Para Wijayanto: Pemimpin Teroris yang Memiliki Perkebunan Kelapa Sawit

Pada pertengahan tahun 2019 lalu aparat Kepolisian Republik Indonesia berhasil menangkap seorang gembong teroris di Hotel Adaya, Jalan Kranggan, Jati Sampurna, Bekasi, Jawa Barat. Ia adalah Para Wijayanto buronan kasus terorisme yang diburu oleh aparat sejak tahun 2003. Para Wijayanto merupakan pemimpin Jamaah Islamiyah, organisasi yang dilarang oleh pemerintah Indonesia. Di kalangan masyarakat awam nama Para Wijayanto tidak begitu familiar, bahkan Wikipedia pun belum menorehkan nama Para Widiyanto secara khusus dalam laman webnya, tidak seperti Abu Bakar Ba’asir atau pun dedengkot teroris lainnya, namun bagi aparat dan pemerhati terorisme di Indonesia nama Para Wijayanto tidak asing, sebab sepak terjangnya dalam dunia hitam terorisme sudah sangat panjang.

Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Mabes Polri Birgjen Dedi Prasetyo dari penangkapan tersebut, polisi berhasil mendapatkan informasi mengenai sumber pendanaan Jamaah Islamiyah yang dihasilkan dari usaha perkebunan kelapa sawit yang berada di Kalimantan dan Sumatera. Dari hasil perkebunan kelapa sawit tersebut mampu membiayai kegiatan organisasi termasuk membiayai keberangkatan anggota JI untuk melakukan pelatihan di suriah bahkan sekaligus mampu menggaji petinggi Jamaah Islamiyah.

Para Wijayanto memang pemain handal dalam strategi gerakan teroris, terutama dalam menjalankan pola organisasinya. Ditengah pelariannya dari kejaran aparat kepolisian ia justru mampu membangun bisnis kelapa sawit yang tentu bukanlah bisnis kecil-kecilan. Bisnis ini memiliki segmentasi yang jelas dan merupakan salah satu komoditi utama Indonesia. Para Wijayanto bermain panjang tidak pragmatis sebab dari dana yang ada tidak digunakan terfokus pada aksi terror tapi lebih kepada membangun jaringan (merekrut) dan melakukan pelatihan. Tidak tanggung-tanggung kader yang mampu melakukan rekruitmen di gaji sebesar 10 juta sampai 15 juta rupiah.

Siapa dan Bagaimana Para Wijayanto

Para Wijayanto merupakan anak dari pasangan Wikanto dan Wuryaningsih. Wikanto adalah purnawirawan AURI Pangkalan Udara Kalijati. Para Wijayanto lahir di Kalijati, Subang, Jawa Barat pada tanggal 8 Agustus 1964. Para Wijayanto menyelesaikan studi Sarjana di Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, sekitar tahun 1989. Sempat bekerja di PT Pura Group, salah satu perusahaan raksasa di Kabupaten Kudus, dan berhenti pada tahun 2004 karena terlibat dalam aksi terorisme.

Dalam pemberitaan sejumlah media menyebutkan, Para Wijayanto terlibat aksi terorisme sejak tahun 2000 dalam aksi bom gereja, lalu tahun 2002 Para Wijayanto terlibat aksi Bom Bali dan disusul rentetan aksi teror-teror yang lainya, ia merupakan alumni pelatihan militer di Moro Fillipina. sepak terjangnya dalam aksi-aksi terorisme sangat lincah sehingga apparat tidak mudah untuk menangkapnya. Para Wijayanto menghilang setelah rumahnya di Blok D Perumahan Muria Indah, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, digerebek Densus 88 Mabes Polri pada 2004 lalu.

Baca Juga : Jejak Dana Teroris

Menjadi Amir Neo JI

Dilansir dari Tempo.co, Nasir Abbas (mantan narapidan kasus terorisme) menjelaskan setelah JI dibubarkan pada 2008, Para Wijayanto bersama tokoh-tokoh lain berusaha membentuk struktur baru, mereka membuat organisasi menjadi lebih sederhana, dikarenakan pemimpin atau amir JI (Abu Bakar Ba’asir) ditangkap aparat kepolisia maka dengan sendirinya kepemimpinannya menjadi gugur, disinilah kemudian tokoh-tokoh JI mengangkat Para Wijayanto sebagai amir JI yang baru, karena dianggap memiliki senioritas dan pengalaman tempur. Lalu aparat kepolisian menjuluki Jamaah Islamiyah pimpinan Para Wijayanto dengan sebutan Neo JI.

Tetap Waspada Terhadap Gerakan Terorisme

Meskipun dedengkot teroris berhasil ditangkap oleh aparat kepolisian bukan berarti kelompok terror ini kemudian berahir, selnya masih terus hidup. Berapa jumlah bisnis yang sudah berhasil dibangun oleh Para Wijayanto mungkin bukan hanya di Kalimantan dan Sumatera saja, kemudian berapa jumlah kader yang sudah berhasil direkrut oleh kelompok neo JI ini, tentu dua kekuatan ini yang kemudian harus diungkap. Karena dua kekuatan ini yang membangkitkan kembali neo JI.

Dalam beberapa bulan terahir tercatat ada tiga kelompok teroris yang masih terus eksis di Indonesia dalam aksi-aksinya, pertama kelompok Neo JI yang berafiliasi dengan Al-Qaedah, Kedua Jamaah Ansharut Daulah, Ketiga Mujahidin Indonesia Timur, keduanya berafiliasi dengan ISIS. waspadalah, mereka menunggu momen yang tepat lalu bergerak.

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × 1 =