Mencegah Inkubasi Terorisme di Lembaga Pendidikan

Sebagai negara dengan ideologi pluralis nan terbuka yaitu Pancasila, Indonesia harus terus menerus mewaspadai, mencegah, dan melawan radikalisme yang dapat memecah belah dan mengganggu keselamatan negara dan bangsa. Dalam kontinum ideologis, radikalisme merupakan simpul kritis yang mengantarkan pihak atau aktor terpapar pada tindakan teror dan perlawanan fisik-sistemik atas Negara. Sehingga kita memiliki kewajiban untuk menjaga generasi penerus bangsa dari asupan-asupan yang akang merusak mereka.

Anak adalah busur anak panah masa depan bangsa. Mereka dilahirkan untuk memberi warna arah dan perjalanan bangsa. Jika anak yang dilahirkan sudah lebih dahulu diwarnai dengan didikan dan asuhan yang salah dan sesat, maka negara sudah pasti akan memperoleh curahan generasi yang sesat yang tidak saja suka merusak diri dan keluarganya, tapi juga lingkungan termasuk bangsa dan negara.

Anak mestinya tidak dalam domain destruktif seperti itu. Masalah pilihan ideologi, hidup yang suci dan sesuai ajaran-ajaran agama memang adalah makanan bergizi yang memang harus diasupkan ke anak sejak dini. Mereka perlu tahu nilai-nilai keagamaan sebagai bekal hidup agar akhlak dan jiwa mereka lurus, tidak terkontaminasi oleh benih-benih kezaliman dan kebatilan.

Tapi, alangkah bobroknya jiwa orangtua jika anak kandungnya sendiri dijadikan objek pencekokan nilai-nilai sesat bertopeng agama sekadar untuk memenuhi ambisi ideologis yang naif.

Hasil Survey Alvara Research Center

Kita harus mengakui bahwa penetrasi ajaran intoleran sudah masuk di kalangan pelajar. Hal itu diperkuat saat menjadi mahasiswa melalui kajian-kajian di kampus seperti diungkapkan CEO Alvara Research Center. Menurutnya, berdasarkan hasil survei yang dilakukan Mata Air Fondation dan Alvara Research Center, 23,4 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar SMA misalnya setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam atau khilafah.

baca juga: Leopard “Lone Wolf” Wisnu Kumala

Survei Alvara secara khusus dilakukan untuk mengukur sikap dan pandangan keagamaan kalangan pelajar SMA dan mahasiswa di Indonesia. Survei dilakukan terhadap 1.800 mahasiswa di 25 perguruan tinggi unggulan di Indonesia, serta 2.400 pelajar SMAN unggulan di Pulau Jawa dan kota-kota besar di Indonesia.

Pelajar dan mahasiswa yang disurvei menggeluti bidang studi bidang pertahanan keamanan, keuangan, energi pangan, telekomunikasi, kesehatan, pendidikan, dan manufaktur. Riset menggunakan pendekatan kuantitatif dan pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tatap muka pada kurun waktu 1 September-5 Oktober 2017.

Semua responden beragama Islam dengan populasi seimbang antara pria dan wanita. Dari survei ini diketahui bahwa ada 23,5 persen mahasiswa dan 16,3 pelajar menyatakan negara Islam perlu diperjuangkan untuk penerapan agama Islam secara kaffah.

Sebagai salah contoh pelibatkan anak dalam praktik kekerasan seperti adegan pengeboman di Surabaya adalah teror berwajah pengkhianatan kemanusiaan yang tak terampunkan dalam peradaban mana pun. Anak diseret dan dieksploitasi ke dalam gelombang kekerasan oleh orangtua melalui indoktrinasi radikalisme yang dipelihara dan dipupuk sekadar untuk membangun negeri impian menurut paham yang diyakini.

Kita Sebagai orang tua haruslah mampu menjadi benteng pertama dalam menghalau paham-paham yang akan merusak. Kita harus memperkokoh dan  memproteksi anak-anak dari paham-paham yang bertentangan dengan nilai Pancasila. Keluarga harus membiasakan diri menjadi tempat yang hangat untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan, kelembutan, kasih, dan menghargai perbedaan lewat teladan nyata orangtua di rumah.

Konsumsi bacaan, sumber belajar anak, serta teman pergaulannya harus mendapat pengawasan yang ketat oleh orangtua. Keluarga tidak boleh kalah cepat sedetik pun dengan pergerakan kelompok-kelompok sesat-radikalis

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

13 − 3 =