Jihad itu Melawan Kebodohan dan Kefakiran

Whatsapp Pinterest LinkedIn Tumblr +

Islam adalah agama kekerasan, agama perang, agama yang anti-modernitas, agama yang melahirkan banyak teroris dan ekstrimis radikalis, dan beberapa citra buruk lainnya yang kerapkali disematkan terhadap Islam, bahkan sejak terjadinya banyak tragedi bom bunuh diri dan tindak kekerasan anarkis yang membuat puluhan bahkan ratusan orang merenggut nyawa yang mengatasnamakan Islam.

Seorang sejarawan De Lacy O’leary pun yang mendukung hal demikian. Dalam karyanya Islam at the Cross Road: A Brief Survey of the Present Position and Problems of the World of Islam menjelaskan bahwa Islam telah menjelajahi seluruh dunia dan memaksakan agama Islam dengan pedang. Sampai kini pun negara yang mengatasnamakan dirinya negara Islam tidak kunjung hentinya melakukan peperangan.

Lihat saja Suriah dan beberapa negara Islam lainnya yang mendaku dirinya sebagai negara Islam kerap kali dekat dengan desas-desus konflik yang tiada kunjung henti. Sehingga beberapa kalangan akademis Barat menyebutnya sebagai biang  dari terjadinya kejahatan (the Source of violence).

Memang tidak dapat serta merta lalu menyatakan Islam tidak ada sangkut pautnya dengan kekerasan yang dilakukan. Terlalu egois jika hal itu terjadi, karena mayoritas pelaku teror adalah mereka yang mendaku dirinya Islam, mengakui itulah hasil perenungan dan pemahamannya yang dipetik dari kandungan beberapa ayat yang terdapat dalam Alquran dan sunnah yang menyuruh hal demikian, yaitu jihad di jalan-Nya, mati sebagai pahlawan, dan surga sebagai balasan.

Islam dapat dikatakan sebagai institusi yang berpotensi melahirkan dua karakter protagonis di satu sisi dan antagonis di sisi lainnya. Islam berpotensi menjadikan setiap subjek yang dapat mendorongnya untuk menjadi pelaku kekerasan atau pelaku perdamaian. Hal ini bergantung kepada subjek masing-masing dalam memahami nilai-nilai yang terkandung dalam syariat serta interpretasi teks suci (Alquran) yang bersifat general dan metafora yang terkadang menuai beragam polemik.

Mengkambinghitamkan Agama

Beberapa minggu terakhir, Dunia dihebohkan dengan dirilisnya kembali kartun Nabi Muhammad Saw oleh Majalah Charlie Hebdo yang berkantor di Paris untuk edisi awal September 2020 yang akhirnya menumbalkan korban.  16 Oktober 2020 Samuel Paty menjadi korban akibat karikatur ini, ia dibunuh ketika pulang dari mengajar lantaran menunjukkan kartun Nabi Muhammad di hadapan murid-muridnya untuk memberikan contoh dalam hal kebebasan berkekspresi di negeri demokrasi seperti Prancis tempat mereka tinggal.

Siapa sangka selepas mengajar dia dipenggal oleh seorang imigran Chechnya yang menebas lehernya,  Abdoullakh Anzorof, 18 tahun lantaran dianggapnya menista Islam.

Dan benar hal ini terus menyulut dan memunculkan kekerasan yang berkelanjutan, 29 Oktober 2020, tiga orang meninggal di gereja Notre-Dame, Basilica, Kota Nice. Brahim Aioussaoi, 21 tahun warga Tunisia yang melakukan aksi terornya juga terkait masalah karikatur tadi dengan cara menyerang orang-orang yang tengah berkumpul di gereja dengan pisau.

Dalam deretan peristiwa yang terjadi, kesemuanya seperti lagu lama yang kembali diputar di waktu yang berbeda, motifnya karena dalih membela agama. Term jihad sering digunakan untuk membungkus tindakan seperti hal tersebut agar nampak bernuansa islami.

Berani mati mengatasnamakan Islam, berteriak lantang menyebut Tuhan, menggemakan takbir sebagai bentuk kebaktian dari seorang hamba. Tidak peduli berapa orang yang harus meninggal akibat yang diperbuat, terpenting semua yang dilakukan jihad atas nama Tuhan demi menumpas kekafiran sekalipun ia akan menjadi korban toh akan berbalas surga sebagai reward-nya.

Jangan Asal Jihad

Islam yang seharusnya Rahmatan lil ‘alamin ternodai oleh tindakan segelintir orang yang melakukan tindak kekerasan yang sebenarnya menyimpang dari ajaranNya dengan dalih jihad. Penting kiranya untuk dirumuskan ulang makna jihad yang lebih aktual dan kontekstual sesuai kebutuhan zaman kita.

baca juga: Poso Menjadi Tanah Jihad Bagi Teroris

Padahal Alquran jelas-jelas membentangkan lebih luas ayat-ayat rahmah daripada ayat-ayat perang, lebih kaya ayat-ayat ampunan daripada ayat-ayat azabNya, bahkan Alquran dibuka dengan kedua asma welas-asihNya “ar-Rahman- ar-Rahim” dalam asma al-Husna pun demikian memperkenal diriNya dengan asma Pengasih dan Penyayang bukan dengan asma pengazab dan penghukum.

Jika ditelusuri lebih jauh kata jihad berasal dari “jahada” yang memilki arti berusaha atau sungguh-sungguh, yang menurunkan tiga kata kunci untuk mencapai manusia paripurna dalam bahasa Muhammad Iqbal sebagai Insan kamil.

Pertama, Jihad, perjuangan yang dilakukan yang mengandalkan fisik. Kedua,ijtihad” segala bentuk upaya yang cenderung menggunakan cara kerja akal atau inteligensia. Ketiga,mujahadah”  lebih cenderung intuitif-spiritual bernuansa tasawuf.

Ketiganya harus seimbang dan terpaut satu sama lainnya untuk mencapai muslim yang ideal yang tidak hanya cenderung berjihad tapi mengabaikan kinerja akal dan hati. Mendayagunakan akal secara optimal diiringi dengan usaha konkrit yang maksimal, serta disokong dengan kontemplasi ruhani yang serius, sehingga akan terwujud nantinya karakter manusia yang adi hulung sebagaimana diidealkan.

Dalam artikelnya Fariz Alniezar (2015) Membonsai Pemahaman Islam Aspiratif mengkategorisasikan tiga pola karakteristik umat Islam; pertama, ada yang mujahadah saja sehingga kesehariannya berurusan dengan Tuhan dan dimensi ritual semata, selanjutnya ada lagi yang kesehariannya mikir (ijtihad) aja mengandalkan potensi akalnya tanpa ada aksi nyata, dan ada lagi yang terakhir serta yang paling berbahaya, yakni seorang muslim yang hanya mengandalkan kerja-kerja fisik saja, ya kesehariannya jihad tanpa dibarengi dengan akal dan pemahaman yang matang-matang tentang agama.

Jika jihad asal berjihad tentu akan menghasilkan tindakan yang merugikan baik itu kepada agama, menyentuh ranah sosial kemanusiaan, hingga akhirnya semua merasa dirugikan. Harus ada upaya kontekstualisasi term jihad untuk kebutuhan kita saat ini.

Harus digali lebih dalam untuk ditarik pada zaman sekarang integrasi dan relevansi jihad yang justru bukan kepada perang lagi, jika saja itu terjadi, maka akan muncul lagi korban yang berjatuhan di tengah keberagaman dengan dalih membela Islam.  Lanjut Fariz yang perlu diperangi secara kolektif adalah kemiskinan dan kebodohan. Inilah akar masalah yang seringkali terjadi di sekitar kita.

Hal ini serupa dengan pandangan Moeslim Abdurrahman (2000) bahwa segala bentuk kekerasan serta konflik keberagaman yang terjadi adalah karena dua hal, karena lemahnya pemahaman yang berarti kebodohan, dan arena kesenjangan ekonomi.

Musuh bersama yang harus kita perangi adalah kebodohan dan kemiskinan, ketika kedua hal ini masih menjangkiti di berbagai saentro wilayah, maka akan rentan terjadi konflik karena kedangkalan pemahaman dan kesenjangan ekonomi yang mengelit leher.

Ibnu Taimiyah pun dalam kitabnya Tazkiyah an-Nafs menyatakan, asal mula yang menjerumuskan manusia kepada keburukan adalah kebodohan. Sebab boleh jadi apa yang dianggapnya benar dan mendatangkan manfaat baginya tapi justru mendatangkan mudarat yang lebih besar lantaran kebodohannya. Bukan menuai maslahah malah memicu berbagai masalah.

Kefakiran pun berpotensi mengarah kepada hal-hal buruk dan rentan memicu kejahatan. Rasul pun pernah mengingatkan kaada al-faqru an yakuuna kufran “Kefakiran itu dekat dengan kekufuran” ketika kemiskinan sedang menimpa, segala cara akan dilakukan agar terkabul apa yang dicitakannya.

Menjual diri akan dilakukan asal anak-anaknya senang bisa makan, bahkan apapun lainnya akan dilakukan untuk kebutuhan ekonominya. Termasuk dalam pindah agama, orang akan rela meninggalkan aqidah yang lama dianut menuju agama baru yang lebih menjamin kehidupan ekonominya. Jika hal itu terjadi siapa yang menjamin?

Hal ini yang perlu direnungi dan dirumuskan bersama. Terorisme dan tindakan lainnya yang berpotensi menyakiti yang lain bukanlah solusi dan bukan ajaran Islam. Tindakan membunuh bukan pahlawan Islam melainkan memunggungi nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran dan jauh dari teladan Rasul.

Jihad yang terpenting sekarang adalah bagaimana cara mengentaskan bencana kebodohan dan kemiskinan untuk menjaga stabilitas keharmonian di tengah keberagaman, menebar rahmah sebagaimana misi Islam.

Wallahu A’lam bi as-Shawab

Share.

Leave A Reply

four × 3 =