Khilafah Menurut Pandangan Khilafatul Muslimin

Bagaimana pandangan tentang konsep khalifah dari organisasi Khilafatul Muslimin akan dapat dilihat dari paparan berikut ini.

Berdirinya pergerakan Khilafatul Muslimin tidak terlepas dari pemahamannya terhadap firman Allah swt, utamanya Q.S.al-Nisa’ [4] :59 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulnya, dan ulil amri di antara kamu.

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Dari pemahaman ayat tersebut dapat diketahui bahwa ulil amri setelah wafatnya Rasulullah saw tidak lain adalah al-Khulafa’u al-Rasyidin. Mereka adalah khalifah atauamir al-mu’minin, imam umat Islam yang meliputi wilayah dunia saat itu.

Dengan demikian ketaatan umat Islam terhadap ulil amri adalah wajib hukumnya sampai hari kiamat, dan tidak boleh mengalami kekosongan serta akan dipertanggungjawabkan oleh setiap muslim/muslimah di hadapan Allah kelak.

Maka, Khilafah Islamiyah milik kaum muslimin atau Khilafatul Muslimin adalah satu-satunya wihdatul ummah/jamaah umat Islam sedunia berdasarkan ad-Din yang wajib ditegakkan di muka bumi. Karenanya, terwujudnya masyarakat Islami yang menjadi cita–cita bersama kebebasan (kemerdekaan) umat nonmuslim di dalam melaksanakan peribadatannya sesuai dengan keyakinan agama masing-masing.

Sejarah telah membuktikan, bahwa kejayaan kaum Muslimin di masa lampau dikarenakan umat Islam pada saat itu mampu mempersatukan dan mempertahankan keutuhan umat di bawah satu sistem kepemimpinan Islam, yaitu: Khilafah Islamiyah dengan membuktikan sam’an wa tho’atan (mendengar dan ta’at) kepada ulil amri umat Islam.

Adapun kemunduran dan kehancuran kaum muslimin karena mereka tidak mampu lagi mempertahankan sistem kekhalifahan tersebut, yang berakibat ummat Islam terpecah belah menjadi beberapa golongan dan tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongannya sendiri ashobiyyah).

Fenomena ini oleh Allah SWT telah dinyatakan dengan tegas sebagai suatu bentuk syirik kepada Allah. Hal ini dinyatakan dalam QS. Ar-Ruum [30] :31-32 Artinya: “Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta Dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah” ,” yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”.

Setelah hancurnya masa kekhalifahan Turki Usmani pada tahun 1924, beberapa usaha untuk membangun kembali peradaban Islam di bawah sistem Khilafah Islamiyah telah banyak dilakukan, namun beberapa usaha tersebut belum juga membuahkan hasil untuk terpilihnya seorang pemimpin umat Islam sedunia. Adapun usah-usaha yang pernah dilakukan,antara lain:
1. Pada tahun 1926, telah diadakan kongres kekhalifahan Islam (di Kairo).
2. Pada tahun 1926, Raja Ibnu Sa’ud memparakarsai kongres Muslim sedunia (di Mekah).
3. Pada tahun 1931, diadakan Konferensi Islam sedunia (di Aqsha/Yerussalem).
4. Pada tahun 1949, diadakan Konferensi Islam Internasional kedua (dilaksanakan di Karachi).
5. Pada tahun 1951, diadakan Konferensi Islam Internasional ketiga (dilaksanakan di Mekkah).
6. Pada tahun 1951, pertemuan puncak ummat Islam (di Mekkah).
7. Pada tahun 1964, Konferensi Umat Islam sedunia yang kedua (di Mekkah).
8. Pada tahun 1969, diadakan pertemuan puncak yang melahirkan Organisasi Konferensi Islam (OKI), di Rabat.
9. Pada tahun 1974 diadakan Konferensi Tingkat Tinggi negara-negara Islam Lahore; dalam kesempatan ini Presiden dari berbagai Negara, seperti: Uganda, Mesir, Yaman Utara, dan negara Libya, mereka mengusulkan agar Raja Faisal dari Arab Saudi bersedia untuk dijadikan sebagai khalifah/ amir al-mu’minin, akan tetapi Raja Faisal tidak bersedia untuk dijadikan sebagai pemimpin umat Islam sedunia.

Dalam konteks lokal Indonesia, jauh sebelum diadakannya kongres-kongres ataupun konferensi-konferensi tersebut, telah ada seorang pelopor yaitu, H.O.S.Cokroaminoto, yang mengemukakan gagasan Pan Islamismenya dengan tiga tahapan:
1. Kemerdekaan Indonesia yaitu dengan mengusir penjajah dari bumi Indonesia.
2. Kemerdekaan Islam di Indonesia artinya Islam sebagai satu-satunya sistem kehidupan yang benar,dapat diberlakukan di Indonesia secara sempurna dan dilindungi oleh kekuasaan Negara (Negara Islam Indonesia).
3. Kemerdekaan Islam di dunia yaitu terbentuknya kepemimpinan umat Islam di dunia ini sebagai penjabaran dari lembaga Mulkiyah Allah (Kerajaan Allah).

HOS.Cokroaminoto dengan Sarikat Islamnya (SI) pada tahun 1912, yang ditingkatkan kemudian menjadi Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII) tahun 1930,dan akhirnya dilanjutkan oleh Sekarmadji Maridjan Karto Soewirjo dengan memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII) pada tanggal 12 Syawwal 1368 H/ 7 Agustus 1949 M, yang naskah proklamasinya ada di Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) adalah juga mencita-citakan untuk tegaknya kekhalifahan Islam.

baca juga : https://carubannusantara.or.id/khilafah-dalam-pandangan-beberapa-ulama-salaf

Menurut pemahaman Khilafatul Muslimin, bahwa diperlukan adanya keberanian umat Islam untuk mempelopori tegaknya kembali wadah persatuan umat Islam di bawah sistem Islam yaitu Khilafah Islamiyah sebagai suatu kewajiban mutlak yang tidak mungkin keberadaannya ditunda-tunda lagi tanpa perlu menunggu-nunggu kongres-kongres ataupun konferensi-konferensi yang hanya menghasilkan kekhalifahan Islam sekadar cita–cita belaka (bukan merupakan sistem kepemimpinan yang berjalan).

Atas dasar-dasar tersebut di atas, maka Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ dari Indonesia membuat sebuah konsep “Ma’lumat Khilafatul Muslimin” pada tanggal 13 Rabiul Awal 1418 H/ 18 Juli 1997 yang berisi:


• JAMAAH/KHILAFATUL MUSLIMIN ini berazaskan Islam dan kemerdekaan, bertujuan memakmurkan bumi dan mensejahterakan umat, melalui pelaksanaan ajaran Allah dan Rasul-Nya bersama kebebasan penerapan ajaran semua agama sebagai “PRINSIP DASAR JAMAAH” tanpa memperkenankan seorang warganya membuat aturan/ketentuan/norma-norma yang bertentangan dengan ajaran agamanya sendiri.
• JAMAAH/KHILAFATUL MUSLIMIN ini akan menyelesaikan suatu perkara atau urusan yang menyangkut kepentingan umat melalui musyawarah kekhalifahan secara transparan/penuh keterbukaan dan kebebasan berlandaskan al-Akhlaq al-Karimah.
• JAMAAH/KHILAFATUL MUSLIMIN ini akan berusaha maksimal untuk mewujudkan kerjasama antar umat manusia sesuai ajaran demi keadilan dan kesejahteraan mereka serta kelestarian alam semesta/rahmatan lil ‘alamin.
• JAMAAH/KHILAFATUL MUSLIMIN ini cinta akan kedamaian dan tidak akan melancarkan permusuhan, apalagi peperangan terhadap golongan manapun, kecuali hanya berkewajiban membela diri dari serangan kelompok/golongan yang memeranginya.
• KHALIFAH/AMIRUL MUKMININ dan para AMIR serta warganya akan berupaya membangun segala sarana kemanusiaan dan bergerak di segala bidang, di berbagai aspek kehidupan yang memungkinkan.
• Setiap AMIR dalam suatu wilayah perwakilan/negara harus bersedia bila dicalonkan sebagai pemimpin di negerinya sendiri, dengan tetap mempertahankan “PRINSIP DASAR JAMA’AH” dan pelestarian norma-norma/ hukum-hukum yang tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Nah demi mewujudkan cita-cita kaum Muslimin (tegaknya kembali kakhalifahan Islam) dan untuk mempelopori akan ketiadaan ulil amri, pada tahun 1999 secara resmi nama Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ diangkat sebagai ulil amri dan dicantumkan dalam ma’lumat dan telah diumumkan keseluruh dunia.

Pada Kongres Mujahidin I Indonesia dalam rangka penegakan Syariat Islam di Yogyakarta pada tanggal 5-7 Jumadil Ula 1421 H bertepatan dengan tanggal 5-7 Agustus 2000 M, yang dihadiri oleh umat Islam, baik dari dalam maupun luar negeri, Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ telah membacakan kembali ma’lumat dan menyarankan agar peserta kongres memilih/ menunjuk seorang khalifah (ulil amri) penggantinya, sebagai persyaratan tegaknya syariat Islam; namun peserta kongres hanya memberikan dukungan serta menetapkan kriteria seorang Imam tanpa menunjuk seorang khalifah/ulil amri sebagaimana diusulkan olehnya.

Baraja membayangkan, Islam juga akan mempunyai satu simbol, satu pemimpin utama yang menjadi simbol persatuan umat, yaitu khalifah.
Akhirnya, pergerakan Khilafatul Muslimin meyakini bahwa ketika bendera kekhalifahan telah dikibarkan, maka perjuangan menegakkan Islam dalam sebuah sistem pemerintahan Islam yaitu Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah harus terus perjuangkan.

Demikian kurang lebih pandangan Khilafatul Muslimin mengenai konsep khilafah yang terus mereka perjuangkan. Bagaimana pandangan kita terhadap pandangan mereka ini, akan dapat dibaca dalam tulisan lain di website ini.

Wallahu a’lam.

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × 1 =