Para Ulama Menyikapi Perbedaan dengan Sikap Toleran (1)

Perbedaan pandangan para ulama merupakan keniscayaan, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor termasuk diantaranya adalah munculnya perintah yang bersifat umum sehingga melahirkan pemahaman yang berbeda, menariknya para ulama menyikapi perbedaan dengan sikap toleran, tidak ada permusuhan maupun saling mengkafirkan.

Perbedaan pemahaman yang disebabkan oleh tolak ukur para ulama dalam menyikapi perintah syariat ini bukan hal baru ataupun langka, kejadian semacam itu banyak terjadi dan terbukukan secara baik dalam kitab-kitab klasik islam.

Bahkan pada masa Rasulullah saw masih hidup pun munculnya perbedaan antara sekelompok sahabat dengan sahabat lainnya terkait memahami syariat islam pernah terjadi, peristiwa yang paling popular terkait hal itu adalah peristiwa Ketika para sahabat menuju Bani Quraizah untuk memerangi kaum yahudi yang telah terbukti melakukan upaya makar dan menghianati perjanjian damai dengan kaum Muslimin.

Pada peristiwa itu Rasulullah saw menegaskan :

لا يصلين احد العصر الا فى بني قريظة

Janganlah ada salah satu diantara kalian melakukan shalat ashar kecuali di Bani Quraidah.

Menyikapi instruksi ini para sahabat terpecah menjadi dua kelompok, kelompok pertama memahami secara Dzahir (melihat teksnya saja) sementara kelompok lain memaknai instruksi itu sebagai kiasan agar perjalanan dipercepat sehingga sampai ke Bani Quraidah waktu asar.

Baca juga: Dalam Ibadahpun Islam Melarang Sikap Ekstrim

Atas perbedaan itu maka kelompok pertama menunda shalat ashar sebelum sampai ke Bani Quraidah walaupun ditengah perjalanan sudah masuk waktu Ashar.

Peristiwa itu kemudian di adukan kepada Rasulullah saw, dengan harapan ada keputusan yang tegas terkait, siapakah pihak yang paling benar antara dua kubu yang berbeda tersebut.

Menanggapi aduan para sahabatnya Rasulullah saw tersenyum, ya beliau tidak menyalahkan pihak manapun, beliau tersenyum dan menyampaikan bahwa kedua kelompok tersebut telah berusaha serius memahami maksud Instrusi Rasulullah saw, dan keduanya mendapat pahala.

Syekh Said Al Kamali seorang ulama bermazhab Malik menjelaskan bahwa sikap Rasulullah terkait peristiwa ini bukan tanpa pesan, tapi justru beliau sedang mengajarkan sekaligus memberi peluang kepada para pengikutnya menyikapi perbedaan dengan sikap toleran.

Ajaran Toleransi terhadap Perbedaan

Sikap Rasulullah saw terkait perbedaan para sahabat dalam menyikapi instrusi beliau menunjukkan bahwa upaya serius (baca Ijtihad) sahabat nabi dalam memahami instrusi nabi apapun hasilnya merupakan sesuatu yang diapresiai oleh Rasulullah saw, bahkan beliau menegaskan tentang jaminan pahala bagi kedua kelompok yang menghasilkan kesimpulan yang sama tersebut.

Disamping itu beliau juga menunjukkan pentingnya menghargai perbedaan yang muncul dari hasil sebuah ijtihad, tidak perlu saling merasa benar dan menyalahkan pihak yang lain, berpegang pada satu keyakinan merupakan kebenaran, namun menghargai pandangan yang berbeda merupakan keniscayaan.

Wallahu a’lam

Abdul Hadihttps://carubannusantara.or.id/
Seorang Pelajar, yang selalu berusaha belajar

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

13 − eleven =