Jejak Awal Faham Radikal Dimasa Rasulullah SAW

Islam adalah agama yang mengajarkan nilai nilai toleransi dan menghormati perbedaan keyakinan, oleh karenanya Islam tidak membenarkan pemaksaan terhadap seseorang untuk menerima dan masuk islam, sikap toleransi yang merupakan karakteristik ajaran islam ini ditegaskan langsung oleh Rasulullah SAW melalui sabda beliau:

انى بعثت بالحنيفية السمحة

“Sesungguhnya kami di utus dengan agama yang lurus dan toleran”  (HR. Ahmad)

Toleransi umat Isam

Toleransi dalam islam bukan hanya sebatas disampaikan Rasulullah melalui lisan beliau, namun juga beliau mencontohkannya langsung dalam aktifitas kesehariannya . Tarikh islam banyak mencatat bagaimana keseharian umat islam termasuk Rasulullah menjalin hubungan sosial da dengan kelompok yahudi nasrani dan lainnya, bahkan sampai terjadi transaksi hutang piutang dan lain sebagainya, hal ini menunjukkan adanya hubungan harmonis islam dengan pemeluk agama lain dan menunjukkan adanya toleransi dalam islam

Baca Juga : Hubungan mesra Rasulullah SAW, dengan Non Muslim

Namun sayangnya Ajaran toleransi yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, ternyata tidak dipahami secara menyeluruh oleh para pengikutnya. masih ada sekelompok orang yang menjalankan agamanya dengan berpegang pada faham radikal dan intoleran. sehingga seringkali menyebabkan ketidak sukaan kelompok diluar islam terhadap islam (islamophobia)

Sikap Intoleransi dan radikalisme atas nama agama ini tidak saja muncul dimasa sekarang, namun sudah ada semenjak dahulu kala, bahkan di masa beliau masih hidup pun bibit-bibit intoleran dan radikalisme atas nama agama sudah ada.

Kisah Dzul Khuwaisiroh

Abu Said al Khudry meriwayatkan :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ، قَالَ: بَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْسِمُ ذَاتَ يَوْمٍ قِسْمًا، فَقَالَ ذُو الخُوَيْصِرَةِ، رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ، قَالَ: «وَيْلَكَ، مَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ» فَقَالَ عُمَرُ: ائْذَنْ لِي فَلْأَضْرِبْ عُنُقَهُ، قَالَ: «لاَ، إِنَّ لَهُ أَصْحَابًا، يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلاَتَهُ مَعَ صَلاَتِهِمْ، وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمُرُوقِ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ “

Dari Abu Sa’id Al Khudry ra, dia berkata; “ketika kami sedang Bersama Rasulullah SAW yang sedang membagi-bagikan (harta rampasan perang), datanglah Dzul Khuwaisiroh, seorang laki-laki dari bani Tamim, ia berkata; “Wahai Rasulullah, berlakulah adil”. Maka beliau berkata: ‘Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil jika aku saja tidak adil”.   Kemudian Umar berkata; “Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya!. Beliau berkata: “Tinggalkan dia. Karena dia nanti akan memiliki kawanan yang salah seorang dari kalian memandang remeh shalatnya disbanding shalat mereka, puasanya disbanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari hewan buruan,” (HR. Bukhari).

Dzul khuwaisroh tidak menyesali apa yang dilakukannya dan pergi begitu saja. Tindakan dzul khuwaisiroh menunjukkan bahwa dia merasa berada pada posisi yang benar, dan meyakini Rasulullah berada di pihak yang salah. Tindakan inilah yang membuta Umar ra, marah dan meminta ijin untuk membunuhnya, namun dilarang Rasulullah saw. Dalam riwayat Imam Muslim dijelaskan bahwa alasan Rasulullah melarang Umar ra membunuh dzul khuwaisiroh adalah :

: “معاذ الله أن يتحدث الناس أني أقتل أصحابي “.

“Aku berlindung kepada Allah dari perbincangan manusia bahwa Aku membunuh sahabatku”. HR. Muslim

Berfaham Radikal namun Merasa lebih islami

Sungguh aneh, bagaimana mungkin Rasulullah sebagai penyampai risalah islam dan selalu dalam bimbingan Allah swt, bisa dianggap salah oleh Dzul khuwaisiroh? Bahkan dzul khuwaisroh merasa berada pada kebenaran.

Sikap Dzul Khuwaisrioh ini menunjukkan ketidak fahamannya terhadap Posisi Rasulullah sebagai penyampai risalah yang tidak mungkin meninggalkan atau mengabaikan apa yang beliau ajarkan.

Dalam hadits hadits lain Rasulullah mengingatkan bahwa dari Dzul Khuwaisorh inilah akan lahir kelompok islam yang ber faham radikal dan intoleran. yang secara dzahir nya sangat tekun beribadah, namun faktanya keimanannya hanya sebatas sampai pada kerongkongan saja, atau dalam bahasa lain bisa disebut dengan memiliki semangat ibadah yang sangat besar namun tidak sebanding dengan pemahaman keagamaannya. maka menyelaraskan semangat beragama dengan pemahaman agama adalah suatu keniscayaan agar tidak terseret pada tindakan intoleran dan radikal atas nama agama.

Avatar
Abdul Hadihttps://carubannusantara.or.id/
Seorang Pelajar, yang selalu berusaha belajar

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve − ten =