Meneguhkan Risalah Rasulullah Dalam Menghadapi Radikalisme

Islam merupakan agama yang cinta akan kedamaian. Islam memerintahkan untuk saling menyayangi antar sesama manusia, secara universal Rasulullah di utus untuk mengajarkan kepada manusia apa arti dari kedamaian, tidak lagi memandang ras, suku, bangsa, warna kulit, kelompok, setrata sosial maupun agama.

Hal ini juga diperjelas dalam firman Allah swt dalam kitabnya yang berbunyi: “Dan tidaklah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.

Didalam islam tidak dikenal dan tidak ada ajaran kekerasan yang dapat mengganggu ketertiban umum dan meresahkan masyarakat. Hal ini sebagai mana diungkapkan oleh Majelis Ulama Indonesia tentang gerakan terorisme, yaitu; “Terorisme adalah tindakan kejahatan terhadap manusia dan peradabannya yang menimbulkan ancaman serius bagi kedaulatan sebuah Negara”, bahaya terhadap keamanan, perdamian dunia, serta merugikan masyarakat, sebab hasil ataupun dampak terorisme itu sendiri sangatlah nyata, seperti halnya bom bunuh diri yang sudah jelas akan memakan korban.

Terorisme adalah salah satu bentuk kejahatan yang terorganisir dengan baik (well organized), bersifat tran-nasional dan digolongkan sebagai kejahatan luar biasa (ekstra ordinary crime) yang tidak membeda-bedakan sasaran, baik itu wanita, lansia, bahkan anak-anak juga akan menjadi korban terorisme, maka dengan pertimbangan tersebut MUI berpendapat bahwa gerakan terosrisme hukumnya haram.

Rasulullah yang merupakan suri tauladan yang sangat baik bagi kita yang layak dan patut dicontoh dan dijadikan sebagai panutan. Deskripsi akhlak dan perilaku Nabi Muhammad SAW tidak sedikitpun mencerminkan aura kebencian, permusuhan, kekerasan dan anarkis.

baca juga: Agama Sumber Inspirasi Kedamaian

Sebagaimana Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada diri (Rasulullah) itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah  dan (kedatangan) hari kiamat  dan dia banyak menyebut Allah.” (QS.al-Ahzab:21).

Diperlukan upaya-upaya untuk meneguhkan kembali misi kasih sayang dan perdamaian sebagai inti dari ajaran Islam supaya kita tidak salah mengartikan apa itu jihad dan meminimalisir bibit-bibit terorisme selanjutnya. Upaya-upaya tersebut antara lain:

Pertama, memahami ajaran agama dengan baik dan mengkontektualisasikan ajaran tersebut seiring dengan perubahan zaman. Sebab pada zaman sekarang banyak yang salah kaprah dalam memaknai arti dari agama Islam itu sendiri, dan juga dengan semakin majunya teknologi sekarang lebih muda berdakwah dengan menggunakan media sosial baik youtube, instragram, facbook , maupun media lainnya.

Kedua, menerima dan menghargai perbedaan pendapat dan tidak memaksakan suatu pendapat ataupun keyakinan terhadap orang atau kelompok lain.

Ketiga, menyikapi perbedaan sebagai sunatullah dan anugrah dari Allah SWT.

Keempat, berdakwah dengan cara yang santun dan bijaksana sebagai mana yang sudah di ajarkan oleh Rasulullah.

Kelima, berdakwah dengan tujuan unutuk menebarkan kebaikan bukan kebencian dan juga tidak sebagai ajang untuk mencari pundi-pundi rupiah.

Keenam, meneladani kepribadian dan akhlak Rasulullah SAW sebagai pemegang otoritas pembawa risalah ke bumi.

Unsur dari terorisme sendiri ada tiga macam.

Pertama, kekerasan, sudah pasti hal yang tidak baik sebab dengan kekerasan bukan menyelesaikan masalah, melainkan akan menambah masalah dikemudian hari.

Kedua, tujuan politik tidak dapat dipungkiri hampir semua kelompok atau organisasi tidak lepas dari politik, sebab dengan politik kita dapat memperkuat suatu kelompok dan mendapat keuntungan tersendiri.

Ketiga, teror, dalam hal ini terorisme di Indonesia hampir pasti menggunakan identitas agama, dikarenakan apapun yang mencakup agama itu adalah hal yang sensitif, dan oleh sebab itu sebaiknya dalam memilih guru agama kita harus memilih dan memilah dengan baik, supaya tidak salah jalan dikemudian hari.

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 3 =