Kelompok Teroris ISIS dan Kekhilafahannya

Secara definisi khilafah adalah sebuah system kepimimpinan bagi umat islam di seluruh dunia, pemimpinnya disebut khalifah. System ini muncul, ada yang mengatakan pada era Rasullah SAW ada pula yang mengatakan mulainya di era para sahabat (khulafaur Rasyidin). Sistem ini secara tekstual berdasarkan pada al-quran dan al-hadits. Sistem khilafah berjalan lebih dari seribu tahun, mulai dari tahun 632 masehi sampai pada masa keruntuhan kekhalifahan Utsmani pada tahun 1924 masehi.

Sejak itu upaya untuk membangkitkan kembali kejayaan era kekhalifahan terus dilakukan oleh beberapa kelompok Islam, tentu dengan konsep dan caranya masing-masing, termasuk pemaknaan khalifahannya pun berdasarkan pada versinya sendiri. Sampai pada akhirnya Gagasan sistem khalifah kemudian digarap oleh sebuah kelompok ekstrimis yang bernama ISIS.

ISIS atau Islamic State of Irak and Suriah adalah sebuah kelompok ekstrimis yang menghendaki terbentuknya negara Islam secara terpusat yang dipimpin oleh seorang khalifah. Kelompok ini merupakan metamorphosis dari Al-Qaeda. Pada tahun 2013 Abu Bakar Al-Baghdadi mendeklarasikan ISIS dan mengajak seluruh umat islam di dunia untuk berbaiat kepada ISIS dan khalifahnya. Dalam membentuk sebuah negara, ISIS tampak begitu serba instan dan memaksa kelompok lain menerima Al-Baghdadi sebagai Khalifah.

Secara konsep sebuah negara, ISIS memiliki struktur kenegaraan yang cukup lumayan lengkap karena memiliki pemimpin dan wakil-wakil pelaksana sampai pada tingkat wilayah, termasuk juga memiliki departemen-departemen diantaranya Baitul Maal, Departemen Media dan Informasi, Departemen Pengajaran dan Pendidikan, Departemen Luar Negeri, Amirul Jihad, Departemen Hukum Syariah, Departemen Pelayanan Masyarakat, Departemen Intelejen, dan Departemen Kepolisian.

Sementara untuk membiayai kebutuhanya, ISIS memiliki beberpa sumber dana, diantaranya adalah pengelolaan minyak bumi, bahkan beberapa bulan yang lalu sebuah berita menyebutkan bahwa kelompok  ISIS sudah merambah pada bisnis narkoba.

Syarat terbentuknya negara menurut beberapa sumber ada tiga, pertama harus ada rakyat, kedua ada wilayah dan yang ketiga ada pengakuan dari negara lain, mungkin syarat yang ketiga ini yang belum dimiliki oleh ISIS.

Dalam pola rekruitmen ISIS terbilang lebih memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi seperti sosial media dan aplikasi pesan untuk melancarkan propaganda. ISIS piawai membuat video yang apik nan laga dan ajakan, singkat namun membakar semangat perang. Hasilnya, banyak orang dari seluruh dunia berdatangan ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Bagi mereka yang tidak bisa datang, ISIS mendorong mereka melakukan serangan di negara sendiri. Muncullah istilah lone wolf.

Sementara pola serangan, ISIS lebih serampangan. Tidak hanya menyerang pasukan asing atau warga di negara-negara Barat, mereka juga membantai Muslim yang berbeda aliran atau sekte, salah satunya kaum sufi dan para pengikut ajaran tasawuf. Warga Syiah juga jadi salah satu sasaran utama mereka.

ISIS secara publik mengklaim bahwa konsep kekhilfahannya berdasarkan pada al-quran dan al-hadits, namun dalam prakteknya lebih banyak mempraktekan pemikiran-pemikiran dan tindakan dari seorang tokoh bernama Dzul Khuwaishirah, tokoh ini hidup di era Rasullah yang kemudian pemikiranya disebut dengan Khawarij. Kesamaan pemikiran tersebut terlihat dari tindakan atau langkah-langkah yang dilakukan ISIS dalam mewujudkan negara khilafah yang diinginkannya, diantaranya adalah mudah mengkafirkan yang tidak sepemahaman dengan mereka (takfiri) baik itu terhadap individu ataupun pemerintah, selain itu juga membantai muslim yang berbeda aliran atau sekte, diantaranya kaum sufi dan para pengikut ajaran tasawuf. Warga Syiah juga jadi salah satu sasaran utama mereka.

Baca Juga : https://carubannusantara.or.id/isis-versus-al-qaeda/

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

ten + 16 =