Jejak Dana Teroris

Selama masa pandemic covid-19 kelompok teroris Indonesia beberapa kali melakukan aksinya dengan sasaran aksinya adalah apparat kepolisian mulai dari penyerangan polisi di solo dengan menggunakan senjata api sampai yang terbaru (1/6/2020) aksi penyerangan yang menggunakan senjata tajam jenis samurai di Mapolsek Daha Selatan, Kalimantan Selatan (Kalsel) dalam peristiwa tersebut satu orang anggota polisi gugur. Pertanyaan besarnya kenapa aksi mereka tidak lagi menggunakan bahan peledak atau bom tapi lebih memilih aksi seperti preman jalanan, apakah karena keterbatasan dana? Mungkin dampak ekonomi akibat wabah covid-19 juga berimbas pada kelompok teroris, sehingga aksi mereka hanya sebatas seperti sekedar menggugurkan kewajiban atau hanya sekedar mengisi daftar hadir agar eksistensinya tidak tergerus oleh issu corona.

Fundraising yang terkait dengan terorisme yang ada di indonesia secara umum terbagi menjadi tiga bentuk kegiatan pertama perampasan atau perampokan, kedua melalui donasi public dengan menggunakan isu-isu yang berkembang di dunia seperti Palestina, Rohingya dll atau iuran kelompoknya sendiri, ketiga melalui bisnis atau usaha. Dari ketiga kegiatan tersebut mereka mampu membeli bahan-bahan peledak dan juga untuk menjalankan kehidupan organisasinya, bisa dikatakan bahwa tanpa sumber keuangan yang pasti mereka tidak bisa bergerak dengan maksimal. Berikut adalah detailnya.

1. Perampokan dan Pencurian

Ketika kelompok Jamaah Islamiyah (JI) akan melakukan aksi Bom Bali 1 dengan daya ledak yang besar, maka dibutuhkan bahan-bahan peledak yang tidak sedikit, tentu pula harus ditopang dengan dana yang besar pula untuk bisa membeli bahan-bahan peledak tersebut. Menurut data yang ada terdapat tiga bom yang disiapkan pada saat itu, Satu bom mobil seberat satu ton, satu bom rompi seberat enam kilogram, dan sebuah bom motor seberat 50 kilogram, dengan asumsi biaya antara Rp 700 juta – Rp 1,7 miliar belum ditambah biaya untuk kendaraan yang digunakan untuk peledakan. Untuk mendapatkan dana sebesar itu kemudian mereka melakukan perampokan toko emas di banten dan aksi pencurian lainya .

Kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT), salah satu sumber dananya adalah dari penjualan sepeda motor hasil dari pencurian (curanmor), kemudian mereka gunakan untuk membiayai pelatihan dan pengadaan senjata api bagi anggotanya.

Pada pertengahan tahun 2019 lalu kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) melakukan perampokan toko emas di Magetan Jawa Timur hal tersebut dilakukan untuk menopang Gerakan aksi terror mereka.

2. Donasi atau sumbangan

Ada banyak hal yang dilakukan oleh kelompok teroris dalam melakukan penggalangan dana berkedok sumbangan amal atau donasi kemanusiaan. Pada tahun 2015 lalu PPATK bersama beberapa lembaga pemerintah lainnya seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Mahkamah Agung (MA) mengindikasikan adanya penggunan dana sumbangan masyarakat oleh teroris. PPATK juga menjelaskan bahwa dana sumbangan tidak hanya didapatkan teroris dari yayasan kemanusiaan saja, namun juga dari berbagai bentuk penggalangan dana lainnya seperti sumbangan online dan lainnya.

Sumbangan online ini pernah dilakukan oleh TKI yang bekerja di Singapura pada pertengahan tahun 2019 lalu, ia menyumbangkan sebagian gajinya untuk pergerakan organisasi Jamaah Ansharut Daulah (JAD), organisasi ini berafiliasi dengan ISIS. Kini TKI yang bernama Anindia Afiyanti beserta rekanya sedang menjalani hukuman di Singapura, dan mungkin jerat hukum juga sudah menanti sekembalinya ke Indonesia, sebab dalam UU No. 09 tahun 2013 Bab II pasal 2 ayat 2 menyebutkan bahwa pendanaan terorisme yang terjadi di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia apabila dilakukan oleh warga negara Indonesia maka dikenakan sanksi yang berlaku.

Ada pula seorang pengusaha sekaligus tokoh agama di Cianjur Jawa Barat yang ikut andil dalam pembiayaan keberangkatan WNI ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. dalam pemberitaan Tempo.co (18/03/2015) menyebutkan bahwa Chep Hermawan mendonaturi 156 WNI untuk berangkat ke ISIS

Baca Juga : https://carubannusantara.or.id/antara-covid-19-dan-isis/

3. Bisnis atau usaha

Pada tanggal 15 juni 2019 media The Conversation merilis beberapa contoh bisnis legal yang dilakukan oleh anggota organisasi ekstremis tersebut seperti:

  • Agen Perjalanan

Polisi menemukan agen perjalanan yang dijalankan oleh Rafiqa Hanum, istri Naim. Naim yang diyakini bertanggung jawab atas serangan di Jakarta pada 2016. Polisi menyebut agen perjalanan tersebut membantu dua orang Muslim Uighur, Cina, yang merupakan bagian dari Gerakan Islam Turkistan Timur (East Turkestan Islamic Movement, kini Turkistan Islamic Movement), masuk ke Indonesia secara ilegal dan menyembunyikan mereka di Batam. Perusahaan itu juga membantu para pejuang teroris asing untuk masuk Suriah menyamar sebagai atau peserta umroh atau haji.

  • Obat Herbal

Dalam dua kasus, penyelidik menemukan teroris yang berkaitan dengan usaha obat herbal. Dalam sebuah penangkapan pada tahun 2013 pada teroris yang melakukan kegiatan jihad di Poso, Sulawesi Tengah, polisi menemukan tersangka di Kebumen, Jawa Tengah, yang mengaku sebagai pengusaha obat herbal pada warga setempat. Pada kasus lain pada tahun 2018 yang melibatkan Dita Oepriyanto, pelaku bom bunuh diri Surabaya, polisi menemukan ia menjalankan bisnis minyak herbal kemiri.

  • Usaha Elektronik

Pada 2017, seorang tersangka teroris dari kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) ditangkap di Bekasi, Jawa Barat. Dia memiliki toko ponsel. Di tokonya, polisi menemukan bom pipa, peralatan elektronik, dan buku panduan untuk membuat bom. Disinyalir hasil usahanya digunakan untuk pembiayaan gerakan terror.

Selain tiga usaha legal tersebut ada pula usaha yang besar yaitu; Usaha Perkebunan Kelapa Sawit. Pada bulan juli tahun 2019  Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo menyebutkan bahwa kelompok Jamaah Islamiyah (JI) memiliki usaha di bidang perkebunan kelapa sawit di wilayah sumatera dan Kalimantan, dari hasil perkebunan kelapa sawit tersebut mereka mampu membiayai setiap aksi bahkan sanggup menggaji para petinggi JI dan anggotanya.

Waspada Penggalangan Dana Berkedok Kemanusiaan

Pencarian dana yang masih mungkin bisa dilakukan oleh kelompok teroris saat ini selain iuran anggota adalah dengan pola sumbangan kemanusiaan sebab momennya sangat mendukung dengan adanya wabah covid-19 ini, mungkin saja mereka melakukan penggalangan dana dengan mengatasnamakan untuk membantu masyarakat yang terdampak wabah corona, sementara banyak para penyumbang tidak meneliti atau memperhatikan secara detail lembaga yang menyelenggarakan penggalangan dana tersebut, sehingga peluang untuk dimanfaatkan oleh kelompok teroris sangat terbuka lebar.

Penggalangan dana berkedok kemanusiaan pernah dilakukan oleh kelompok teroris di Indonesia melalui yayasan amal atau yayasan kemanusiaan, yang dikemudian hari yayasan tersebut terdeteksi berafiliasi dengan kelompok teroris. Dikutip dari pintarpolitik.com Setidaknya ada 3 yayasan kemanusian yang berhasil di identifikasi yaitu;

  1. Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI)

Yayasan ini melakukan penggalangan dana untuk merekrut dan memberangkatkan WNI yang ingin bergabung dengan kelompok ISIS

  • Al Harmain Foundation Indonesia alias Yayasan Al Manahil Indonesia

Dana yang terkumpul di yayasan ini di donasikan untuk Al-Qaedah

  • Yayasan Keadilan Untuk Semua (YKUS)

Penggalangan dana yang dilakukan oleh yayasan ini berkedok untuk membantu para pengusngsi Suriah namun pada akhirnya dananya jatuh pada kelompok ISIS. Dana ini menurut beberapa media berasal dari sumbangan bela Islam 411 dan 212 yang kemudian dibelokan oleh oknum GNPF-MUI

Ketiga yayasan kemanusiaan ini masuk dalam daftar yayasan teroris oleh Dewan Keamanan PBB.

Ada beberapa factor yang membuat dana kemanusiaan ini rentan dimanfaatkan oleh kelompok teroris, pertama lemahnya pengawasan terhadap lembaga atau yayasan yang melakukan penggalangan dana dengan mengatasnamakan kemanusiaan, kedua masyarakat kita terlampau ikhlas barangkali dalam menyumbangkan uangnya sehingga tidak pernah menanyakan detail atas penggunaan dana tersebut.

Kewaspadaan masyarakat terhadap lembaga atau yayasan yang mengatasnamakan kemanusiaan harus ditingkatkan apalagi ditengah wabah covid-19, dimungkinkan kelompok teroris ini sangat memanfaatkan momen pandemic ini, bukan hanya untuk melakukan terror tapi bisa juga mereka memanfaatkan untuk melakukan penggalangan dana atas nama wabah. Jangan sampai alih-alih menyumbang tapi kemudian terjerat UU No. 09 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme.

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

13 − 5 =