Menakar Kemampuan Kelompok Teror dalam Mengelola Media Online dan Jejaring Sosial

Whatsapp Pinterest LinkedIn Tumblr +

Cyber Terrorism adalah istilah yang biasa digunakan untuk mendefinisikan sebuah teror dalam dunia maya. Kejahatan dunia maya oleh kelompok teror meliputi banyak hal seperti: peretasan, ancaman, penyalahgunakan data dan lain-lain. Dengan proporsi internet yang digunakan hampir seluruh penduduk dunia, maka kejahatan dunia maya perlu mendapatkan perhatian lebih bagi pengguna dan juga pemerintah tentunya. Karena target dari kejahatan ini bisa menyerang siapa saja. Bahkan banyak sekali kejadian peretasan yang menarget sistem vital suatu negara, seperti satelit, rumah sakit dan komunikasi transportasi umum.

Setiap ada kejahatan, tentu pula disitu ada juga kebaikan yang bisa kita dapatkan. Demikian juga halnya dengan adanya internet. Dalam segi komunikasi, sekarang seperti tidak ada batasan untuk kita berkomunikasi ke berbagai belahan dunia. Begitu juga akses informasi, kita bisa membaca informasi apapun yang kita ingin lihat mulai dari politik, bisnis, kesehatan, teknologi, tutorial, berita dan bahkan sampai hal-hal konyol seperti “cara bernapas” pun bisa kita temukan dalam internet. Ini membuktikan bahwa internet merupakan unlimited source yang didalamnya terdapat segala hal.

Internet sudah menjadi gaya hidup baru. Smartphone dan beberapa gigabyte kuota internet merupakan hal yang wajib bagi mayoritas masyarakat saat ini. Dari sini kita bisa melihat bahwa internet adalah lahan yang sangat besar dengan potensi ratusan juta pengguna aktif yang berada di dalamya. Oleh karenanya, banyak orang menjadikan internet untuk berbagai hal seperti: menjual jasa, beriklan, berkomunikasi sampai mencari solusi. Potensi yang sangat besar ini bukan hanya dimanfaatkan oleh kita saja, akan tetapi kelompok teror pun ikut menjadi salah satu produsen yang punya kepentingan untuk mendistribusikan konten mereka.

Fungsi Internet bagi Kelompok Teror

Aktivitas terorisme cyber adalah pilihan yang menarik bagi para teroris dalam mencapai tujuannya, dengan alasan bahwa:

  • Metode ini lebih murah daripada metode tradisional yang biasa dipraktikkan oleh kelompok atau organisasi teroris seperti pengajian.
  • Cyber terrorism merupakan metode yang lebih aman daripada metode konvensional yang umum digunakan.
  • Jumlah target yang dihasilkan dari cyber terrorisme lebih tinggi
  • Kegiatan cyber terorrisme tidak memerlukan pelatihan fisik dan psikologis
  • Cyber terrorism selalu dianggap memiliki dampak yang lebih signifikan pada orang.

Dalam buku berjudul Terrorism, the Internet and the Social Media Advantage” (2016, PDF), Luke Bertram mengatakan ada dua fungsi internet bagi kelompok teroris

  1. Pertama, ia berfungsi sebagai media komunikasi mencakup rekrutmen, pendirian forum-forum, berkolaborasi dengan jaringan lainnya, hingga distribusi materi propaganda.
  2. Kedua, internet berperan untuk memuluskan operasional kelompok teroris, yang meliputi sabotase infrastruktur di dunia maya sampai mengunggah postingan berbau ancaman. Tujuannya jelas: menyebarluaskan ketakutan.

Jika kita melihat point pertama, maka penggunaan media online dan jejaring sosial menjadi hal yang pokok. Seluruh komponen dalam point pertama akan terdisdribusikan dengan baik melalui perantara tersebut. Banyak dari kita mungkin masih belum sadar bahwa dalam dunia maya, kelompok teroris berada disekitar kita. Bahkan di Indonesia hal-hal yang menyangkut materi keagamaan, banyak dikuasai oleh media mereka.

Baca juga: Personalisasi Algoritma Media Sosial dan Konten Ekstremis

Dulu filter konten dalam media sosial belum seketat sekarang, konten propaganda ekstrem dan tutorial banyak ditemukan dalam media sosial maupun media online. Sekarang berbeda karena baik pihak perusahaan seperti facebook, twitter, Google dan lainnya maupun pemerintah sudah memonitor ketat jejaring terorisme di dunia maya. Hal tersebut berimbas pada konten dari kelompok teror itu sendiri. Mereka tidak lagi bisa menyebar konten propaganda secara vulgar.

Data Penanganan Konten Radikalisme 2017 - 2019
Data Pemblokiran Konten Radikalisme oleh Kominfo

Oleh karenanya, kelompok teror perlu memodifikasi konten agar bisa lolos. Bahkan bisa dikatakan modifikasi konten ini sangat berbahaya, karena narasi maupun visualnya dikemas layaknya konten moderat. Kita akan dibuat betah dan tanpa disadari sedikit demi sedikit kita akan tergiring dalam pemikiran intoleran sampai radikal. Mereka memiliki kemampuan sangat baik dalam pengelolaan kanal-kanal media online dan jejaring social. Website yang kontennya bermuatan intoleran atau anti pemerintah, memenuhi laman pertama pencarian google. Begitupun channel YouTube yang berisi video-video pengajaran agama berbau radikal, memiliki ratusan ribu pelanggan (subscriber). Semua hal tersebut terjadi di Indonesia. Kita perlu menakar kehebatan kelompok teror dalam pengelolaan jejaring sosial dan internet secara umum.

Pengelolaan Media Online

Portal berita atau website yang berisi ideologisasi radikal banyak memenuhi laman pertama search engine Google. Beberapa keyword penting seperti “berhijab dengan benar” dengan search volume yang lumayan tinggi sekitar 100 – 10.000 per-bulan, dikuasai oleh media dari kelompok radikal. Website mereka muncul di posisi pertama hasil pencarian Google. Belum lagi beberapa keyword lainnya.

Ini menandakan bahwa pengelolaan website mereka, digarap dengan sangat baik. Mereka memiliki kemampuan mengoptimasi website dan konten (SEO) untuk menaikkan ranking di google, dan mampu bersaing dengan website dari media mainstream seperti NU, Tirto dan bahkan Detik. Jika kita kalkulasikan, peringkat pertama pencarian google mempunyai sekitar 70% kemungkinan untuk di klik oleh pengguna, sedangkan posisi kedua sekitar 50%. Semisal sebuah keyword mempunyai volume pencarian perhari 10.000, maka pengunjung yang akan didapat sekitar 7000 visitor dalam hanya satu hari.

Selain optimasi SEO, tampilan dan artikel yang mereka pampang pada laman web juga terbilang menarik. Diksi kata dan gambar yang mereka tampilkan jelas bukan asal bikin. Dengan kata lain, mereka benar-benar serius mengonsep dan mengatur isi konten didalamnya. Begitupun tim redaksi yang mungkin diisi oleh orang-orang yang ahli dalam bidangnya.

Pengelolaan Media Sosial

Kanal media sosial seperti YouTube menjadi salah satu platform yang digunakan oleh kelompok teror untuk menyebarkan paham radikal. YouTube menduduki peringkat pertama jejaring sosial yang paling banyak diakses dengan 88% dari sekitar 150 juta pengguna internet di Indonesia. 66% pengguna berumur 18 – 34 tahun.

Campaign kelompok teror di jejaring sosial berbagi video ini kebanyakan dikemas dalam bentuk ceramah. Puluhan ustadz yang menyampaikan isi ceramah provokatif, memiliki channel sendiri. Belum lagi channel lain yang berisi kumpulan translate ceramah ulama dari luar negeri.

Jumlah pelanggan dari masing-masing channel tersebut rata-rata berkisar antara puluhan sampai ratusan ribu. Dengan views rata-rata per-video hampir menyentuh angka jutaan. Semua channel terkelola dengan sangat baik. Dari segi visual, suara maupun isi di dalam video.

Untuk medapatkan sebuah video yang menarik ditonton, harus ditopang dengan alat-alat dan juga tampilan visual yang baik. Jika kita melihat beberapa video ceramah provokatif, hampir semuanya sangat menarik untuk ditonton, penyampaian yang mudah dipaham, ditambah visual yang tidak membosankan, menjadikan pengguna betah menonton.

Dari segi market audience, mereka tahu betul tentang interest audience di Indonesia. Video bertema religi yang membahas masalah sehari-hari, adalah salah satu yang memiliki pasar audience sangat besar. Sayangnya tema tersebut sebagian besar dikuasai oleh video mereka. Dalam artian, jika seseorang mencari solusi agama atas masalah sehari-hari di YouTube, maka kemungkinan besar yang akan ditampilkan dalam beranda YouTube adalah video-video buatan mereka ini.

Sekarang ini channel atau ceramah dari ustadz yang tidak provokatif sangat tertinggal. Ironisnya lagi, banyak dari pengguna yang justru menyerang dengan komentar hate speech. Bukan hanya satu atau dua, tetapi mereka membanjiri kolom komentar dengan narasi provokatif.

Pemanfaatan internet oleh kelompok radikal terbukti dikelola dengan sangat-sangat baik. Imbas dari penyebaran paham radikal melalui internet, sudah banyak menuai hasil. Dari hasil survey yang dilakukan oleh Sholahuddin dengan mewawancarai napi terorisme, menunjukan adanya perbedaan yang signifikan dalam hal terpaparnya paham radikal. Jika pada tahun 2000-an, proses radikalisasi seseorang memakan waktu hingga bertahun-tahun, tapi napiter tahun 2010 hingga sekarang hanya butuh hitungan bulan saja untuk menjadikan seseorang radikal. Sholahuddin menuturkan, media sosial merupakan sarana utama dalam percepatan ideologisasi radikal.

Share.

Leave A Reply

one + fifteen =