Peran Pemuda dalam Menangkal Radikalisme

Whatsapp Pinterest LinkedIn Tumblr +

Radikalisme adalah paham yang menolak bahkan cenderung melakukan tindak kekerasan terhadap siapapun yang berbeda paham ataupun keyakinan mereka. Pemahaman seperti ini tentu merupakan pemahaman yang berbahaya bagi keutuhan Bangsa Indonesia yang memiliki ragam suku budaya dan keyakinan. Oleh karenanya Peran Pemuda dalam Menangkal Radikalisme merupakan suatu kewajiban yang tidak boleh diabaikan.

Syech Mustofa Al Gholayin menegaskan:

اِنَّ فِى يَدِكُمْ اَمْرَ الْاُمَّةِ وَفِى اِقْدَامِكُمْ حَيَاتَهَا فَأَقْدِمُوْا إِقْدَامَ الْاَسَدِّ الْبَاسِلِ وَانْهُضُوْا نُهُوْضَ الرَّوَا يَا تَحْتِ ذَاتِ الصَّلاَصِلِ تَحْيَ بِكُمٌ الْاُمَّةِ

“ Sesungguhnya ditangan kalianlah (para pemuda) Nasib suatu bangsa, pada peran kalianlah kemajuan bangsa bergantung, maka melangkahlah laksana Langkah Harimau buas, bangkitlah laksana bangkitnya unta pembawa muatan yang di ikat rantai, dengan itu maka Bangsa akan hidup.”

Pemuda memiliki tanggungjawab dan beban yang sangat besar terhadap kehidupan berbangsa, termasuk dalam upaya menangkal penyebaran paham Radikal yang akhir-akhir ini makin massif disebarkan melalui berbagai cara baik melalui kajian-kajian ofline maupun media online.

peran pemuda dalam menangkal radikalisme ini haruslah dimulai dengan menambah wawasan baik wawasan kebangsaan maupun wawasan keagamaan, sebab luasnya wawasan mampu menghantarkan seseorang untuk bersikap toleran.

Memperbanyak wawasan dan pemahaman agama memiliki peran menangkal Radikalisme

Sikap radikal dan intoleran seringkali lahir dari mereka yang memiliki wawasan keagamaan yang sempit sehingga beranggapan bahwa kebenaran hanyalah apa yang ia ketahui dan pahami.

Sikap inilah kemudian muncul sikap keras terhadap kelompok yang tidak sepaham, pembubaran kegiatan yang tidak sesuai dengan paham mereka, melakukan intimidasi baik sikap maupun verbal serta melakukan penyerangan terhadap kelompok lain dengan alasan agama.

“Semakin bertambah wawasan seseorang semakin kecil kemungkinan ia menganggap salah orang lain yang berbeda pandangan” demikian kata Mutiara arab menyatakan.

Ungkapan ini merupakan gambaran bahwa cara melawan paham radikal adalah dengan memperkaya diri dengan wawasan keagamaan yang tepat.

Keluasan wawasan akan menghantarkan pada seseorang untuk lebih terbuka dengan berbagai pandangan yang berbeda sehingga mampu menghantarkan seseorang untuk bersikap toleran dan senantiasa menjaga kerukunan dan persatuan

Selektif Memilih Kajian dan Perkumpulan

Ada tiga unsur ini sangat besar pengaruhnya bagi penanaman paham keagamaan dalam pemuda seperti meningkatkan wawasan keagamanan.

Kaum muda harus memiliki sikap selektif dan hati-hati dalam memilih kajian, kelompok perkumpulan maupun guru agama.

Betapa sering generasi muda yang memiliki semangat keagamaan yang baik, namun terjerumus dalam lingkaran kelompok radikal karena salah memilih guru agama maupun pengajian-pengajian agama.

Kelompok radikal dan intoleran sangat massif menyebarkan paham mereka melalui media-media online. Hal ini merupakan tantangan bagi pemuda untuk mengambil peran dalam menangkal sasaran paham intoleran dan radikal.

Menyikapi hal itu kaum muda harus benar-benar selektif dalam memilih media yang menyebarkan narasi keagamaan. jika suatu media menyebarkan narasi provokasi dan radikal maka, kaum muda harus bangkit dan melakukan perlawanan terhadap sebaran paham radikal dan intoleran yang mereka sebarkan.

Dengan terlebih dahulu memperbanyak wawasan keagamaan secara tepat dan mengambil dari guru yang tepat, agar tidak malah terseret ajakan kelompok intoleran dan radikal yang mengatasnamakan agama.

Baca juga: https://carubannusantara.or.id/ilmu-agama-benteng-dari-tindakan-radikal-dan-teroris/

Share.

Leave A Reply

one × 3 =