Mujahidin Indonesia Timur – Sel Kelompok ISIS di Poso

Whatsapp Pinterest LinkedIn Tumblr +

Siapa MIT ?

Mujahidin Indonesia Timur yang umumnya disingkat menjadi MIT, adalah kelompok militan Islam yang beroperasi di wilayah pegunungan Kabupaten Poso dan bagian selatan Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah di Indonesia.

Kelompok ini biasanya melakukan aksi teror mereka di daerah Sulawesi Tengah, tetapi mereka juga mengancam untuk menyerang target mereka di seluruh Indonesia. Beberapa aksi teror dari MIT biasanya memakan korban jiwa, dan mereka juga dilaporkan terlibat dalam bentrokan kelompok Muslim dan Kristen di Maluku pada 1999 hingga 2002.

Sejarah Mujahidin Indonesia Timur

Pengaruh ideologi radikal transnasional

Untuk memetakan sejarah awal munculnya MIT, peran ideologi ekstrim/jihad yang berkembang di indonesia menjadi hal yang pokok. Paham yang disebarkan oleh tiga tokoh penganut Tauhid wal Jihad, sebuah ideologi jihad yang muncul di Irak pada 2001, yaitu Abu Muhammad al-Maqdisi, Abu Musab al-Zarqawi, dan Abu Bakr al-Baghdadi masuk ke Indonesia pada 2001. Zarqawi kemudian mendirikan Negara Islam Irak. Orang pertama di Indonesia yang diketahui menyerap dan menyebarkan paham itu adalah Aman Abdurahman.

Pada 2008, Aman terlibat dalam pembentukan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) yang didirikan oleh mantan pemimpin Jamaah Islamiyah, Abu Bakar Ba’asyir. Beberapa orang yang menjadi anggota perkumpulan itu adalah Santoso alias Abu Wardah dan juga Bahrumsyah yang nanti akan membentuk Mujahidin Indonesia Barat (MIB). Empat tahun kemudian, kelompok tersebut masuk daftar Organisasi Teroris Asing oleh pemerintah Amerika Serikat.

Pembentukan Negara Islam

Tahun 2009 Kelompok Lintas Tanzim Aceh menggagas terbentuknya negara islam. Kelompok ini merupakan aliansi dari berbagai macam kelompok jihad Indonesia seperti JAT, Kelompok Ring Banten, Mujahidin KOMPAK, Tauhid wal Jihad, dan kelompok lainnya. Penggagas utama Lintas Tanzim Aceh adalah Dulmatin, buronan teroris nomor satu di Asia Tenggara saat itu.

Dulmatin pelaku bom bali
Dulmatin

Dulmatin menghubungi sejumlah tokoh untuk mendukung gagasannya. Amir JAT saat itu, Abu Bakar Ba’asyir, setuju. Ba’asyir sempat meminta bantuan Abu Tholut, pengurus JAT, untuk membantu proyek ini dan bersedia membantu pendanaan proyek ini. Menurut rencana awal, Aceh akan dijadikan qoidah aminah atau daerah basis, setelah itu baru dideklarasikan Negara Islam. Aceh kemudian menjadi basis pelatihan militer. Tetapi proyek ini berhasil terendus oleh pemerintah dan pelaksanaan pelatihan militer di Jalin Janto Aceh berhasil di gagalkan aparat keamanan.

Pada 2010, dalam penyerbuan di Pamulang, Tangerang Selatan, aparat keamanan berhasil menembak mati Dulmatin. Puluhan orang yang terlibat ditangkap, termasuk Abu Bakar Ba’asyir yang dianggap mendanai proyek ini. Menurut catatan mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Ansyaad Mbai, orang-orang yang mengikuti pelatihan militer tercerai-berai pada akhirnya mendirikan sel-sel sendiri, salah satunya adalah di Poso.

Penyebaran Sel Teror Di Poso

Pada Oktober 2009 atas perintah abu bakar ba’asyir, Abu Tholut datang ke Poso untuk bertemu dengan Ustadz Yasin dan Santoso. Abu Tholut kemudian menjelaskan rencana Proyek Uhud, yaitu menjadikan Poso sebagai salah satu opsi qoidah aminah Negara Islam. Abu Tholut juga mengusulkan berdirinya JAT Poso.

Abu Tholut merupakan ahli dalam pengadaan senjata. Dia pernah menjadi pengajar atau instruktur bahan peledak di Afghanistan dari tahun 1987 sampai 1992. Sumber : Wawancara Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah (JI) Nasir Abas

Santoso merealisasikan proyek itu dengan merekrut peserta untuk dilatih secara militer. Pada 2010, Santoso dan rekan-rekannya berhasil mengumpulkan senjata dan menemukan tempat pelatihan militer di Gunung Mauro, Tambarana, Poso Pesisir Utara, serta di daerah Gunung Biru, Tamanjeka, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Tahun 2012 santoso didapuk menjadi Amir atau pemimpin tertinggi MIT oleh para kadernya. Dua tahun berselang, Majelis Indonesia Timur bersumpah setia kepada Negara Islam Irak dan Suriah alias ISIS. Sumpah setia MIT kepada ISIS itu diucapkan pada Juli 2014. Selanjutnya, pada November 2015, MIT merilis video dan menyebut diri mereka sebagai “Prajurit Negara Islam”. Video ini juga berisi ancaman terhadap pemerintah dan Kepolisian RI.

Tewasnya santoso pada 18 Juli 2016 oleh Satgas Operasi Tinombala menjadikan posisi amir digantikan oleh Ali Kalora bersama dengan Basri. Mereka berdua adalah pengikut senior santoso di MIT.

Ali Kalora

Setelah Basri ditangkap bersama istrinya oleh Satgas Operasi Tinombala di desa Tangkura pada 14 September 2016, Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian menetapkan Ali Kalora sebagai target utama dari Operasi Tinombala.


Profil Kelompok Teroris Di Indonesia Lainnya


Jamaah Ansharut Daulah (JAD), merupakan kelompok antek ISIS di Indonesia dan jaringan teroris global. Alasan keberadaan JAD dibentuk dengan tujuan untuk melakukan kegiatan penyebaran dakwah khilafah, melaksanakan hijrah, dan berjihad. Pembetukanya JAD atas dasar inisiatif Aman Abdurrahman di Nusakambangan.

Mujahidin Indonesia barat atau biasa di singkat dengan MIB adalah kelompok teroris yang di deklarasikan oleh Amat untung Hidayat alias Abu Roban pada Bulan Desember Tahun 2012.

Majelis Mujahidin adalah lembaga yang dilahirkan melalui Konggres Mujahidin I yang diselenggarakan di Yogyakarta tanggal 5-7 Jumadil Ula 1421 H, bertepatan dengan tanggal 5-7 Agustus 2000. Konggres tersebut bertemakan Penegakan Syari’at Islam, dihadiri oleh lebih dari 1800 peserta dari 24 Propinsi di Indonesia, dan beberapa utusan luar-negeri.


Aksi Teror

2011

  • 25 Mei 2011. Tiga polisi yang berjaga di depan Bank BCA Palu, Jalan Emy Saelan, Palu Selatan, Kota Palu, diberondong kelompok misterius. Akibat penembakan itu, dua polisi yakni Bripda Irbar dan Bripda Yudisthira tewas. 

2012

  • 29 September 2012. Sebuah bom meledak di di Desa Korowou, Lembo, Kabupaten Morowali. Ledakan yang terjadi sekitar pukul 21.45 WITA tidak menimbulkan korban jiwa atau luka-luka.

2012

  • 29 September 2012. Sebuah bom meledak di di Desa Korowou, Lembo, Kabupaten Morowali. Ledakan yang terjadi sekitar pukul 21.45 WITA tidak menimbulkan korban jiwa atau luka-luka.
  • 4 Oktober 2012. Penembakan terjadi di Desa Masani, Poso Pesisir. Akibat penembakan itu, seorang warga desa bernama Hasman Sao (35), terluka di bagian leher.
  • 9 Oktober 2012. Sebuah bom meledak di Jalan Tabatoki, Kelurahan Kawua, Poso Kota Selatan sekitar pukul 20.15 WITA. Bom yang diperkirakan berdaya ledak tinggi itu terdengar hingga radius 5 kilometer dan lokasinya dekat dengan Markas TNI Kompi B Yonif 714/Sintuwu Maroso Poso.
  • 16 Oktober 2012. Dua polisi, Briptu Andi Sapa dan Brigadir Sudirman, ditemukan tewas di Dusun Tamanjeka, Desa Masani. Mayat keduanya ditemukan setelah dinyatakan hilang sepekan sebelumnya. Keduanya dikubur dalam satu lubang. Polri menyatakan bahwa pelaku dari pembunuhan ini adalah kelompok Santoso.
  • 22 Oktober 2012. Sebuah bom berdaya ledak tinggi meledak sebanyak dua kali di dekat Pos Lantas Poso. Saat itu, seorang Polisi yang hendak melakukan tugas rutin menjaga lalu lintas terkena serpihan bom bersama seorang Satpam Bank BRI.
  • 15 November 2012. Rumah dinas Kapolsek Poso Pesisir Utara diberondong tembakan oleh kelompok tak dikenal yang diduga jaringan Santoso. Terjangan peluru sempat melewati kedua kaki Kapolsek Iptu Bastian Faruklabi.
  • 20 Desember 2012. Tiga anggota Brimob tewas setelah ditembak dari belakang saat patroli di desa Kalora, Poso Pesisir Utara, dan diduga dilakukan oleh kelompok Santoso. Yang pertama Briptu Ruslan, kemudian Briptu Winarto dan Briptu Wayan Putu Ariawan. Mereka mengalami luka tembak di bagian kepala dan dada.
  • 25 Desember 2012. Sebuah bom ditemukan di depan pos Pasar Sentral Poso. Bom itu ditemukan sekitar pukul 07.00 WITA. Tim Jihandak Brimob Polda Sulawesi Tengah dibantu aparat Polres Poso berhasil menjinakkan bom tersebut.

2013

  • 14 Mei 2013. Seseorang tak dikenal melemparkan bom molotov ke pojok kantor Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resort Palu, sekitar pukul 20.00 WITA. Kapolres Palu AKBP Trisno Rahmadi mengatakan bahwa tidak ada unsur bahan peledak dalam bom molotov itu.
  • 19 Mei 2013. Ancaman bom terhadap Markas Kepolisian Sektor Palu Timur. Benda mencurigakan yang mirip bom dan disimpan dalam kardus tersebut ditemukan di Jalan RE Martadinata, Palu Timur. Benda tersebut diletakkan oleh orang tak dikenal tidak jauh dari Markas Kepolisian Sektor Palu Timur. Tim Penjinak Bom kemudian meledakkan benda yang diduga bom tersebut.

2014

  • 25 Februari 2014. Sebuah bom meledak di Desa Pantangolemba Kecamatan Poso Pesisir Selatan. Kapolres Poso, AKBP Susnadi menduga bahwa bom yang meledak di Pantangolemba adalah milik kelompok teror (MIT) di Poso.
  • 3 Juni 2014. Seorang warga bernama Muhammad Amir, ditembak saat sedang mengecek air bersih di bak induk penampungan air sekitar 1,5 kilo meter dari perkampungan. Amir mengalami luka tembak di bagian pinggang belakang sebelah kanan hingga tembus ke bagian depan perut.
  • 9 Juni 2014. Markas Polsek Poso Pesisir Utara ditembaki oleh orang tak dikenal. Para pelaku memberondong Markas Polsek Poso Pesisir Utara dari arah belakang. Bagian belakang kantor polisi itu adalah hutan yang gelap. Mendengar suara tembakan, sejumlah polisi yang berjaga kemudian membalas tembakan. Aksi saling balas tembakan itu berlangsung terjadi sekitar lima menit. Insiden baku tembak itu melukai Briptu Rivaldi di bagian paha, dan telah mendapatkan perawatan.
  • 19 September 2014. Seorang petani bernama M. Fadli (50), tewas dengan keadaan kepala hampir terpenggal di Desa Taunca, Poso Pesisir Selatan. Fadli dibunuh karena dia diyakini merupakan agen Densus 88. Kelompok MIT mengklaim bahwa merekalah yang membunuh Fadli.
  • 7 Oktober 2014. Ledakan bom terjadi di depan rumah warga Desa Dewua, Poso Pesisir Selatan. Namun waktu itu Tim Gegana yang dikawal Brimob menuju TKP dihadang kelompok sipil bersenjata di perbukitan Desa Tangkura hingga terjadi baku tembak.
  • 10 Desember 2014. Dua warga Desa Sedoa, Lore Utara, bernama Obet Sabola dan pamannya Yunus Penini, menghilang di hutan dan hingga kini belum ditemukan.
  • 29 Desember 2014. Kelompok MIT melakukan penculikan terhadap 3 warga Tamadue. Ketiga korban penculikan tersebut adalah Harun Tobimbi, Garataudu, dan Victor Polaba. Garataudu ditemukan tewas, sedangkan Victor Polaba dan Harun berhasil meloloskan diri.

2015

  • 17 Januari 2015. Kelompok MIT membunuh tiga warga di Desa Tangkura. Dolfi Moudi Alipa (22) tewas akibat tiga luka tembak pada bagian kepala, dada kiri dan perut. Korban tewas kedua bernama Aditya Tetembu (58), dan korban tewas ketiga yaitu Hery Tobio (55). Prosesi pelepasan jenazah dan pemakaman turut dihadiri Bupati Poso, Piet Inkiriwang.
  • 19 Agustus 2015. Iptu Bryan Tatontos tewas ditembak kelompok MIT saat akan mengevakuasi jenazah Bado alias Urwah. Di tengah perjalanan, kelompok teroris menghadang tim evakuasi. Terjadi kontak tembak sekitar 15 menit dan Iptu Brian Tatontos tertembak di tulang rusuk kanannya dan akhirnya meninggal. Pangkatnya dinaikkan menjadi AKP (Anumerta) dan namanya diabadikan menjadi nama lapangan apel markas Polda Sulawesi Utara.
  • 13 September 2015. Seorang transmigran asal Buleleng, Bali, bernama I Nyoman Astika (60), ditemukan tewas dalam keadaan dipenggal. Dia tewas usai diserang lima orang tak dikenal (OTK) di kebunnya di pegunungan Baturiti, Kecamatan Sausu, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Pemenggalan itu diduga sebagai aksi balas dendam setelah terjadi kontak tembak dengan Polri.
  • 17 September 2015. Tiga warga Sausu ditemukan tewas. Yang pertama bernama Wayan, warga Dusun Gigit Sari, Desa Balinggi, Kecamatan Balinggi. Mayat kedua ditemukan sehari kemudian di kebun Dusun Buana Sari, Desa Tolai, Kecamatan Torue. Korban diketahui bernama Simon alias Hengky (50), warga Dusun Matanpondo, Desa Tolai Barat, Torue. Simon ditemukan telah meninggal di parit dengan leher tergorok. Mayat ketiga ditemukan di kilometer 19, Desa Sausu Salubanga, Sausu dengan identitas yang belum diketahui.
  • 29 November 2015. Serka Zainuddin, anggota Yonif 712/Raider Manado, tewas saat kontak tembak dengan kelompok MIT. Kontak tembak terjadi dengan anggota TNI Satgas Camar Maleo saat melakukan patroli di Dusun Gayatri, Desa Maranda, Kecamatan Poso Pesisir Utara, di Poso.

2016

  • 9 Februari 2016. Brigadir Wahyudi Saputra ditembak oleh terduga anggota MIT di Desa Sangginora, Kecamatan Poso Pesisir Selatan. Ia tewas saat dilarikan di Rumah Sakit Umum Daerah Poso akibat luka tembak di dagu kiri dan menembus leher belakang. Pangkatnya dinaikkan menjadi Brigadir Kepala secara anumerta.

2017

  • 3 Agustus 2017. Seseorang petani ditembak mati oleh MIT di wilayah Pegunungan Pora, Desa Parigimpuu, Kecamatan Parigi Barat, Parigi Moutong.

2018

  • 30 Desember 2018. Seseorang berinisial RB ditemukan dengan kepala terpisah dari badan di Desa Sausu Salubanga, Kecamatan Sausu, Parigi Moutong. Kepolisian menduga ini merupakan upaya MIT demi memancing polisi.

2019

  • 13 Desember 2019 - Lima orang anggota MIT dikabarkan menyerang warga dan polisi di Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

2020

  • 15 April 2020 - Penembakan petugas di salah satu pos jaga dekat sebuah bank di Poso Sulteng.

Sumber Dana

ISIS diduga menjadi penyokong dana dari kelompok ini, bai'at MIT kepada ISIS tentu sesuatu yang biasa. MIT merupakan jaringan yang di sokong oleh ISIS untuk menyebarkan teror dan ideologinya di tanah air. Tetapi aliran dana kelompok teror poso ini ternyata berasal dari sumber lain juga.

Penangkapan seorang anggota JAD di Padang, Sumatera Barat (Sumbar), yakni Novendri alias Abu Jundi aka Abu Zahran oleh Densus 88 pada 18 Juli 2019, memunculkan satu nama yakni Saefullah. Novendri ini, kata Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo, menerima aliran dana aksi terorisme yang berasal dari Saefullah.

Penelusuran Densus 88, dana dari Saefullah itu diketahui berasal dari sejumlah aktivitas perbankan internasional di lima negara. “Ada 12 nama pengirim dana dari lima negara,” kata Dedi. Lima negara tersebut: Trinidad Tobago, Venezuela, Jerman, Malaysia, dan Maladewa, dengan 15 kali transaksi.

Sebagian dana tersebut, mengalir ke JAD dan diterima Novendri lewat perantara seseorang bernama Abu Saidah pada September 2018. Novendri juga dikatakan punya kedekatan dengan sejumlah anggota JAD di kawasan Sumatera lainnya, termasuk di Sibolga, Sumatera Utara (Sumut) dan di Jawa Barat (Jabar). Bukan cuma kepada JAD, dana dari Saefullah lewat Novendri tersebut juga untuk membiyai aktivitas kelompok yang dicap terorisme, Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang berbasis di Sulawesi Tengah (Sulteng). 

Pendanaan ke MIT tersebut menguatkan dugaan Polri selama ini yang menuding adanya kerjasama terorisme antara JAD dan kelompok yang dipimpin Ali Kalora tersebut.

Operasi Perburuan MIT

Operasi Tinombala perburuan kelompok teror poso

Kelompok Mujahidin Indonesia Timur terus terdesak dengan adanya Operasi Tinombala. Operasi yang dilancarkan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) pada tahun 2016 di wilayah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Operasi yang melibatkan satuan Brimob, Kostrad, Marinir, Raider, dan Kopassus ini diturunkan untuk memburu kelompok teror yang berada di Poso.

Pada 04 April 2020 Satgas Tinombala kembali memperpanjang tugas selama 6 bulan kedepan. Hal tersebut lantaran sampai saat ini belum seluruhnya anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora ditangkap.

Menurut Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sulawesi Tengah, AKBP Didik Supranoto, sampai saat ini masih terdapat belasan anggota MIT yang buron. Satgas Tinombala pun, terus memetakan lokasi keberadaan Ali Kalora CS itu. "Masih 15 buron," ucap Didik.

Dengan adanya perpanjangan tugas, diharapkan Satgas Tinombala dapat segera mengamankan sisa anggota MIT yang masih menjadi buron.

Share.

Leave A Reply

three × 5 =