Meluruskan Pemahaman Al Wala Wal Bara

Diantara terminologi agama yang sering dipahami secara keliru adalah terminologi Al wala wal Bara. Pemahaman Al Wala wal Bara ini sering dijadikan alat propaganda oleh sekelompok orang untuk menanamkan sikap permusuhan dengan orang-orang non muslim.

Al Wala wal Bara oleh sekelompok orang seringkali dipahami secara harfiah dengan loyalitas terhadap kaum muslimin dan berlepas dari orang kafir, atas pemahaman itu mereka kemudian memposisikan siapapun yang tidak beriman sebagai musuh mereka, sebuah pemahaman yang sangat berbeda dengan fakta bahwa Rasulullah saw dan para sahabat memiliki hubungan harmonis dengan mereka yang tidak seakidah.

Kesalahan memahami ayat-ayat Al-qur’an maupun hadits-hadits nabi merupakan penyebab utama dari segala macam sikap  intoleransi terhadap mereka yang memiliki keyakinan yang berbeda.

Pada tahapan lain pemahaman keliru ini bisa menjadi pemicu dan penyulut api permusuhan yang kemudian melahirkan prilaku-prilaku intimidatif serta radikal bahkan sampai tindakan terorisme, sebuah sikap dan tindakan yang sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran agama Islam itu sendiri.

Ayat-ayat Al-Wala wal Barra

Banyak ayat yang dijadikan dalil oleh sekelompok orang untuk bersikap permusuhan dan intoleransi terhadap mereka yang tidak sama dalam keyakinan, salah satunya adalah ayat dibawah ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آَبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali (kekasih), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan. Dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. At-Taubah [9]: 23)

Lafadz Wali dalam Bahasa arab memiliki makna yang beragam salah satunya adalah Cinta atau kekasih. Pemaknaan Bahasa ini tentu tidak bisa langsung selaras dengan maksud kata wali dalam Al-Qur’an, sebab Al-qur’an memiliki aturan dan runtutan bagaimana sebuah lafadz dimaknai secara tepat.

Sayangnya sekelompok orang kemudian memaknai lafadz Al Qur’an hanya sebatas pemaknaan secara bahasa saja, btas pemaknaan tersebut kemudian ayat ini dan ayat lain yang memiliki makna senada dijadikan landasan sebagai kewajiban untuk tidak menaruh rasa cinta kasih terhadap mereka yang tidak seagama, dalam artian lebih luas menjadikan mereka yang beda aqidah sebagai musuh.

Kesimpulan tersebut dipastikan muncul karena memaknai ayat Al-Qur’an tanpa melakukan analisis dan komparasi dengan ayat-ayat lain.

Menjadikan Ayat lain sebagai pembanding sebelum menyimpulakan

Dalam ilmu ushul fiqih ada istilah  al Jam’u wat taufiq atau dalam bahasa simpelnya kompromi terhadap dua ayat yang terindikasi bertentangan, dalam hal ini ada ayat yang terindikasi bermakna melarang bersikap asih terhadap mereka yang memiliki keyakinan yang berbeda namun ayat-ayat lain malah menunjukkan tentang adanya sikap silih asih tersebut.

Salah satu ayat yang menjelaskan adanya rasa cinta kasih terhadap orang yang tidak seiman adalah:

إِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّاللهَ يَهْدِيْ مَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai akan tetapi Allah memberi hidayah kepada siapapun yang di kehendakinya (Al-Qhasash 56)

Ayat ini secara jelas menegaskan bahwa Rasulullah menaruh cinta kasih terhadap orang yang belum menerima islam dan belum beriman, (ulasan maksud ayat ini bukan dalam tulisan ini tempatnya) hal itu menunjukkan bahwa menjalin hubungan saling asih dengan mereka yang tidak seiman sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Bahkan dalam ayat lain Allah menjelaskan halalnya lelaki muslim menikah dengan ahlul kitab yaitu mereka yang tidak menerima kebenaran islam.

Ayat-ayat tersebut menjadi titik kompromi para ulama dalam memaknai atau mengambil kesimpulan hukum dari surat Attaubah ayat 23 dan ayat lain yang senada yang membahas tentang kewajiban berlepas diri dan tidak menaruh rasa cinta kasih terhadap mereka yang tidak seakidah.

Dari kompromi dua ayat yang secara lahirnya terkesan bertentangan itu kemudian para ulama menympulkan bahwa yang dimaksud dari Al Wala Wal Bara adalah larangan besikap loyal terhadap orang kafir yang hendak mencelakai umat islam, adapun terhadap orang non muslim yang tidak bermaksud mencelakai umat islam maka tidak ada larangan untuk menjalin kerjasama dan bersikap loyal.

Wallahu a’lam.

baca juga: Menjaga Hubungan Harmonis dengan Pemeluk Agama lain

Abdul Hadihttps://carubannusantara.or.id/
Seorang Pelajar, yang selalu berusaha belajar

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen + 20 =