Menangkal Benih Radikalisme di Lembaga Pendidikan

Whatsapp Pinterest LinkedIn Tumblr +

Terorisme masih menjadi sebuah ancaman bagi negara kita, meskipun tampak tidak ada gerakan teror yang muncul dipermukaan, tapi upaya untuk melakukan kaderisasi oleh kelompok teror diyakini masih terus dilakukan, sasaran mereka tentu para generasi muda terutama yang masih dalam usia sekolah.

Indoktrinisasi yang dilakukan oleh kelompok teroris banyak cara, salah satunya melalui buku, baik buku umum maupun buku pelajaran sekolah. Dari sini tahapan menuju teroris dimulai, dengan dikenalkannya instrument radikalisme.

Pada tahun 2015 telah ditemukan buku pelajaran agama kelas XI di jombang, pada halaman 78 terdapat materi buku yang mengajarkan radikalisme. Di sana tertulis, para siswa diperbolehkan membunuh orang musyrik. Tahun 2016 beritasatu.com memberitakan, Gerakan Pemuda (GP) Ansor menemukan buku pelajaran untuk tingkat taman kanak-kanak (TK) yang berbau unsur radikalisme beredar di Depok, Jawa Barat.

Buku tersebut dikemas dalam bentuk metode belajar membaca praktis berjudul “Anak Islam Suka Membaca. Di dalam buku tersebut, terdapat 32 kalimat yang mengarahkan kepada tindakan radikalisme, di antaranya sabotasegelora hati ke Saudibomsahid di medan jihadselesai raih bantai Kiai, hingga cari lokasi di Kota Bekasi

Dari dua kejadian diatas menjelaskan bahwa ajaran radikalisme tidak hanya merambah ke tempat-tempat yang dianggap sebagai sarang radikalisme saja. Namun juga telah merasuki instansi yang dianggapnya steril dari ajaran radikal.

Salah satunya adalah instansi pendidikan. Secara perlahan ajaran radikalisme  mendorong peserta didik sebagai generasi intoleran. Tanpa disadari, buku ajar menjadi salah satu pemicu tindakan radikalisme dengan menggunakan bahasa-bahasa radikal.

baca juga: https://carubannusantara.or.id/peran-lembaga-pendidikan-dalam-deradikalisasi

Kita tahu bersama bahwa pendidikan dipahami sebagai upaya manusia menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi, baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada didalam masyarakat dan kebudayaan.

Nilai-nilai itu kemudian dikembangkan melalui proses pendidikan dengan tujuan akhir nilai-nilai tersebut menjadi watak atau karakter yang dimiliki terdidik. Apa jadinya jika generasi usia sekolah kemudian terpapar paham terorisme, tentu negara kita ini tinggal menunggu kehancuranya saja.

Upaya pemerintah dalam menangkal paham radikal pada generasi usia sekolah adalah dengan cara menguatkan pendidikan karakter yang dituangkan dalam kurikulum pendidikan di negara kita.

Pendidikan karakter sudah dicoba sejak  era presiden Soekarno, sebelum gerakan terorisme merebak di Indonesia, secara umum isi dari pendidikan karakter adalah upaya melakukan penguatan karakteristik ke-indonesia-an, tanpa mengenyampingkan karakteristik wilayah atau daerah, dengan harapan mampu membentuk kepribadian dan karakteristik pada generasi penerus yang kelak akan menjadi identitas bangsa.

Banyak pihak sepakat bahwa radikalisme yang masuk ke sekolah melalui; (1) aktivitas pembelajaran di kelas oleh guru, (2) melalui buku pelajaran yang diduga memuat konten intoleransi, (3) melalui pengaruh dan intervensi alumni dalam kegiatan kesiswaan di sekolah dan (4) lemahnya kebijakan kepala sekolah/yayasan dalam mencegah masuknya pengaruh radikalisme.

Poin pentingnya adalah bagaimana penguatan seorang pendidik dalam memahami bahaya radikalisme bagi keutuhan sebuah negara yang kemudian mampu mentransfer kepada peserta didiknya, sehingga ketika terjadi penyusupan paham terorisme melalui buku pelajaran bisa terdeteksi lebih dini.

Bukan justru pendidik malah  mengajarkan kepada siswa untuk memusuhi negara ini dengan segala konsensus dan simbol-simbol kebangsaannya. Semisal mengatakan bahwa Pancasila adalah thogut, UUD 1945 (dan segala perangkat hukum di bawahnya) adalah buatan manusia sehingga tak wajib dipatuhi, hormat kepada bendera merah putih adalah haram atau bid’ah.

Persoalan ini butuh kerjasama yang erat antara pemerintah, pendidik dan juga orang tua untuk menangkal gerakan radikal masuk ke wilayah sekolah juga perguruan tinggi.

Salah satunya adalah dengan mengenalkan budaya dan tradisi lokal sekaligus menanamkan nilai-nilainya kepada generasi usia sekolah, kemudian pemerintah melalui regulasinya memasukan mata pelajaran khusus yang membahas tentang budaya dan tradisi lokal di tiap-tiap daerah sesuai sekolah atau perguruan tinggi itu berasal.

baca juga: https://carubannusantara.or.id/peran-pemuda-dalam-menangkal-radikalisme

Selain itu pemerintah juga harus memperketat perijinan pendirian sekolah, dalam memberikan ijin tersebut sebaiknya pemerintah harus menganalisa terlebih dahulu, jangan sampai sudah diberikan ijin dan sudah berjalan bertahun-tahun kemudian baru terdeteksi bahwa sekolah tersebut berafiliasi dengan kelompok radikal dan mengajarkan paham-paham anti pancasila.

Share.

Leave A Reply

10 + 7 =