Manifesto Al-Khansa

Sewaktu ISIS masih berjaya di Irak dan Suriah, tepatnya pada 23 Februari 2015, beredar sebuah dokumen yang kemudian dikenal sebagai Manifesto Al-Khansa. Dokumen ini dibuat oleh sayap militer perempuan ISIS, Brigade Al-Khansa, untuk menegaskan eksistensi mereka sekaligus propaganda untuk merekrut para perempuan agar bergabung dengan ISIS.

Manifesto ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama memberikan bantahan panjang tentang peradaban Barat dan pemikirannya, seperti feminisme, pendidikan bagi perempuan dan kritik terhadap sains. Bagian kedua didasarkan pada pengalaman saksi mata tentang kehidupan di wilayah yang dikuasai ISIS, yaitu kota Mosul Irak dan Raqqa di Suriah. Bagian terakhir adalah kritik yang membandingkan kehidupan perempuan yang tinggal di Suriah dan Irak yang dikuasai ISIS dengan kehidupan bagi perempuan yang tinggal di Semenanjung Arab, khususnya di Arab Saudi. Tujuannya jelas sebagai bagian dari propaganda yang ditujukan untuk menghancurkan mitos perempuan dan merekrut pendukung.

Secara umum manifesto ini ingin tetap mengawetkan nilai-nilai konservatisme-fundamentalisme yang selama ini berlaku bagi perempuan, seperti domestikasi perempuan (mengembalikan perempuan ke dalam ruang domestik: mengurus keluarga dan membesarkan anak-anak), hijab, pendidikan, dll. Mereka melakukan kritik terhadap feminisme yang dianggap telah mencerabut hak dan kodrat perempuan sebagai perempuan. Bagi mereka, agama sudah membagi dan mengatur secara tepat peran dan tugas perempuan berdasarkan kebutuhan perempuan. Perempuan sebaiknya berada di rumah dan boleh keluar hanya untuk urusan-urusan tertentu, seperti belajar dan mengajar (jika berprofesi sebagai guru), atau merawat pasien. Juga dibolehkan Jihad dalam kondisi “darurat” dan ada fatwa dari imam. Secara kodrati, perempuan diciptakan dari Adam untuk Adam, juga menjadi istri bagi suami (konco wingking).

Meskipun memberi ruang bagi perempuan untuk berpendidikan, tapi hanya membatasi boleh melakukan studi hanya ketika umur 7 tahun sampai 15 tahun atau lebih cepat lagi. Umur 7 sampai sembilan diajarkan agama (fiqh), al-Quran, dan sains (aritmatika, akuntansi, dan ilmu alam). Dan ketikan menginjak umur 10-15 mereka mulai diajarkan tentang “ahwal al-syakhsiyyah” (hukum keluarga). Perempuan tidak dianjurkan sekolah tinggi-tinggi apalagi hanya untuk mempelajari ilmu-ilmu yang tidak perlu. Karena kebutuhan perempuan hanyalah di wilayah domestik, maka tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Bagi mereka, bekerja bukanlah sebatas di luar rumah. Menjadi ibu rumah tangga pun termasuk pekerjaan.

Mereka mencontohkan kehidupan perempuan di negara-negara seperti Iraq dan Raqqa sebelum dan sesudah dikuasai ISIS. Jika sebelumnya perempuan selalu dihantui ketakutan dan ketidakadilan, setelah dikuasai ISIS, para perempuan bisa hidup bebas dengan pakaian tertutup dan bebas bepergian tanpa rasa takut. Pendidikan dan kesehatan mereka terjamin dan hidup bahagia. 

Namun, sebagaimana pengantar dalam pengantar terjemahan Manifesto al-Khansa, manifesto ini ditulis untuk tujuan propaganda, terutama untuk menarik dan memanggil perempuan-perempuan Arab untuk bergabung dengan ISIS. Propaganda yang mereka sebar melalui Manifesto ini adalah seolah-olah “Kekhalifaahan IS” ini merupakan prototipe bagi “Negara Islam” ideal yang melindungi dan memenuhi hak-hak perempuan. Tidak seperti negara-negara Islam Arab yang disebut mereka sebagai “Negara munafik”. Namun, meskipun dituturkan cerita-cerita dan kesaksian perempuan-perempuan yang hidup di Negara IS, tapi tetap saja tidak meyakinkan dan tidak didukung bukti-bukti kongkrit. Mereka ingin melawan budaya Barat tapi tidak bisa menunjukkan bantahan dan bukti yang meyakinkan.

Selain sebagai perlawanan terhadap feminisme, manifesto ini lebih jauh merupakan respon terhadap peradaban Barat yang dianggap telah menggerus nilai-nilai Islam. Hal ini nampak dari penyebutan kata-kata Barat yang lumayan sering dan digunakan sebagai lawan dari nilai-nilai Islam yang diklaim oleh ISIS. Peradaban Barat yang fokus terhadap sains dan ilmu pengetahuan telah membuat umat Islam lupa untuk beribadah kepada Allah.

Perempuan kemudian ditempatkan sebagai simbol pembeda antara satu peradaban dengan perdaban lainnya. Seperti yang disebutkan dalam Manifesto, bahwa karena adanya feminisme, maka perempuan dan laki-laki mulai mencapuradukkan peran kodrati mereka. Hal inilah kemudian yang membawa kepada kehancuran sistem dunia karena masing-masing orang tidak berlaku sesuai dengan peran kodratinya. Sehingga perempuan dituntut untuk kembali ke rumah, mengurus suami dan anaknya agar menjadi ‘identifier’ atau ‘pembeda’ dari peradaban barat.

Menarik juga ketika mereka mengutip hadis “Apabila seorang isteri mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya (menjaga kehormatannya), dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya.” Bahwa soal pahala saja perempuan masih bergantung terhadap laki-laki. Amalan yang paling utama adalah menaati suami. Berbeda dengan kasus laki-laki ISIS yang dijanjikan pahala besar jika dirinya langsung mengerjakan ibadah, tanpa perlu ada perantara manusia lain.

Perempuan hanya bisa berjihad jika memang ada instruksi dari Imam atau jika keadaan mendesak, yakni musuh datang ke tempat tinggal mereka dan jumlah laki-laki tidak memadai. Hal ini biasa disebut dengan jihad defensive. Logika jihad defensive seperti ini sebenarnya digunakan untuk memanggil para laki-laki untuk datang ke Suriah dan berperang dengan alasan musuh sudah mengepung, sementara agama Islam tidak ada yang membela. Namun, mengapa tidak cukup kuat untuk mengikutsertakan perempuan dalam jihad defensive ini? Se-defensif apakah jihad itu baru perempuan bisa terlibat didalam jihad atau sebagai kombatan? Jadi, sebetulnya, tidak ada perubahan signifikan bagi peran perempuan dalam Manifesto ini. Manifesto ini hanya ingin menegaskan serta mengawetkan nilai-nilai konservatisme untuk melawan Barat. Wallahu Alam

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 − 8 =