Menangkal Radikalisme dengan Website Kebangsaan

Internet menjadi dua mata pedang yang saling berlawanan. Satu sisi, dia bertindak sebagai pahlawan dengan mempublikasikan warta ke seluruh dunia. Namun sisi lain, internet kerap kali digunakan untuk menyebarkan virus terorisme dan radikalisme ke seluruh warga.

Seperti perkataan Brauchler (2014) bahwa teroris dunia telah membangun jaringan komunikasi sebagai sebuah alternatif untuk menyebarkan propagandanya. Alasan kuat mengapa internet kerap dijadikan lumbung kemenangan kelompok radikal adalah karena sifat internet yang menyeluruh dan bersahabat pada seluruh umat.

Sifatnya yang menjangkau kelompok kecil hingga pejabat maupun kaum intelektualis, membuatnya menjadi perantara efisien dalam publikasi ide-ide terorisme. Terorisme sering muncul dari kalangan bawah. Pernyataan ini bisa kita kuatkan dari sejumlah tokoh teror yang tidak puas akan sejumlah kebijakan politik, ekonomi, sosial, dan agama.

Seperti yang digaung-gaungkan sejak orde baru, bahwa kelompok teror tidak puas akan Pancasila yang diusung sebagai ideologi negara. Mereka menginginkan Islam bukan hanya sebagai bentuk agama, namun masuk dalam politik praktis yang ikut mengatur jalannya pemerintahan.

Baca juga: Indonesia “DARURAT” Toleransi

Mereka terus menyuarakan sistem mayorita-minoritas yang bisa dijadikan kekuatan besar dalam reformasi ideologi. Jumlah masyarakat muslim yang banyak di Indonesia dijadikan dalil untuk mengubah konsensus sehuah negara. Mereka menganggap bahwa yang banyak adalah penguasa, dan yang sedikit harus menghargai dan patuh pada yang banyak. Sistem demikian tak ubahnya seperti sistem rimba, dimana kekuatan besar bisa semena-mena terhadap kekuatan kecil.

Jika hal ini terus dipraktekkan, maka nilai-nilai kemanusiaan akan hilang. Manusia akan kehilangan sifat sosialnya, karena yang dipikirkan adalah keuntungan. Bagaimana meraih untung sebanyak-banyaknya dengan melibatkan tenaga yang minimal. Sungguh Islam dalam kehancuran jika sistem ini yang dipraktekkan dalan membangun pondasi ajaran. 

Sejak disebarkakan Nabi Muhammad saw, Islam terus menerus menolong kelompok lemah. Kalangan budak-budak menjadi prioritas utama dalan meraih maslahat. Bilal bin Rabbah adalah salah satu budak yang dibebaskan, kemudian menjadi salah satu tokoh terkenal dalam sejarah Islam. Agama Islam tidak hanya diisi oleh orang dengan garis keturunan mulia ataupun mereka yang mempunyai harta dan derajat tinggi.

Namun wajah Islam juga diwarnai oleh tokoh-tokoh yang sangat direndahkan manusia. Bahkan dalam prakteknya, Islam juga santun kepada mereka yang berbeda keyakinan. Dengan praktek politisasi Islam dalam negara multikultural, bukan tidak mungkin Islam hanya menjadi basis kekuasaan, bukan agama secara semestinya.

Islam hanyalah sebagai nama, yang mana didalamnya digerogoti oleh sifat tamak pemeluknya akan kekuasaan dunia. Semua hilang nurani, menindas saudara seiman maupun non-muslim secara berani. Prinsip-prinsip Islam akan hilang seketika dimakan oleh nafsu berkuasa dan meraih keuntungan sebanyak-banyaknya.

Bentuk seperti ini yang dikhawatirkan oleh para kiyai dan pembesar agama di negeri ini. Pergeseran dunia ke arah digital sudah semestinya dimanfaatkan secara maksimal. Konsep edukasi harus diperbarui agar lebih kreatif dan menarik untuk disimak masyarakat luas. Dua sisi internet harus ditarik ke arah narasi-narasi pencegah radikalisme dan terorisme.

Tugas ini bukan hanya diemban oleh pemerintah ataupun lembaga terkait saja, namun semua orang bertanggung jawab untuk sama-sama mencerdaskan bangsa dengan konsep-konsep kebangsaan. Langkah ini bisa dimulai dengan pembuatan website. Dimana dalam laku digital, website menkadi tempat menarik untuk mencari informasi.

Biasanya masyarakat merujuk pada mesin pencari seperti google misalnya untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya. Media seperti ini haruslah dibangun dengan prinsip toleran dan nilai kemanusiaan.Dalam internet sudah banyak website yang mengusung nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa, serta counter terhadap narasi terorisme yang diusung oleh kelompok radikal.

Baca juga: Kelompok Takfiri & Radikalis Masih Eksis

Salah satu bukti nyata website yang mengabdikan dirinya dalam pemberantasan terorisme adalah Carubannusantara.org. Website ini terus memberi edukasi tentang bagaimana, melalui apa, dan siapa saja dibalik terorisme di Indonesia maupun mancanegara. Tujuannya tidak lain untuk membebaskan negara Indonesia dari kekangan terorisme yang terus memancing pertengkaran.

Namun seperti platform digital pada umumnya, sebuah website bisa berkembang dengan mengikutsertakan banyak orang didalamnya. Maka peran serta aktivis, intelektualis, peneliti, pemerhati, ataupun masyarakat umum diperlukan untuk sama-sama membangun jaringan kuat pemberantas radikalisme dan terorisme.

Karena dengan menggabungkan kekuatanlah paham-paham tidak benar bisa dihancurkan. Dan dengan persatuanlah Indonesia akan senantiasa mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan.

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen − ten =