Kelompok Teroris Jamaah Islamiyah; Organisasi Pembaharu Darul Islam

Jamaah Islamiyah (JI) adalah sebuah perkumpulan yang dibentuk oleh Abdullah Sungkar dengan dibantu Abu Bakar Ba’asyir dan beberapa tokoh dari konfederasi ormas islam lainnya. Perkumpulan ini tidak seperti layaknya organisasi legal pada umumnya, cenderung tertutup. Pengungkapan bentuk serta pola gerakan JI ini banyak bersumber dari pernyataan kepolisian yang kemudian terpublish oleh media.

Ken Conboy penulis buku INTEL II dalam kata pengantarnya menyebutkan bahwa Jamaah Islamiyah ini merupakan organisasi misterius. Wajar saja Ken Conboy mengatakan misterius, sebab tidak ada satupun tokoh JI yang secara vulgar mengakui bahwa dirinya bagian dari JI dan menjelaskan tentang JI dengan detail.  Beda halnya dengan organisasi bentukan Abu Bakar Ba’asyir Seperti Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), yang secara jelas menyatakan dirinya sebagai organisasi dakwah. Proses terbentuknyapun banyak diketahui oleh khalayak umum, dan memiliki sekretariat layaknya organisasi pada umumnya, meskipun dikemudian hari anggotanya banyak yang terlibat teror di Indonesia.

Abdullah Sungkar bersama Abu Bakar Ba’asyir merupakan orang yang diburu oleh orde baru kala itu, karena dianggap bagian dari orang  yang akan membangkitkan Darul Islam (DI). Atas dasar itu kemudian kedua orang tersebut dipenjara selama beberapa tahun, dan setelah bebas pada tahun 1982 mereka melarikan diri ke Malaysia. Dalam pelariannya, Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir aktif dalam pengajian dan mengkampanyekan ide khilafah islamiyah yang kemudian diikuti banyak orang.

Pada tahun 1987 Abdullah Sungkar terlibat aktif dalam membangkitkan DI dan menyelenggarakan sidang akbar, dan terpilihlah Ajengan Masduki sebagai Imam Neo DI. Dalam struktur Neo DI ini Abdullah Sungkar diangkat sebagai KUKT Luar Negeri atau setara dengan menteri luar negeri. Sayangnya hubungan mesrah antara Sungkar dengan Ajengan Masduki tidak berlangsung lama, meskipun kedua tokoh DI ini sudah melangsungkan kerjasama dengan Abu Rassul Sayyaf seorang tokoh kharismatik jihadis Afganistan pada tahun 1988. Keduanya terlibat konflik pribadi lantaran perbedaan prinsip antara pemeluk tharekat dengan pemeluk wahabi.

Baca Juga : https://carubannusantara.or.id/negara-islam-indonesia-nii-sejarah-dan-perkembangannya/

Setelah menyatakan diri keluar dari Darul Islam, Abdullah Sungkar bersama pengikutnya bekerja menyusun jama’ah baru di Malaysia, Jama’ah yang dibentuk adalah jama’ah bermazhab Salafy yang bertujuan iqomatudien (menegakkan syari’at Islam) lewat jalan jihad fisabilillah. Yang menjadi rujukan dalam menjalankan pola organisasinya Sungkar menggunakan kitab Mitsaq Amal Islam (Pedoman Amal Islam) karya para tokoh Jama’ah Islamiyah Mesir.

Organisasi ini semakin kuat ketika jihadis Afghanistan asal Asia Tenggara bergabung dengan Abdullah Sungkar. Untuk membantu kerja-kerja organisasi kemudian sungkar membentuk Majelis Qiyadah Markaziah (Majelis Pimpinan Pusat), Majelis SyuroMajelis Fatwa, serta Majelis Hisbah. Tidak hanya itu, Sungkar juga membentuk Mantiqi (majelis wilayah). Tak ayal, di beberapa negara Asia Tenggara organisasi bentukan Sungkar ini memiliki perwakilan atau cabang. Dalam perjalanannya JI bentukan Sungkar ini sangat diperhitungkan, bahkan Osama bin Laden pun mengakui itu. Mungkin inilah yang kemudian disebut dengan era keemasannya Jamaah Islamiyah secara keorganisasian.

Diawal terbentukannya, Jamaah Islamiyah melakukan kampanye mengenai Negara yang berazaskan Islam atau tentang kekhalifahan melalui ceramah, siaran radio, penyebaran pamflet dan sebagainya, artinya bahwa kelompok ini ingin menggambarkan apa yang dilakukannya adalah menggunakan jalan damai seperti yang selama ini di gembor-gemborkan oleh Abu Bakar Ba’asyir. Namun, wajah damai Jamaah Islamiyah itu berubah setelah keterlibatannya yang cukup jauh dengan kelompok jihadis Al-Qaeda, ditambah lagi ada pengaruh dari tokoh JI Malaysia yang bernama Hambali.

Sepeninggal Abdullah Sungkar pada tahun 1999, Abu Bakar Ba’asyir didaulat menjadi penggantinya. Namun karakteristik kepemimpinnya berbeda, tidak setegas dan seberwibawa Sungkar. Kemudian fase berikutnya  JI semakin liar dan terlibat langsung dalam konflik agama di Ambon, disinilah dimulainya peran Hambali dalam mempengaruhi anggota JI yang pro perang melawan kekafiran. Tidak sampai disitu, Hambali juga mengotaki sejumlah terrr Bom di beberapa tempat seperti bom di rumah dubes Filipina, Bom gereja di malam natal dan sebagainya.

Ruang gerak teror yang dilakukan oleh Jamaah Islamiyah di Indonesia semakin terbuka lebar setelah bergulirnya reformasi 1998, mulai dari bom kedutaan besar, bom gereja, hingga bom pada tahun 2002 yang begitu fenomenal yaitu bom bali, aksi ini dilakukan terinspirasi oleh aksi kelompok Al-Qaeda dalam teror WTC pada tahun 2001, dan sederet aksi-aksi teror lainnya.

Dari aksi-aksi tersebutlah kemudian publik semakin yakin bahwa apa yang dilakukan oleh JI ini tidak merepresentasikan Islam sebagai tuntunannya, melainkan hanya menuruti hawa nafsu politis dalam merebut negara untuk kepentingan golongannya.

Kelompok JI ini terus mengalami perubahan baik dari pola gerakannya maupun dari pola pendanaanya. Pada bulan juli tahun 2019  Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo menyebutkan bahwa kelompok Jamaah Islamiyah (JI) memiliki usaha di bidang perkebunan kelapa sawit di wilayah Sumatera dan Kalimantan, yang dari hasil perkebunan kelapa sawit tersebut mereka mampu membiayai setiap aksi, bahkan sanggup menggaji para petinggi JI dan anggotanya

Baca Juga : https://carubannusantara.or.id/jejak-dana-teroris/

Meskipun sang penerus JI berhasil ditangkap oleh aparat kepolisian, bukan berarti kelompok teror ini kemudian berahir. Selnya dipastikan masih terus hidup. Berapa jumlah bisnis yang sudah berhasil dibangun oleh Para Wijayanto mungkin bukan hanya di Kalimantan dan Sumatera saja, kemudian berapa jumlah kader yang sudah berhasil direkrut oleh kelompok neo JI ini, tentu dua kekuatan ini yang kemudian harus diungkap. Karena dua kekuatan ini yang akan mengembalikan Jamaah Islamiyah pada era kejayaanya.

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 5 =