Leopard “Lone Wolf” Wisnu Kumala

Leopard Wisnu Kumala warga Serang, Banten, Leopard bekerja di PT Masindo Utama perusahaan yang bergerak di bidang servis dan jasa instalasi untuk Industri telekomunikasi Indonesia. Leopard menghadapi ancaman hukuman mati setelah aksi terornya di Mall Alam Sutera.

Leopard menaruh empat bom di mal terluas di Tangerang tersebut selama Juli – Oktober 2015. Leopard mengaku terlilit utang. Sehingga nekat mengancam pihak Mall @Alam Sutera dengan bom. Ia Mengaku memeras uang dalam bentuk 100 bitcoin atau uang elektronik kepada pihak mal melalui e-mail. 1 Bitcoin Rp 3,2 juta. Atau jika dijumlahkan lebih dari Rp 300 juta.

Akan Tetapi permintaan Leopard ternyata tidak dipenuhi pihak Mall @Alam Sutera. Meski pada 9 Juli 2015 lalu, bom yang ia taruh di dalam mal tersebut meledak. Pihak Maall hanya memberikan 0,25 bitcoin. Kalau dicairkan sekitar Rp 700 ribuan.

Ledakan bom kemudian terjadi di kantin karyawan lantai LG Mall @ Alam Sutera, Tangerang, Banten pada pukul 12.00 WIB, ketika karyawan sedang istirahat makan siang. 1 Karyawan terluka akibat ledakan itu

Pihak kepolisian melakukan penyelidikan dan analisis terhadap aksi terror yang dilakukan oleh Leopard sehingga ada beberapa kesimpulan dari penyelidikan tersebut:

  • Lone Wolf Leopard dikategorikan sebagai teroris ‘Lone Wolf’. Sebab, ia bekerja sendiri. Mulai dari merakit bom, mencari target hingga menaruh bom. “Ada jaringan teror yang dikenal atas nama kelompok dan ada jihad tanpa pemimpin, yaitu orang yang melakukan perbuatan teror, inovasi sendiri, dan melakukan perbuatan sendiri. Itu disebut leaderless jihad atau lone wolf,” kata Kapolda Metro Jaya Inspektur Jendera Tito Karnavian, Kamis (29/10/2015). Tak satu pun dari keluarga Leopard tahu ia sedang merakit bom. Saat polisi menggeledah rumah Leopard di Serang, istri dan keluarga Leopard lainnya malah balik bertanya. Dari pengakuan Leopard, ia merakit bom saat istri dan keluarga lainnya tidur. Sehingga tak satu pun orang tahu ia merakit bom untuk meneror dan memeras Mall Alam Sutera.

baca juga: Indonesia Bukan Negara Kafir

  • Bom berdaya ledak tinggi Bom yang dipakai Leopard untuk meneror Mall Alam Sutera memiliki daya ledak tinggi. Kecepatan membakar dari jenis bahan bom, Triaceton Triperoxide (TATP), mencapai 5.400 meter per detik. “Jadi, ada ukuran di bawah 1.000 meter per detik atau 3.000 meter per detik, daya bakarnya berubah jadi gas dan menimbulkan getaran (shockwave). Di bawah itu disebut low explosive,” kata Tito. Dalam aksinya Leopard hanya menggunakan sekitar 10 gram sampai 40 gram TATP. Sehingga, dampak daya ledakan dari bom rakitan Leopard tak menimbulkan hal cukup parah.
  • Bermotif Ekonomi Bukan ideologi, Leopard hanya mengincar uang dari Mall Alam Sutera. Ia memeras dengan cara meneror dengan menggunakan bom yang ditaruh di mal tersebesar di Kota Tangerang tersebut. Sebagai seoranh ahli IT, ia merancang untuk mendapatkan uang hasil perasannya. Ia meminta Mal Alam Sutera mengirim dalam bentuk bitcoin sehingga tak bisa dilacak. “Saya dulu minta 100 bitcoin. Alam Sutera cuma kasih 0,25, sekitar 700.000-an,” kata Leopard dalam rekaman di Jakarta, Rabu (28/10/2015) malam. Dari pengakuan Leopard, ia memeras karena membutuhkan uang. Ia gelap mata dan akhirnya membuat bom untuk memeras Mal Alam Sutera.
  • Taruh 4 bom Leopard tak hanya satu atau dua kali menaruh bom di Mall Alam Sutera. Berdasar penyidikan polisi, Leopard menaruh hingga 4 bom selama bulan Juli hingga Oktober 2015. Saat dikonfirmasi, Leopard membenarkan hal tersebut. Dua bom masing-masing ditaruh pada bulan Juli dan Oktober 2015. Dua bom tidak meledak, yakni pada 6 Juli 2015 dan 21 Oktober. Sedangkan bom pada 9 Juli dan 28 Oktober meledak dan mengakibatkan satu orang terluka. Meskipun tak meledak, Leopard menuturkan bahwa bom pertama pada 6 Juli memiliki dampak kerusakan cukup tinggi. Dengan 40 gram TATP, Leopard juga menaruh bom di dekat penyemprot nyamuk untuk menimbulkan gas beracun. “Iya biar lebih dahsyat,” kata Leopard pada Kamis (29/10) di Mapolda Metro Jaya.
  • Dikenal baik Tak disangka, perawakan luar seseorang bisa menutupi hati di dalamnya. Salah satunya teroris Mall Alam Sutera, Leopard, yang dikenal baik di mata tetangganya. Selama sekitar dua tahun, Leopard dan keluarganya juga tidak pernah ada masalah dengan warga sekitar. “Leo itu orangnya baik, enggak nyangka makanya kalau dia ditangkap polisi gara-gara bom mal. Leo itu juga baru, di sini beli rumah, tinggal sama istri sama anaknya cewek masih kecil,” kata salah satu warga sekitar rumah Leopard, Santosa (54), kepada Kompas.com, Kamis (29/10/2015). Meskipun berulang kali menaruh bom, Leopard tak memiliki gelagat apa pun. Leopard kerap tegur sapa dengan beberapa orang dan ada yang mengira bahwa ia menaruh bom di Mall Alam Sutera.

Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian menyatakan peledakan bom dengan bahan peledak jenis triacetone triperoxide peroxyacetone (TATP) yang dilakukan oleh Leopard Wisnu Kumala (29) baru pertama kali terjadi di Indonesia. TATP bom pertama kali terjadi di Indonesia. Ini yang menarik. Menggunakan chemical bomb namanya,” ujar Tito dalam keterangan pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (29/10).

Tito menyampaikan dalam aksi terorisme di dunia, ledakan dengan menggunakan bahan peledak jenis TATP pernah dua kali terjadi. Kasus pertama dilakukan oleh Richard Reid, warga Inggris yang dijuluki shoe bomber (pembom sepatu).

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × four =