Mengatasi Pecah Belah Akibat “ISTILAH”

Belakangan ini marak terjadi aksi penyebutan istilah-istilah keislaman. Oleh media, istilah ini dipopulerkan dan semakin melejit diantara perbincangan masyarakat. Ada beberapa tanggapan berbeda dari masyarakat, ada yang senang dengan meluasnya agama Islam sampai sudut bahasa. Namun ada yang menganggap istilah tersebut mengingkari budaya bangsa yang sudah ada.

Keniscayaan Islam menjadi beberapa golongan sudah ditakdirkan dalam beberapa riwayat Nabi. Namun yang menjadi pusat perhatian adalah pelahiran pendapat-pendapat dalam menentukan hukum dari suatu permasalahan. Adanya beda pendapat dari suatu hukum memunculkan buah ketersinggungan pada beberapa kajian. Dari perbedaan pendapat inilah, ada beberapa istilah yang menggambarkan ciri khas dalam satu kelompok Islam.

Penggunaan istilah kebahasaan memang tidak bisa lahir begitu saja. Masyarakat yang terus menggunakannya dalam perbincangan membuat suatu istilah lazim digunakan. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah jika terjadi penyerapan kata asing ke dalam bahasa keseharian. Maka perlu dicarikan padanan kata yang sesuai. Sayangnya, tidak semua kata bisa termuat dalam kekayaan bahasa Indonesia.

baca juga: Peran Perempuan dalam Deradikalisasi

Pada titik inilah sebuah kata yang merupakan serapan dari kata asing menimbulkan perspektif makna mengecewakan jika dimasukkan dalam tata bahasa Indonesia. Misalnya yang sempat menjadi perbincangan adalah kata “kafir” untuk menyebut pemeluk agama selain Islam. Mungkin kata ini bisa ditemukan dalam berbagai literatur arab. Akan tetapi, jika dimasukkan dalam konteks bahasa Indonesia, istilah tersebut menimbulkan efek keras yang memunculkan ketersinggungan dari kelompok yang menerima sebutan.

Jalan keluar dari masalah ini adalah dengan mencari padanan kata yang sesuai. Kata “kafir” yang sempat viral tersebut diganti dengan istilah “non muslim”. Penyebutan kata tersebut terdengar lebih menghargai karena dalam soal rasa terasa lebih sopan.

Dalam perspektif masyarakat, kata kafir biasa digunakan untuk orang yang tidak memeluk agama Islam. Dirinya mengalami penyesatan dalam menjalani kehidupan di dunia. Sehingga dalam alam pembalasan yang diyakini ada setelah kematian, akan mendapatkan pembalasan yang menyakitkan karena telah mengingkari takdirnya untuk menyembah Allah swt.

Sedangkan kata non muslim mengacu pada pembentukan makna selain umat Islam. Dimana dalam negara Indonesia mempunyai beragam agama dan banyak keyakinan. Penyebutan ini dirasa sesuai untuk menggambarkan situasi multikultural dengan mengacu pada prinsip perbedaan antara umat yang memeluk agama Islam dengan umat lainnya.

Sayangnya, permasalahan seperti ini meluas hingga pokok ajaran Islam. Dimana Islam yang terus memandang sesuatu dengan teduhan kasih sayang diubah maknanya seolah keras dan kaku pada laku sosial masyarakatnya. Misalnya saja kata hijrah yang dimaknai dengan bergabungnya seseorang pada suatu kelompok. Bukan pada pencerabutan kebobrokan moral pada diri seseorang. Memang banyak yang berkata “aku hijrah dari sifat keburukan”. Namun pada prakteknya, hijrah lebih cenderung digunakan untuk masuknya seseorang dalam suatu kelompok agama Islam.

Kata hijrah terus mengalami perkembangan hingga mendapatkan lawan tanding, yaitu kata “kafir”. Penyebutan kafir kini mengalami perluasan makna dari yang dahulu diartikan sebagai orang yang tidak memeluk agama Islam menjadi orang yang keluar dari ajaran Islam versi suatu kelompok. Dalam pandangannya, jika ada orang yang gagal menjalankan sebuah ritual atau melanggar sebuah ritual keagamaan akan dianggap keluar dari agama, dan dilabeli dengan istilah kafir.

Padahal dalam makna aslinya, orang yang keluar dari agama Islam disebut murtad bukan kafir. Penyebutan ini mengalami ketetatan kriteria. Misalnya, seseorang benar-benar dengan keyakinan hati keluar dari ajaran agama dengan menggunakan beberapa saksi. Tidak bisa melabeli kafir dengan gagalnya melakukan ritual keagamaan atau gagalnya seseorang menjalankan ritual agama.

Dari sini muncul istilah-istilah baru untuk melabeli kelompok yang gemar memakai istilah baru untuk menjustifikasi kelompok lain. Sebut saja istilah radikalis, konservatif, dan puritan. Ketiga istilah tersebut digabung menjadi satu makna untuk menggambarkan seseorang dalam konteks justifikasi sosial.

Tuduhan dibalas dengan tuduhan, itulah yang terjadi kini. Saling balas istilah menyakitkan, yang menyebabkan pertengkaran di lingkup sosial. Kini, hampir setiap agama berusaha menonjolkan kelompoknya dengan cara menempatkan paradigma buruk pada kelompok lain. Saling ejek pun terjadi, hingga di media sosial sebagai wahana olah informasi dipenuhi virus kebencian yang mengancam generasi.

baca juga: Jihad itu Melawan Kebodohan dan Kefakiran

Sejak kecil, generasi muda yang dibantu oleh teknologi, mengakses informasi yang seharusnya tidak pantas ditelaah olehnya. Misalnya opini-opini yang dimunculkan dari olah kebencian ikut serta mengancam tendensi tindak mereka dalam hidup bersosial. Pada akhirnya, muncul perilaku-perilaku yang tidak sepantasnya dilakukan oleh golongan muda. Tindak kekerasan kini sudah semakin mengakrab dalam pola tradisi masyarakat.               

Tentu hal ini harus segera diakhiri. Islam harus ditegakkan berdasarkan olah kata yang benar. Tidak mungkin suatu agama akan berdiri kokoh jika pemeluknya tidak meperhatikan aspek terkecil, yaitu perilaku sosial. Maka setiap pemeluk agama Islam hendaknya tidak melakukan suatu olah kata yang dapat mengganggu kelompok lainnya. Memang perpecahan Islam menjadi beberapa kelompok sudah menjadi keniscayaan. Akan tetapi, pertengkaran antara mereka bisa dicegah dari suatu hal kecil dari olah kata yang benar.

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen + 8 =