ketat untuk mendapatkan sepuluh orang paling berani, paling bertaqwa dan paling berkualitas sesuai petunjuk Ali bin Abi Thalib ra, salah satu yang terpilih adalah Ibnu bin Muljam. (Biharul Anwar; Al Majlisi; Jilid 42 hal 259)

Dalam peristiwa perang Shiffin kelompok Ali bin Abi Thalib ra bersedia menerima ajakan damai (tahkim) yang digagas kubu Mu’awiyah melalui Amr bin Ash, keputusan inilah yang membuat Sebagian pasukan Ali bin Abi Thalib ra tidak terima, mereka beranggapan bahwa menerima tahkim adalah dosa yang menjadikan pelakunya kufur, mereka ini kemudian dijuluki sebagai kaum Khowarij. (syiroh Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib; Ali Muhammad Muhammad Al Sholaby; Muasasah Iqra hal 505)

Pembunuh Ali Bin Abi Thalib itu al Al-quran yang Salah memahami Al Qur’an

Kelompok Khowarij lah yang kemudian merencanakan pembunuhan terhadap tiga tokoh utama yang terlibat dalam peristiwa tahkim yang oleh mereka dianggap sebagai pemimpin dzalim, mereka sepakat untuk berbagi tugas eksekusi  Ibnu Muljam bersedia mengeksekusi Ali ra, Al barrak memilih Mu’awiyah sebagai sasarannya sedangkan Amr bin Bakr  memilih Amr bin Ash sebagai sasaran eksekusinya. (Al Bidayah Wannihayah; Ibn Katsir; Al Ma’arif; Juz 7 Hal 327).

Waktu subuh 17 ramadhan, Ketika Ali ra menyerukan kaum muslimin untuk melaksakana sholat subuh, saat beliau memasuki pintu masjid, Ibnu Muljam menghunjamkan pedangnya yang sudah dilumuri racun persis di kepala Ali bin Abi Thalib ra, beliau terluka parah dan dibawa pulang kerumah sementara Ibnu Muljam ditangkap dan dimasukkan penjara.

Sebelum wafat Sayidina Ali berwasiat jika beliau hidup maka beliau sendiri yang akan menghukumnya dan jika beliau meninggal maka Ibnu Muljam di hukum Qishas dan beliau melarang hukuman yang berlebihan.

Dua puluh satu Ramadhan Ali ra wafat sebagai Syahid selanjutnya Ibnu Muljam di eksekusi Qishas oleh putra tertua Ali yaitu Hasan bin Ali sesuai wasiat Ali bin Abi Thalib ra. (Siroh Amirul Mu’minin; 777)

Ibnu Muljam adalah gambaran bahwa Pemahaman agama yang keliru dan dijadikan sebagai satu-satunya kebenaran mutlak selalu saja menjadi alat legitimasi tindakan biadab dan terosime atas nama agama, oleh karenanya penting bagi kita untuk memahami ajaran agama secara tepat.

baca juga: https://carubannusantara.or.id/jejak-awal-faham-radikal/

Share.

Leave A Reply

five × three =