Peran Perempuan dalam Deradikalisasi

Whatsapp Pinterest LinkedIn Tumblr +

Permasalahan terorisme ataupun paham radikal lainnya tidak melulu dimainkan oleh aktor laki-laki, Menurut laporan dari International Centre for the Study of Radicalisation (ICSR) King’s College London, dari 41.490 warga negara asing yang tergabung ke dalam kelompok ISIS, setidaknya ada 4.761 perempuan dan 4.640 anak-anak.

Keterlibatan perempuan di jaringan teroris bukanlah sesuatu yang baru, dalam konteks Indonesia terpidana terorisme perempuan Munfiatun yang merupakan istri kedua dari Noordin M Top dijatuhi hukuman kurungan penjara karena telah menyembunyikan suami ketika dalam masa pengejaran oleh pihak kepolisian.

baca juga: Peran Lembaga Pendidikan dalam Deradikalisasi

Kemudian di tahun 2018 publik dikejutkan oleh peristiwa bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga di Surabaya di tiga tempat, salah satunya Gereja Katholik.

Begitu juga sebaliknya, dalam kaitannya dengan usaha deradikalisasi perempuan mempunyai peran penting untuk mengikis paham teror dan radikal.

Sebelum berbicara jauh bagaimana peran perempuan dalam deradikalisasi, penting untuk diingat bahwa ada empat klasifikasi target yang diduga sudah terpapar paham radikal, pertama, individu atau perorangan, kedua, kelompok, ketiga, keluarga dan yang keempat adalah mantan narapidana teroris.

Sehingga pendekatan deradikalisasi ini berbeda dengan pendekatan kontra terorisme. Deradikalisasi lebih mengutamakan pendekatan secara personal dan berhadapan langsung dengan para teroris dalam usahanya menyebarkan paham nonradikal dan pembelajaran agama yang ramah.

BNPT sebagai lembaga pemerintah yang khusus menangani masalah terorisme mempunyai dua klasifikasi program deradikalisasi untuk para napiter (narapidana teroris) dan eks napiter, yaitu, deradikalisasi di dalam penjara dan deradikalisasi di luar penjara.  Dalam dua klasifikasi ini perempuan dapat mengambil peran untuk proses pemulihan kepada para terpidana teroris perempuan dengan beberapa upaya sebagai berikut;

  1. Tahap Identifikasi, dalam tahap ini perempuan sebagai agen deradikalisasi diharapkan bisa mengidentifikasi bagaimana sesorang terpapar paham radikal.
  2. Tahap reedukasi, pendekatan terhadap kelompok teroris perempuan tentunya membutuhkan pendekatan dengan perempuan lainnya, sehingga dalam menyemai kembali pemahaman keagamaan yang ramah, umumnya mantan narapidana teroris perempuan lebih nyaman jika diajar oleh seorang guru agama perempuan, tentu dengan pokok pengajaran agama yang moderat.
  3. Tahap rahabilitasi, yakni tahap dimana seorang narapidana teroris didekati oleh para penyuluh dan keluarga untuk bisa meninggalkan paham radikal.
  4. Tahap resosialisasi, fase ini adalah masa dimana terpidana tindak terorisme selesai menjalani masa tahanan dan siap untuk terjun ke masyarakat. Dalam masa ini penting sekali kehadiran istri, keluarga dan orang tua untuk mendukung anaknya berintegrasi kembali dengan masyarakat tempat dia tinggal.

Adapun perempuan yang tergabung dalam organisasi agama seperti Aisyiyah dan Fatayat mempunyai tugas untuk memberikan pemahaman dan tafsir agama yang ramah dan sarat akan muatan anti kekerasan.

Argumentasi dalil keagamaan yang baik dan tafsir agama yang dimiliki oleh kelompok Fatayat dan Aisyiyah ini bisa menjadi konter narasi atas tafsir agama yang ekslusif dan tunggal yang selalu digunakan oleh kelompok radikal.

 Aspek Feminin Perempuan Sebagai Penunjang Usaha Deradikalisasi

                Dalam beberapa konflik dan kekerasan yang terjadi di Indonesia, semisal konflik Poso yang terjadi pada tahun 1998-2000, banyak dari para perempuan yang melakukan interaksi jual-beli kebutuhan pangan sedangkan pada saat itu kelompok Islam dan Kristen sedang berseteru.

baca juga: Yordania dalam Perang Melawan Terorisme

Aktifitas sederhana ini mengikis kebencian di antara mereka dengan melakukan interaksi dan komunikasi pada waktu kerusuhan terjadi, sehingga berkontribusi dalam usaha perdamaian dengan mengikis narasi kebencian dan membangun komunikasi. Naluri asuh yang melekat pada diri perempuan untuk melindungi keluarga, baik anak dan suami menjadi nilai lebih mengapa perempuan bisa sekali terlibat dalam upaya deradikalisasi.

Dari keseluruhan pembahasan tersebut, perempuan mempunyai peran strategis dalam usaha deradikalisasi antara lain pendekatan tanpa kekerasan, karena sejalan dengan nilai-nilai feminin yang dimiliki oleh perempuan.

Share.

Leave A Reply

three × two =