Ikhwanul Muslimin – Lahir Untuk Menekan Hegemoni Barat

Salah satu organisasi Islam tertua di Mesir yang dikenal nama “Ikhwanul Muslimin” (IM) lahir sebagai gerakan sosial untuk membangkitkan kejayaan muslim. Hasan Al-Banna membentuk IM karena menurutnya, Islam mengalami ketertinggalan peradaban dengan Barat. Ia berusaha membangun kembali dominasi Islam dan menggulingkan kekuasaan kolonial. Karena pada saat itu, Mesir berada dalam kekuasaan kolonialisme Inggris. Namun, dalam perjalanannya IM melakukannya dengan gerakan politik ekstrem sampai pembunuhan.

Sejarah Ikhwanul Muslimin

Tahun 1928 di sebuah kota bernama Ismailiyah, Mesir, Hasan Al-Banna beserta enam tokoh lain yaitu: Hafiz Abdul Hamid, Ahmad al-Khusairi, Fuad Ibrahim, Abdurrahman Hasbullah, Ismail Izz, dan Zaki al-Maghribi, mendirikan sebuah organisasi yang bertujuan untuk kebangkitan Islam dan menyatukan seluruh umat muslim. Faktor lain yang mendorong Al-Banna mendirikan organisasi Islam adalah tergerusnya kultur budaya mesir dengan budaya barat (baca: kebarat-baratan). Hal itu karena ketika ia menjadi staf pengajar sekolah dasar di Ismailia, dan Ismailia adalah pusat urusan Terusan Kanal oleh pemerintah Mesir, pengaruh asingnya kuat, terutama dari Inggris yang sedang melaksanakan proyek kolonialismenya.

Berbeda dengan Hizbut Tahrir yang ingin menegakkan sistem khilafah, IM sendiri mengaku bahwa mereka mendukung prinsip-prinsip demokrasi. Misi gerakan ini sebenarnya adalah membentuk pemerintahan yang seutuhnya berdasarkan syari’at dan hukum Islam.

Ajaran Al-Banna dan para petinggi IM awalnya disampaikan melalui dakwah, namun gerakan tersebut kemudian cenderung lebih mengarah ke gerakan politik. Lewat aktivitas politik tersebut, penyebaran ajaran Al-Banna dengan cepat meluas sampai keluar mesir. Hal ini terjadi karena beberapa anggota atau cabang IM di berbagai daerah mulai mendirikan sekolah, masjid dan organisasi masyarakat. Pada akhir dekade 1940-an, kelompok ini diperkirakan sudah memiliki 500.000 anggota di Mesir, dan ideologinya telah menyebar di berbagai penjuru di Timur Tengah.

Dengan bertambahnya jumlah anggota IM, Al-Banna kemudian membentuk sayap militer Ikhwanul Muslimin yang disebut “aparat khusus”. Karena pada saat itu, IM mendeklarasikan dirinya sebagai oposisi  dari kekuasaan Inggris di Mesir dan mereka mendukung bentuk Negara Islam. Sayap militer bentukan Al-Banna lalu bergabung dengan kekuatan lainnya dan melakukan serangkaian perlawan termasuk pemboman dan pembunuhan.

Pada desember 1948, Perdana Menteri Mesir Mahmud Fahmi al-Nuqrashi membubarkan IM karena dianggap organisasi berbahaya dan diduga merencanakan kudeta terhadap pemerintahan Raja Farouk. Tiga minggu setelahnya, seorang mahasiswa kedokteran hewan bernama Abdel Meguid Ahmed Hassan yang merupakan anggota IM, membunuh Menteri Mahmud Fahmi. Dua minggu kemudian, anggota lain dari kelompok itu ditangkap karena berusaha mengebom gedung pengadilan.

Sejak saat itu IM mendapatkan pengawasan dan tekanan karena dianggap sebagai oraganisasi brutal. Walaupun tindakan yang dilakukan anggota IM dibantah secara tegas oleh Al-Banna, dan mengatakan “Mereka bukan saudara, mereka juga bukan Muslim,”.

Pada 12 Februari 1949, Al-Banna bersama saudara iparnya Abdul Karim Mansur ditembak ketika menunggu taksi di markas Jama’iyyat al-Shubban al-Muslimeen di Kairo, Mesir. Menurut kabar yang beredar pelakunya adalah anggota kepolisian rahasia.

Perjalanan Ikhwanul Muslimin Sepeninggal Al-Banna

Pasca meninggalnya Al-Banna, anggota IM masih melakukan gerakan politik bawah tanah. Hingga pada 1950, Ketua Parlemen Mesir Mustafa Nuhas Pasha menganggap pembekuan organisasi IM tidak sah dan inkonstitusional. Berdasarkan alasan tersebut, akhirnya peran IM kembali diakui.

Pada Juli 1952, penjajahan berakhir dan Raja Farouk berhasil dijatuhkan lewat kudeta yang dipimpin oleh kelompok perwira muda bernama Perwira Pembebasan (Society of Free Officers). Ikhwanul Muslimin ikut andil dalam aksi kudeta tersebut. Perwira Pembebasan sebenarnya adalah organisasi militer rahasia yang terbentuk atas keresahan anggota militer akan bobroknya monarki Raja Farouk. Termasuk didalamnya Anwar Sadat dan Gamal Abdul Nasser, yang diduga menjadi motor penggerak Perwira Pembebasan untuk melakukan kudeta terhadap Raja Farouk.

Pasca tergulingnya raja terakhir mesir, Ahmad Naguib kemudian menjadi penguasa baru di Mesir. Pada masa ini hubungan IM dan pemerintah terbilang cukup baik. Akan tetapi tidak bertahan lama. IM memutuskan untuk kembali menjadi oposisi pemerintah karena mereka menganggap pemerintah terlalu didominasi oleh kekuatan militer dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap rakyat Mesir.

Pada masa pemerintahan Gamal Abdul Nasser tahun 1954, IM kembali ditekan dan dilarang oleh pemerintah. Sang presiden kala itu menuding IM berupaya melakukan pembunuhan dirinya. Bahkan salah satu pentolan dan ulama IM yang berpengaruh pada saat itu yaitu Sayyid Qutb, dipenjara atas tuduhan rencana pembunuhan tersebut.

Tekanan demi tekanan dari pemerintah Mesir, berimbas pada pemikiran para anggota IM yang mulai ekstrem. Qutb yang berada di dalam penjara, rupanya mendapatkan perlakuan buruk. Dari sinilah ia membuahkan dua karya penting yang menjadi tonggak ideologi Qutbisme, Fi Zilal al Qur’an (Di Bawah Naungan Al-Qur’an) dan Ma’alim fi’l Tariq (Milestone/Tonggak). Tulisan Qutb menyerukan jihad melawan masyarakat jahiliyah dan kebangkitan Islam. Dua buku Qutb tersebut yang kemudian menjadi inspirasi banyak tokoh gerakan radikal seperti Ayman Al Zawahiri dan Osama bin Laden.

Pada 1964 Sayyid Qutb dibebaskan atas permintaan pribadi Perdana Menteri Irak saat itu, Abdul Salam Arif. Namun, delapan bulan berselang yakni pada agustus 1965, ia kembali dijebloskan ke penjara dengan tuduhan yang sama. Kali ini hakim menjatuhi Qutb dan 6 anggota IM lainnya dengan hukuman mati.

“Ideologi jihad yang berkembang di kalangan Ikhwan setelah eksekusi terhadap Qutb pada 1966 menyebar ke berbagai belahan dunia sebagai by-product kampanye Saudi Arabia yang berambisi mengukuhkan posisi geo-strategiknya sebagai pusat dunia Islam dan menyebarkan Wahabisme,” tulis Noorhaidi. detik.com

Masuknya Ideologi Ikhawanul Muslimin di Indonesia

Masuknya ideologi Islam trans-nasional ke Indonesia merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan, masuknya beberapa tokoh dari luar maupun orang indonesia yang pernah menempuh pendidikan di luar negeri akan otomatis mempengaruhi pola pikir dan implementasi metode dakwah. Termasuk ajaran duo IM: Al-Banna dan Sayyid Qutb.

Dari pemaparan Noorhaidi Hasan dalam journal berjudul “Memahami Radikalisme Islam“, ia menulis “Setelah bersentuhan dengan ide-ide Ikhwan al-Muslimin, kegiatankegiatan NII berkembang mengikuti pola Ikhwan al-Muslimin. Salah satu simpul terpenting gerakan NII adalah Pesantren Ngruki yang didirikan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir, yang gigih menyerukan semangat melawan pemerintahan sekular, dengan terlebih dahulu membentuk Jamaah Islamiyah,”

Baca Juga : Jamaah Islamiyah; Organisasi Pembaharu Darul Islam

Ajaran IM ini juga masuk dan menyebar di indonesia melalui sejumlah mahasiswa Indonesia aktivis Ikhwanul Muslimin yang berkuliah di Madinah, Arab Saudi. Mereka mengenal ajaran IM di Arab dan membawanya ke Indonesia. Sejumlah Mahasiswa tersebut merupakan tokoh-tokoh pendiri PKS.

Dilansir dari nasional.tempo.co, Tokoh-tokoh di awal pendirian PKS, kata Yusuf, merupakan aktivis Ikhwanul Muslimin di Indonesia. Gerakan ini sendiri awalnya digagas sejumlah mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Madinah, Arab Saudi, termasuk Yusuf sendiri dan KH Hilmi Aminuddin.

Latar belakang Hilmi sebagai anak Panglima Militer Darul Islam, Danu Muhammad Hasan, menurut Yusuf, juga sudah diketahui banyak pendiri PK lainnya ketika itu. Hilmi mengenal Ikhwanul Muslimin di Arab Saudi dan mendirikan gerakan ini di Indonesia sepulangnya dia ke tanah air. Yusuf juga mengaku bagian dari gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan Hilmi itu.

Sampai hari ini sebagian gerakan Islam politik, termasuk misi partai, lembaga amal di banyak negara, mengakar pada ideologi IM. Sebagian dari mereka memakai nama IM dan sebagian lagi tidak. Partai politik dan organisasi yang punya kaitan dan merupakan turunan dari IM banyak terdapat di sejumlah negara sekutu AS seperti Yordania, Irak, Kuwait, Bahrain, Maroko, Turki, dan Tunisia.

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

five + 11 =