Membangun Deradikalisasi Dengan Jejaring Bersinergi

Whatsapp Pinterest LinkedIn Tumblr +

Dalam era digital, penyebaran konten radikal menjadi arus dominan di dunia maya. Banyak kelompok intoleran melakukan perundungan daring (cyber bullying) kepada individu penyemai perdamaian. Di sisi lain, masyarakat hanya diam atas semua peristiwa yang terjadi tanpa adanya perlawanan sama sekali. Sehingga narasi-narasi intoleran yang ada, kian berkuasa dan merajai pemikiran milenial di Indonesia.

Secara tidak sengaja, mereka termakan jebakan persepsi yang menggiring tingkah laku mereka menjadi amoral. Bermacam sikap yang dimunculkan, mulai dari marah tidak terarah, menuduh sekelompok orang dengan bukti lemah, hingga menjadi pendonor aktif yang menyebarkan konten radikal ke khalayak ramai.

Ada pula yang mengambil sikap apatis terhadap konten-konten radikal. Mereka bersifat netral, tidak mengkonsumsi konten radikal dan tidak berbuat apa-apa untuk menangkalnya. Sikap aman yang ditampilkan, berlandaskan sikap egoistik terhadap perilaku menyimpang. Mereka menjadi pribadi yang tidak mau ambil pusing terhadap segala hal yang tidak berdampak langsung pada kehidupan mereka.

baca juga: Memutus Mata Rantai Paham Intoleran

Memang dalam kenyataannya, menjadi warganet yang siap pasang badan dalam menghadapi konten radikal sulit dilakukan. Apalagi di tengah kepungan berita hoaks dan arus provokasi tinggi, tentu sikap berani akan menguras banyak energi. Dalam beberapa kasus, narasi perdamaian yang dimunculkan dilibas habis dalam muatan kemarahan yang dibungkus kata-kata kasar. Hal ini yang membuat masyarakat kerap kali bersikap apatis terhadap konten-konten radikal.

Sebenarnya masyarakat yang bersikap apatis tidak kekurangan ilmu untuk membedakan konten radikal dan konten perdamaian. Mereka paham konten tersebut dan mereka tahu bahayanya, namun mereka tidak memiliki keberanian untuk melawan. Akibatnya, konten-konten berbau radikalisme dan terorisme akan terus ada dan mengalami perkembangan pesat setiap harinya.

Dalam konteks inilah, perdamaian tidak hanya bisa diwujudkan oleh literasi digital semata. Sikap mendasar yang harus dimiliki masyarakat adalah sikap berani untuk proaktif dalam melawan konten radikal dengan memproduksi konten tandingan. Sikap ini akan memojokkan penyebar konten radikal yang melakukan praktik kotor tersebut. Dengan begitu, konten bernuansa damai dan menyejukkan bisa melebarkan sayap di ranah media sosial.

Gagasan ini bukanlah hal baru, sudah banyak akun-akun media sosial yang sudah terlebih dahulu melakukan gerakan. Di Facebook, Twitter, Instagram, Telegram, dan berbagai aplikasi digital lainnya, sudah bertebaran akun khusus yang digunakan sebagai lawan tanding konten radikal. Akan tetapi, sangat disayangkan, keberadaan akun tersebut masih sangat sedikit dibandingkan akun penyebar konten radikal.

Melihat dari segi jumlah, akan sangat kesulitan melawan ribuan akun yang menggaungkan ideologi serupa. Belum lagi, jumlah yang terbatas itu harus serta merta mengklarifikasi setiap konten radikal yang dimunculkan. Bisa dibayangkan, betapa sulitnya melawan arus radikal yang bercokol di negeri ini.

Maka, yang diperlukan sekarang adalah solusi nyata untuk bersama-sama melawan. Bukan hanya satu atau dua orang yang bergerak, melainkan semua lapisan ikut terjun dalam upaya penyebaran konten perdamaian. Membuat suatu jaringan utuh yang saling terkait dan bekerjasama dalam mensukseskan arus deradikalisasi. Karena setiap individu yang memiliki visi yang sama, haruslah berjaring dan bersinergi untuk menciptakan gebrakan yang dahsyat.

Jumlah orang rasional dan kritis di negeri ini cukup banyak, bahkan menjadi mayoritas. Akan tetapi, mereka memilih menjadi mayoritas yang diam (silent majority). Sungguh, pilihan diam bukanlah pilihan yang bijak di tengah kepungan konten radikal yang kian bersebaran. Oleh karenanya, akan sangat bijak jika setiap individu memikul beban yang sama untuk proaktif melawan konten radikal.

Share.

Leave A Reply

seven + ten =