Muriel Degauque, Teroris Perempuan dari Eropa

Whatsapp Pinterest LinkedIn Tumblr +

Jika selama ini tokoh dan figur utama dalam kelompok terorisme didominasi oleh laki-laki, lalu bagaimana peran dan kiprah perempuan dalam kelompok teroris menjadi menarik utuk ditelusuri.

Seperti yang umum diketahui, tidak hanya laki-laki, dalam tubuh kelompok ISIS dan beberapa kelompok terror lainnya seperti Al-Qaeda, Al Shabab di Somalia mempunyai simpatisan perempuan dalam kelompok mereka. Tidak hanya sebagai objek seksual bagi para anggota kelompok terror, tetapi juga mereka berperan sebagai pengantin untuk tindakan bom bunuh diri (suicide bomber).

Menurut Mia Bloom, penulis buku “Bombshell; Women and Terrorism” ia menuturkan bahwa setiap kelompok dan organisasi teroris berbeda dalam memperlakukan perempuan di kelompoknya, Al-Qaeda dan Al Shabab menggunakan simpatisan perempuannya untuk pelaku bom bunuh diri, sedangkan ISIS bahkan tidak mengizinkan simpatisan perempuannya untuk berperang bersama simpatisan laki-laki ISIS.

Dalam konflik Israel Palestina, pada tahun 2002 tercatat nama Wafa Idris sebagai perempuan pertama yang meledakkan dirinya di pusat kota Jerussalem. Jauh sebelum kejadian itu, pada tahun 1985 ada Sana’a Mehaidli, seorang gadis berusia 17 tahun yang membawa sebuah truk bermuatan bahan peledak dan diledakkan di tengah konvoy pasukan Israel yang menduduki wilayah di selatan Lebanon.

Keduanya melakukan hal tersebut sebagai bentuk protes pendudukan tentara Israel di negaranya. Jika selama ini perempuan yang melakukan hal demikian beretnis Arab, lantas adakah orang asing yang benar-benar asing dan tidak punya motif nasionalisme dalam melakukan perbuatan sadis ini? Jawabannya ada, dia adalah seorang perempuan Belgia bernama Muriel Degauque yang meledakkan dirinya dan menewaskan 5 polisi dan melukai 5 orang lainnya ketika polisi sedang melakukan patroli di Baquba, utara kota Baghdad pada tanggal 9 November 2005.

Muriel dan suaminya berangkat menuju Irak melalui perbatasan Syiria. Suaminya juga terbunuh beberapa jam kemudian setelah Muriel meledakkan dirinya, Namun suami Muriel, Hissam Goris tewas ditembak oleh tentara Amerika di Irak setelah gagal meledakkan dirinya.

baca juga: https://carubannusantara.or.id/perempuan-teroris-dalam-sejarah-islam/

Media Belgia menyebut Muriel sebagai “le Kamikaze Belge” atau jika diartikan secara kasar bermakna seorang kamikaze perempuan dari Belgia.

Latar Belakang Kehidupan Muriel Myriam -nama Muriel setelah memeluk Islam- lahir di kota industri Charleroi pada tahun 19 Juli 1967, sebelum menikah ia bekerja sebagai pembuat roti dan penjaga cafe, di usia remaja ia juga pernah mencoba-coba narkoba sebagai pelarian, dan di sekolahpun ia lebih memilih laki-laki dari pada buku pelajaran.

Para tetangganya mengenali Muriel sebagai gadis yang normal, suka bermain seluncur jika musim salju datang.

Muriel dibesarkan di Monceau-sur-Sambre, ia merupakan putri pekerja pabrik Jean dan sekretaris medis Liliane. Muriel mengenakan cadar ketika dia bertemu dengan suami pertamanya seorang laki-laki keturunan Turki, yang kemudian dia cerai. Tetapi setelah pernikahan keduanya dengan Hissam Goris, ia mulai begitu patuh dan taat pada agama barunya, begitu tutur ibunya Liliane.

Indoktrinasi radikal yang ditanamkan oleh suami keduanya benar-benar ia jalankan, bahkan dia akan mengenakan cadar dari kepala sampai ujung kaki ketika bertemu dengan ayahnya dan bersikeras untuk makan secara terpisah dari ayahnya sendiri ketika di rumah. Bahkan ketika ibunya dirawat di rumah sakit, ia enggan untuk menjenguknya dengan alasan tidak punya waktu untuk menjenguk.

Sebelum bertemu dengan suami keduanya yang merupakan lelaki keturunan Maroko Hissam Goris, ia telah memeluk Islam. Namun setelah pernikahannya dengan lelaki keturunan Maroko itu, hubungan Muriel dengan keluarganya semakin renggang. Keluarganya beranggapan hal demikian itu disebabkan oleh indoktrinasi yang dlakukan suaminya. Ibunya bahkan mengatakan kepada koran Prancis Le Parisien, “hidupnya menjadi lebih muslim dari muslim itu sendiri”.

Seorang tetangga Muriel mengatakan kepada surat kabar Belgia Le Soir bahwa kematian saudara laki-laki Muriel, Jean-Paul dalam kecelakaan di jalan raya ketika dia masih remaja telah mengubah hidupnya. Muriel beranggapan bahwa dialah yang seharusnya mati, bukan kakaknya. “Semua orang mencintainya,” kata Andrea Dorane tetangga Muriel.

Seorang ahli terorisme yang berbasis di Belanda Edwin Bakker mengatakan mualaf seperti Muriel Degauque seringkali menjadi target empuk bagi para ekstremis karena pencarian mereka akan identitas baru, mereka para mualaf mencari sesuatu yang baru dalam hidup mereka.

Menurut direktur polisi federal Belgia Glenn Audenaert, Muriel adalah wanita Belgia pertama -jika bukan wanita Barat pertama- yang melakukan tindakan bom bunuh diri.

Diolah dari beberapa sumber

Share.

Leave A Reply

sixteen + 9 =