Sejarah dan Upaya Kudeta NII (Negara Islam Indonesia) Terhadap NKRI

Negara Islam Indonesia atau biasa disingkat menjadi NII adalah sebuah gagasan mengenai konsep Negara dengan berdasarkan pada Alquran dan Hadits. Gagasan ini diprakarsai oleh seorang tokoh pergerakan kemerdekaan yang bernama Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo, dan dalam pergerakan mewujudkan NII Kartosuwiro dibantu oleh Kahar Muzakar, Daud Beureuh, Amir Fatah, Ibnu Hajar dan Lainnya.

Sebelum tercetus NII, Kartosuwiryo membentuk Darul Islam (DI). Secara makna DI adalah rumah bagi umat Islam dengan harapan bisa mewadahi perjuangan umat Islam dalam membentuk negara yang berasaskan pada Al-quran dan Hadits. Bisa dikatakan bahwa DI adalah pondasi awal menuju terbentuknya Negara Islam Indonesia (NII).

Ide mengenai Negara Islam dimunculkan Kartosuwiryo jauh sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan. Di era pergerakan menuju kemerdekaan sekira tahun 1925, Kartosuwiryo keluar dari perkumpulan Jong Java (sebuah perkumpulan yang mewadahi para pemuda) karena dianggap Jong Java tidak merepresentasikan Islam, akhirnya berdirilah Jong Islamieten Bond (JIB) dengan Kartosuwiryo sebagai ketuanya. Bisa dimungkinkan di JIB inilah hasrat mendirikan negara islam dimulai, dan dimatangkan intelektualnya oleh HOS. Tjokroaminoto.

Perjuangan dalam mewujudkan negara yang berasaskan Islam terus di lakukan oleh Kartosuwiryo dan tokoh lain yang sepemahaman dengannya, diantaranya ketika rapat BPUPKI Kartosuwiryo melalui wakil-wakil Islam mengusulkan ide-ide tentang pembentukan negara yang memberlakukan Syariat Islam yang kemudian lahirlah piagam Jakarta yang memuat frasa “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”, selain itu Kartosuwiryo juga mendorong Kyai Joesoef Taudjiri untuk memprokalmirkan berdirinya Negara Islam Indonesia pasca kekalahan Jepang terhadap sekutu, meskipun kedua langkah tersebut pada akhirnya gagal terwujud.

Meskipun secara prinsip terdapat perbedaan antara kelompok Kartosuwiryo dengan kelompok nasionalis sekuler, namun di titik lain kedua kelompok ini pada saat terjadi agresi militer sama-sama berjuang demi hengkangnya Belanda dari Indonesia. Di tengah kerjasama yang tidak terikat itu terjadilah peristiwa perjanjian Renville, dan perbedaan dalam menyikapi Perjanjian Renville inilah yang kemudian mengakhiri kerjasama diantara kedua kelompok tersebut

Pada 7 Agustus 1949  Kartosuwiryo dan kelompoknya memproklamirkan Negara Islam Indonesia (NII) di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat. Proklamasi tersebut pada saat Negara Pasundan buatan belanda mengangkat Raden Aria Adipati Wiranatakoesoema sebagai presiden. NII kemudian membagi struktur pola perjuangannya seperti; Komandemen Perang Seluruh Indonesia (KPSI), Komandemen Perang Wilayah Besar (KPWB), Komandemen perang Wilayah (KW) yang terbagi menjadi 7 wilayah yaitu Periangan Utara, Periangan Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, Kalimantan, dan Aceh. Doktrin utama dari kelompok ini adalah Iman Hijrah dan Jihad.

sumber foto : https://app.emaze.com/@AOIZIQTCL#3

Dalam upaya memperkuat kelompoknya, NII membentuk Tentara Islam Indonesia (TII) pada tahun 1948. Cikal bakal TII ini sudah dipersiapkan oleh Kartosuwiryo sejak masa penjajahan Jepang. Di era Jepang tersebut Kartosuwiryo berkesempatan menyelenggarakan pelatihan militer secara legal bagi milisi pemuda islam yang kemudian dijuluki Hizbullah atau tentara Allah.

Kelompok NII menganggap dengan menyepakati perjanjian Renville sama saja menghianati perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan. Disaat kelompok Nasionalis melakukan genjatan senjata dan meninggalkan Jawa Barat, Kelompok NII justru angkat senjata dan mempertahankan wilayah Jawa Barat dari jangkauan Belanda. Lalu kelompok DI mengklaim bahwa hanya kelompoknyalah yang bersungguh-sungguh dalam mengusir penjajah dari Indonesia.

Perselisihan mulai meningkat antara DI dan kelompok nasionalis pasca penyerahan kekuasaan Belanda kepada pemerintah Indonesia pada tahun 1949, ditambah lagi pihak Soekarno tidak mengakomodir barisan DI (termasuk orang-orang yang sehaluan dengan DI) masuk kedalam jajaran strategis Tentara Nasional Indonesia.

Dalam buku yang ditulis oleh Ken Conboy menyebutkan, sekira tahun 1951 DI menyulut api di seluruh provinsi Jawa Barat. Mereka secara efektif menggantikan pemerintah di sebagian besar kawasan pedesaan Jawa Barat dan tidak segan-segan menimbulkan pertumpahan darah di pelosok. Dalam aksi tersebut mereka diperkirakan membunuh lebih dari 400 orang dan membakar lebih dari 4000 rumah.

Lalu aksi pemberontakan berikutnya dilakukan oleh kelompok DI pimpinan Daud Beureuh di Aceh. Daud Beureuh berbaiat kepada NII pada 20 September 1953. Yang melatar belakangi Daud Beureuh bergabung dengan NII dikarenakan kecewa atas sikap pemerintah yang melakukan peleburan Provinsi Aceh kedalam Provinsi Sumatera Utara dengan ibu kotanya Medan, sehingga keinginan masyarakat Aceh untuk menetapkan hukum syariah dalam kehidupan mereka menjadi kandas. Daud Beureuh juga menganggap bahwa pemerintah pusat tidak menghargai perjuangan masyarakat Aceh dalam perang melawan kolonialisme Belanda.

Aksi pemberontakan juga muncul di Sulawesi Selatan, pemberontakan ini dilakukan oleh kelompok DI pimpinan Kahar Muzakar yang kecewa karena pasukan Brigade Hasanudin yang dipimpinnya tidak menjadi bagian dari TNI, lalu kelompok ini bergabung dengan TII pada 7 Agustus tahun 1953. Dan masih banyak lagi sederet aksi pemberontakan yang dilakukan oleh DI ini,

Gelombang pemberontakan DI terus meluas di beberapa wilayah di Indonesia, semisal di Jawa Tengah yang dipimpin oleh Amir Fatah, lalu di Kalimantan selatan oleh kelompok DI pimpinan Ibnu Hajar. Alasan pemberontakannya hampir sama, yaitu kecewa atas sikap pemerintah pusat yang tidak berpihak kepada kelompok gerilyawan di daerah.

Keadaan semakin runyam ketika barisan oposisi membentuk PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) dan bekerjasama dengan kelompok NII dalam melawan pemerintah pusat. Keadaan tersebut segera disikapi oleh pemerintah melalui TNI, sampai pada akhirnya satu persatu kekuatan mereka dilumpuhkan.

Kelompok pemberontak yang terdesak oleh serangan TNI kemudian bersembunyi di hutan, kemudian dalam upaya mencukupi kebutuhan logistik mereka melakukan perampasan harta benda serta makanan pada masyarakat pada malam hari, dan masyarakat kemudian menyebut kelompok pemberontak ini dengan sebutan “Gerombolan”.

Pada tahun 1962 pemerintah pun melakukan langkah diplomatis dengan menyatakan siap memberikan Amnesti kepada anggota NII yang menyerahkan diri dan meninggalkan NII. Di tahun yang sama pula pemerintah menerjunkan pasukan terbaiknya dari Batalion Raider 328 dalam operasi pagar betis untuk melakukan penangkapan terhadap sisa-sisa kelompok NII.

Satu kompi Batalion Kujang II Siliwangi menyergap dan menangkap pemimpin Negara Islam Indonesia, Kartosuwiryo, dan pengikutnya di daerah Gunung Sangkar dan Gunung Geber di Jawa Barat Pada 4 Juni 1962. Lalu di usianya yang menginjak 57 tahun yang tampak begitu ringkih Kartosuwiryo di eksekusi oleh enam orang anggota regu tembak TNI AD.

Pengakuan anak Kartosuwiryo

Menurut Sardjono Kartosuwirjo (putra bungsu Kartosuwiryo) dalam wawancara khusus di laman Beritasatu.com menyatakan bahwa, NII sejak tahun 1962 sudah selesai. Waktu itu Imam NII, Kartosoewirjo sudah memerintahkan seluruh anggota TII untuk turun dari gunung, menghentikan tembak menembak dan kembali ke pangkuan RI. ditambahkan Sardjono, perintah turun gunung selain disampaikan melalui lisan juga lewat surat edaran yang ditulis oleh kakaknya, Dodo Muhammad Darda, karena kondisi bapaknya yang sedang sakit. Isinya penghentian tembak menembak. Sardjono juga mempersilakan untuk mengecek soal suratnya di Kodam Siliwangi. menurutnya fotokopi surat itu dulu ada, meskipun ia tidak tahu sekarang. Di bawah surat itu juga ada tulisan tambahan dari Ibrahim Aji yang isinya: tentara DI/ TII diminta menyerahkan ke pos TNI terdekat dengan membawa dokumen dan perkakas perang.

Kendati demikian, konsep Negara Islam Indonesia yang digagas dan disebarkan oleh Kartosuwiryo sampai hari ini masih terus ada, meskipun faham ini terus mengalami fase perubahan karena pengaruh keadaan dan pengaruh pergaulan internasional, sehingga muncul organisasi-organasi baru, tokoh-tokoh baru dan terus beranak pinak. Beberapa diantaranya tidak lagi hanya wilayah Indonesia yang dijadikan sebagai project Negara islam tapi lebih luas lagi yaitu Asia Tenggara, bahkan mungkin dunia.

Baca Juga : https://carubannusantara.or.id/sepak-terjang-abu-bakar-baasir-dengan-jamaah-ansharut-tauhid-jat/

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 − 4 =