Mimbar Propaganda Teroris

Dua Gembong Teroris

Upaya pemerintah dalam memerangi kelompok radikal semakin hari semakin nyata, pencegahan aksi teror melalui penagkapan-penangkapan terduga teroris terus dilakukan. Sepanjang  tahun 2020 aparat berhasil menangkap 228 terduga teroris di berbagai wilayah di indonesia, dari penangkapan tersebut dua diantaranya adalah terdapat buronan kasus terorisme yang sudah bertahun-tahun buron.

Keduanya merupakan anggota jamaah islamiyah yang ditangkap di Sumatera pada bulan Desember tahun 2020. Kedua buronan teroris itu bernama Zulkarnaen dan Upik Lawanga.

Zulkarnaen alias Aris Sumarsono alias Daud alias Zaenal Arifin alias Abdulrahman adalah pria kelahiran Sragen, tahun 1963. Pernah menempuh kuliah pada jurusan Biologi di kampus yang berada di jogjakarta.

Zulkarnaen ditangkap di Gang Kolibri, Toto Harjo, Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur, Lampung, Kamis, 10 Desember 2020, setelah buron kurang lebih selama 18 tahun. Menurut aparat kepolisian keterlibatan Zulkarnaen dalam aksi terorisme sudah cukup banyak, salah satunya adalah keterlibatanya dalam serangan teror bom di Bali pada Oktober 2002, pada saat kejadian tersebut Zulkarnaen menjabat sebagai panglima askari (kelompok bersenjata) jamaah islamiyah.

Selain itu Zulkarnaen juga terlibat dalam konflik-konflik di Poso dan Ambon, dalam melancarkan aksinya Zulkarnaen membentuk Unit Khos yang diketahui sama seperti special taskforce atau satuan tugas (satgas) yang merupakan sebuah unit atau formasi yang dibentuk untuk mengerjakan tugas tertentu. zulkarnaen juga turut serta dalam menyembunyikan buronan teroris yang bernama Upik Lawanga.

Upik Lawanga alias Taufik Bulaga alias Udin merupakan kelompok terorisme di Poso, Sulawesi Tengah. Lewat sejumlah aksinya dia dilaporkan telah menewaskan 27 orang dan melukai 92 orang lainnya. Upik Lawanga ditangkap pada bulan November tahun 2020, ia merupakan tokoh penting Jamaah Islamiyah, peristiwa teror bom dari tahun 2004 sampai tahun2006 terdapat keterlibatan Upik Lawanga di dalamnya.

Dalam keterangan persnya Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono Upik mampu mempelajari karakteristik wilayahnya ketika membuat bom, selain itu upik juga mampu membuat senjata api, sehingga upik dijuluki profesor oleh kelompok Jamaah Islamiyah sekaligus penerus Dr. Azhari. Setelah buron selama 14 tahun akhirnya upik tertangkap pada bulan November 2020.

Pemanfaatan Sosial Media Oleh Teroris

Meskipun penangkapan terhadap kelompok teroris terus dilakukan akan tetapi tidak membuat para pendamba berdirinya negara islam di indonesia ciut nyalinya atau berhenti bergerak, justru di era internet ini mereka memanfaatkan ruang-ruang publik untuk melancarkan propagandanya, sepertihalnya di youtube kita masih menjumpai seorang anggota JAT bernama Zulkarnaen Yusuf yang bebas mengkampanyekan ide-ide negara khilafah sekaligus men-Toghut-kan negara yang belum menggunakan sistem khilafah seperti indonesia.

Kita ketahui bersama bahwa JAT merupakan salah satu organisasi yang dilarang di indonesia, sebab sejak didirikan pada tahun 2008 silam, JAT banyak merangkul anggota Jamaah Islamiyah yang terlibat dalam terorisme sebagai anggotanya, lalu sang pendiri sekaligus pemimpin JAT yaitu Abu Bakar Ba’asyir menyatakan diri berbaiat kepada ISIS. Sehingga kemudian JAT layak di sejajarkan dengan organisasi-organisasi teroris lainnya.

Baca Juga : Indonesia Bukan Negara Kafir

Tentu bukan hanya Zulkarnaen Yusuf saja yang memanfaatkan fasilitas sosial media untuk dapat melakukan propaganda atau ajakan untuk meng’iya’kan bahwa indonesia sebagai negara kafir, asal memasukan kata kunci Toghut saja pada laman pencarian web, kita akan menemukan para pegiat negara khilafah yang masih eksis sampai hari ini.

Inilah yang masih menjadi PR pemerintah untuk dapat menutup ruang-ruang kominikasi publik bagi orang-orang yang ingin menyebarkan faham-faham anti Pancasila.

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

13 + 4 =