Infrastuktur Penting Sangat Berpotensi Menjadi Target Serangan Teroris

Ancaman terorisme bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Kelengahan pemerintah dan masyarakat menjadi modal besar bagi mereka untuk melakukan serangan. Percepatan teknologi yang kita semua rasakan juga berimbas pada berkembang pesatnya jaringan teror internasional. Selama ini kita hanya disuguhkan berbagai macam muatan berita tentang bom bunuh diri, penculikan dan pembunuhan oleh kelompok teror. Tetapi hal tersebut sebenarnya hanya menggambarkan beberapa aksi teror mainstream saja.

Menurut beberapa pengamat terorisme ada 6 taktik dasar yang dilancarkan oleh kelompok teror, yaitu: membajak (hijacking), penculikan (kidnapping), pengeboman (bombings), pembunuhan (assassination), serangan bersenjata (armed assasults) dan juga penyanderaan (hostage). Semua itu adalah hal dasar yang bisa mereka lakukan dimana saja. Tetapi seiring berjalannya waktu. Motif, target dan metode yang digunakan akan berevolusi sejalan dengan efektifitas dan dampak dari sebuah serangan. Ini juga berimbas pada proses analisa, pemetaan dan deteksi dini yang akan jauh lebih complex dan rumit. Besar kemungkinan dengan penggunaan sistem komputasi untuk menjalankan suatu sistem secara otomatis, kelompok teror tidak lagi menyerang dengan bom, tetapi mereka akan menarget sistem vital suatu negara untuk dilumpuhkan. Dalam situasi seperti ini, infrastruktur vital seperti kelistrikan, komunikasi, perbankan, jaringan dan lainnya sangat berpotensi untuk menjadi target penyerangan teroris maupun kejahatan cyber lainnya.

Cyber Attack dalam Sejarah Dunia

Dalam kilas sejarah dunia, kejahatan cyber menjelma menjadi ancaman serius. Beberapa kasus membuktikan bahwa cyber attack mampu melumpuhkan sistem dan infrastruktur suatu negara. Pada tahun 2007 seluruh jaringan di Estonia baik perbankan, telekomunikasi, dan jaringan vital lainnya lumpuh total. Akibatnya, aktivitas masyarakat dan negara juga lumpuh total. Serangan cyber dilakukan dengan metode DDOS attack dan Botnet, hacker menyerang dengan membanjiri suatu server dengan miliaran data per-detik sehingga jaringan internet dan komunikasi perlahan melambat sampai akhirnya down.

Para hacker menarget infrastruktur vital seperti pusat pemerintahan, telekomunikasi dan internet. Serangan terjadi selama beberapa minggu dan mengakibatkan lumpuhnya sistem dan perekonomian Estonia.

Atau serangan siber yang menarget perusahaan minyak terbesar Arab Saudi Aramco. Pada Agustus 2012 malware yang disebut “Shamoon” alias W32.DistTrack melahap sekitar 30.000 unit sistem komputasi Aramco, memusnahkan dokumen, spreadsheet, email, dan bermacam file yang terkandung di dalamnya. Walaupun akhirnya malware ini gagal melumpuhkan produksi minyak Aramco, sebab eksplorasi hidrokarbon dan produksi berada di sistem jaringan terisolasi. Tetapi serangan ini berhasil menghapus beberapa data penting dan memaksa Aramco untuk mereset kembali beberapa sistem.

Selain beberapa kasus diatas, ada banyak kasus serius tekait serangan siber seperti Cuckoo’s Egg, Morris Worm, Georgia Cyber Attack,Solar Sunrise, Moonlight Maze, Chinese Espionage, Buckshot Yankee dan Stuxnet.

Memetakan Kemampuan Kelompok Teror

Apakah mampu kelompok teror melumpuhkan sistem vital negara? Mungkin itu pertanyaan yang muncul dalam benak, karena jika kita melihat dalam berita yang disiarkan maupun melihat latar belakang pelaku teror yang kebanyakan bukan merupakan jebolan dari jenjang tinggi bidang akademik. Maka akan aneh rasanya jika kita beranggapan teroris mampu melakukan hal sehebat itu.

Tetapi kemampuan kelompok teror dalam bidang teknologi tidak bisa dianggap remeh, kasus pembobolan data pegawai BNPT oleh Bahrun Na’im menjadi bukti bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menyerang suatu sistem. Belum lagi buku karya BN yang didalamnya memuat segala macam tutorial hacking. Hal tersebut seharusnya menjadi parameter agar pemerintah selalu waspada dan melakukan pencegahan dini untuk menanggulangi serangan cyber yang lebih serius.

Baca Juga: Bahrun Naim: Menyusun Panduan Jihad, Merakit Bom, Merakit Senjata Hingga Teknik Hacking

Kelompok teror bahkan mampu menghindar dari penyadapan dan pelacakan aparat. Seperi kejadian teror di Paris, mereka menggunakan handphone sekali pakai dan berkomunikasi dengan sandi rahasia. Semua tindakan pencegahan kelompok teror tersebut tentu didasari dengan pemahaman mereka tentang teknologi.

Dulu Al-Qaeda menciptakan sebuah program enkripsi yang bernama Muslim Crypt. Sebuah software yang dirancang untuk menyembunyikan pesan ke dalam sebuah foto. Kemampuan mereka dalam membuat program enkripsi membuktikan bahwa beberapa dari mereka adalah orang yang berkompeten di bidang teknologi. Ini bisa kita jadikan tolak ukur bahwa teroris akan berevolusi dan menjadikan teknologi sebagai  lahan jihad baru dengan melakukan penyerangan non-fisik.

Kesimpulan

Program komputasi yang hampir digunakan di seluruh sistem baik itu di PLN, perbankan, jaringan internet, telepon dan lain sebagainya, sangat berpotensi untuk dieksploitasi oleh siapapun termasuk kelompok teror. Sekarang ini kemampuan hacking bisa sangat mudah untuk dipelajari dengan adanya internet. Suatu sistem yang dianggap sangat aman pun sebenarnya tetap mempunyai celah untuk dimasuki.

Hacking tidak melulu hanya berpatok pada kelemahan program, social engineering adalah salah satu teknik yang digunakan untuk memanipulasi seseorang. Mereka yang kurang paham akan teknologi bisa menjadi pintu masuk bagi penyerang untuk mendapatkan akses kedalam suatu sistem. Seleksi ketat terhadap orang-orang yang akan memegang peranan penting untuk menjalankan suatu sistem adalah langkah dasar untuk mencegah terjadinya masalah serius akibat kelengahan pada diri seseorang.

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

11 − three =