Khilafah Ala Manhajinnubuwah Menurut Ulama

Khilafah Islamiyah atau Khilafah ala Manhajinnubuwah adalah konsep tatanegara yang dikaitkan dengan model kepemimpian al Khulafa al-Rosyidun yaitu Abu Bakar Ashidiq, Umar Ibn Khottob, Usman Bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Hasan bin Ali sebagai penutup fase al Khulafa al Rasyidun. sebagaimana disampaikan oleh ibn Abi Izz, Ibnu Katsir dan lainnya.

Model kepemimpinan lima sahabat mulia itu  dinubuatkan oleh nabi sebagai Khilafah ala Manhajinnubuwah sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Khudzaifah al Yamani :

تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ  ثُمَّ يَرْفَعَهَا اللهُ اِذَا شَاءَ اَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مَنْهَجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنُ  ثم يرفعها الله اذا شاء ان يرفعها ثم تكون ملكا عاضا قيكون ما شاء الله أن يكون  ثم يرفعها اذا شاء الله ان يرفعها ثم تكون ملكا جبرية فتكون ما شاء الله أن تكون  ثم يرفعها الله اذا شاء ان يرفعها ثم تكون خلافة على منهج التبوة ثم سكت

Fase kenabian ada ditengah-tengah kalian atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak untuk mengangkatnya, kemudian berganti masa Khilafah yang sejalan dengan konsep Nabi (ala manhajinnubuwah) atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya, kemudian akan ada penguasa yang mencengkeram atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya,  kemudian akan datang masa kekuasan diktator (mulkan jabbariyah) , kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya, kemudian akan muncul kekhalifahan atas konsep kenabian (ala manhajinnubuwwah) kemudian Rasulullah diam. HR. Ahmad  Musnad Ahmad, Juz IV, hlm, 273.

Pandangan Ulama tentang Hadits Khilafah.

Terkait Hadits tersebut Prof Nadirsyah Hosen dalam tulisan yang di muat di NU Online menegaskan Hadits tersebut memeliki kelemahan baik dari sisi sanad maupun matan. Secara sanad, ada nama Habib bin Salim yang oleh Adzahabi dan lainnya disebut sebagai perawi daif, sementara dari sisi matan menurut Prof Nadirsyah Hosen bahwa Khilafah ala manhajinnubuwah yang disebut dalam hadits tersbeut adalah masa pemerintahan Umar bin Abdul Ajiz sebagaimana pendapat Imam Ibnu Hambal , Abu Bakar al Bazzar, Ashuyuthi dan lainnya, bakan Syech Yusuf bin Ismail Annabhani kakek dari Taqiyyudin Annabhani juga berpendapar demikian.

Sehingga menjadikan hadits tersebut sebagai landasan untuk menyerukan sistem Khilafah ala manhajinnubuwwah pada masa sekarang adalah keliru.

Sementara Syech Ali Jum’ah dalam sebuah wawancara Bersama stasiun televeisi Mesir dalam tema “wallahu a’lam” menyampaikan bahwa Hadits tersebut menceritakan fase kepemimpinan di dunia yang dinubuwatkan oleh Rasulullah saw. Beliau meyakini bahwa Khilafah ala Manhajinnubuwah yang terakhir dalam hadits tersebut adalah Imam Mahdi yang kelak akan memimpin umat manusia dengan keadilan. Kesimpulan ini beliau ambil setelah membandingkan berbagai macam hadits dan fakta sejarah. Menurut beliau untuk memahami hadits yang berupa nubuwat (kabar berita tentang masa yang akan datang) maka diperlukan perpaduan dua hal penting yaitu nash syariat dan fakta sejarah. Tanpa memadukan nash sorih dengan fakta sejarah maka kesimpulan dalam mengartikan sebuah hadits nubuwat akan salah, sebagaimana kesimpulan yang di doktrinkan oleh beberapak kelompok yang gencar mengkampanyekan sistem khilafah islamiyah.

Apa yang mereka kampanyekan sebagai khilafah tentu bukan khilafah ala manhajinnubuwah  sebagaimana klaim mereka, sebab khilafah ala manhajinnubuwah yang disampaikan oleh Rasulullah saw, adalah harus juga berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh Rasulullah saw. yang salah satunya berbunyi pemimpin/khalifah harus merupakan orang Qurays. Demikian paparan beliau dalam sebuah wawancara di statiun televisi Nasional mesir.

baca Juga: https://carubannusantara.or.id/ikhwanul-muslimin-lahir-untuk-menekan-hegemoni-barat/

Lebih lanjut Syech Ali Jum’ah menyampaikan padangan Imam Assyaukani yang menyatakan bahwa dengan semakin luasnya sebaran Islam maka setiap wilayah boleh mendirikan kekhalifahan (baca: negara) sendiri dan warga negara memiliki kewajiban taat pada pemimpin yang ada.

Kesimpulan

Khilafah Islamiyah atau juga disebut dengan Khilafah ala manhajinnubuwah adalah fakta sejarah yang pernah dimiliki Islam, namun apakah kelak akan lahir kembali itu menjadi perdebatan dikalangan ulama. Bahkan seandainyapun lahir kembali jelas bukan khilafah yang biasa di jadikan agenda politik kelompok yang berusaha merongrong negara yang berdaulat.

munculnya negara negara berdaulat sendiri oleh Assayukani dianggap boleh dan ketentuan yang berlaku di sebuah negara tidak boleh di intervensi oleh negara lain dan penduduk sebuah negara wajib mentaati pemimpin negaranya. wallahu a’lam

Abdul Hadihttps://carubannusantara.or.id/
Seorang Pelajar, yang selalu berusaha belajar

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 − two =