Peran Teknologi dalam Pendanaan Teroris

Whatsapp Pinterest LinkedIn Tumblr +

Keberlangsungan interaksi sosial yang secara tradisional hanya dilakukan di dunia nyata, seperti di tempat umum, rumah ibadah maupun sekolah, dengan bantuan dan perkembangan teknologi, berubah dan mengalami perkembangan menjadi interaksi dunia maya. Internet merupakan arena yang menampilkan banyak pertunjukan. Seluruh cluster masyarakat dengan bebas bereskpresi mempertontonkan berbagai adegan. Bebagai kemudahan bisa kita dapatkan dengan bantuan internet. Tetapi disisi lain internet juga menjadi salah satu alat bagi kelompok teroris untuk mencapai suatu tujuan.

Di era 90an keterlibatan dan penggunaan internet oleh teroris belum banyak dilakukan. Waktu itu masih sedikit website yang terkait dengan aktivitas terorisme. Jumlah tersebut kemudian meningkat tajam dalam satu dekade dimana terdapat lebih dari 6.000 website di luar media sosial yang memuat konten terorisme.

Teknologi yang sudah akrab bersanding dalam kehidupan masyarakat, akan secara otomatis mengubah pola hidup. Dengan percepatan jutaan informasi yang bisa kita lihat setiap detik. Kelompok teror masuk sebagai salah satu produsen dan menjadikan internet sebagai sarana utama untuk menyebarkan propaganda, perekrutan, berkomunikasi sampai proses pendanaan aksi terror. Funding yang dulu rumit dan termonitor oleh pihak ketiga, dengan teknologi mereka bisa melakukannya secara cepat bahkan tidak terdeteksi.

Pendanaan Kelompok Teror

Kebutuhan pokok untuk menopang keberlangsungan kehidupan adalah ekonomi. Setiap aspek kehidupan akan mati perlahan jika sektor ekonomi tidak mencukupi. Begitupun dengan organisasi/kelompok teror. Untuk melakukan amaliyah, pelatihan, propaganda atau apapun itu, mereka perlu mencukupi kebutuhan agar semua berjalan maksimal. Misal, kita ambil contoh kasus bom bali. Bom yang dibuat oleh Amrozi cs mempunyai daya ledak yang besar, bahkan menurut Mantan kepala Badan Koordinasi Intelijen Nasional (Kabakin), ZA Maulani, “Yang meledak di Bali itu bukan senjata konvensional. Dia adalah special atomic demolition munition (SDAM) yang disebut juga nuklir mikro. Bahan bakunya adalah plutonium dan uranium. Daya ledaknya setara dengan 4 ton TNT high explosive,” katanya dalam sebuah diskusi di Jakarta.

Bom dahsyat buatan Amrozi cs tentu membutuhkan bahan baku yang tidak murah. Ditambah biaya kendaraan yang digunakan untuk peledakan. Selain kausu bom bali, Densus 88 Polri menangkap teroris di majalengka pada Rabu (23/11/2016) dan ditemukan racikan bom berbahan kimia yang daya ledaknya 2-3 kali lipat lebih dahsyat dari bom bali. Lalu akan muncul pertanyaan, berasal dari manakah semua bahan peledak untuk merakit bom? Jawabannya, tentu teroris memiliki sokongan finansial untuk membeli segala kebutuhan dan bisa jadi mereka juga memiliki jaringan underground untuk mendatangkan bahan peledak ilegal.

Fundraising yang terkait dengan terorisme yang ada di indonesia secara umum terbagi menjadi tiga bentuk kegiatan. Pertama, perampasan atau perampokan. Kedua melalui donasi public dengan menggunakan isu-isu yang berkembang di dunia, seperti Palestina, Rohingya, UIGHUR, dll atau iuran kelompoknya sendiri. Dan ketiga melalui bisnis atau usaha. Dari ketiga kegiatan tersebut mereka mampu membeli bahan-bahan peledak dan juga untuk menjalankan kehidupan organisasinya.

Baca detailnya disini : “Jejak Dana Teroris

Terorist Financing Dalam Dunia Maya

Internet telah menjadi platform “bebas” yang dapat diakses seluruh dunia dan menjadikan berbagai kalangan memanfaatkannya untuk menjual jasa, beriklan, berkomunikasi maupun mengurus masalah finansial. Hampir semua perbankan juga ikut menjadikan internet untuk memudahkan para konsumennya dengan adanya internet banking. Proses pengiriman uang yang dulu kebanyakan dilakukan secara fisik, kini semuanya bisa dilakukan secara praktis menggunakan internet.

Hal tersebut juga secara tidak langsung memudahkan kelompok teror untuk penggalangan dana. Delik kasus pendanaan teroris melalui bank konvensional maupun entitas perusahaan finansial telah terkuak seiring penulusuran polisi kepada para napiter terorisme. Melihat hal tersebut, financial company melakukan upaya pecegahan dengan cara memonitor transaksi agar terhindar dari eksploitasi kelompok teror di platform mereka, teroris butuh cara baru agar proses pendanaan tidak terhambat. Dari hasil penelitian yang dilakukan ACAMS yang berjudul: Disrupting Terrorist Financing on Social Networks. Teroris sudah melakukan social-financing dengan memanfaatkan beberapa jejaring sosial dan game :

Teroris Di Media Sosial Dan Game

Beberapa media sosial sudah memiliki komponen pengiriman uang seperti telegram yang bisa mengirim mata uang virtual melalui chat. Facebook yang akan meluncurkan Libra, dimana user bisa langsung mengirim uang dari chat whatsapp atau messenger. Bahkan proses fundrising teroris juga memanfaatkan media sosial untuk menjual senjata, seperti penggunaan snapchat oleh mujahidin suriah untuk menjual senjata.

Dan lagi perusahaan video game yang memungkinkan penggunanya untuk berinteraksi dan bertransaksi dalam lingkungan virtual  seperti Riot Games, Blizzard dan Game bernama Second Life yang dikembangkan oleh Linden Lab. Game ini mencuat saat beberapa user melaporkan adanya kelompok teror yang memanfaatkan fitur online marketplace di game untuk menjual item berupa bendera ISIS. Second Life adalah game open world yang mendukung money service business. Di dalam game user bisa membuat item dan menjualnya ke pemain lain melalui transaksi langsung di dalam game. Uang hasil penjualan bahkan bisa kita Tarik ke rekening kita sendiri.

Kelompok teroris ISIS dalam video game second life
Player yang menjual bendera ISIS di game Second Life, Desember 2015

Pemaparan diatas merupakan bukti nyata bahwa segala aspek dalam internet tidak bisa luput dari pemanfaatan kelompok teror. Selain penggalangan dana berkedok donasi, kelompok teror juga bahkan menggunakan game untuk menggalang dana. Dengan kompleksitas teknologi saat ini berbagai aspek dimanfaatkan dengan baik oleh teroris, salah satunya pengiriman dana dengan cryptocurrency yang tidak bisa terlacak.

Penggunaan Mata Uang Digital

Seiring perkembangan teknologi, berbagai penemuan baru juga dipraktekan dalam berbagai hal. Seperti penggunaan mata uang digital (cryptocurrency) sebagai pembayaran sah untuk bertransaksi secara online. Dengan keamanan peer to peer menjamin proses transaksi hanya diketahui pengirim dan penerima saja. Proses transfer mata uang digital memang tidak melalui pihak ketiga seperti bank atau entitas perusahaan. Kita hanya membutuhkan dompet virtual yang didalamnya terdapat alamat berbentuk code yang dapat digunakan untuk meyimpan, mengirim dan menerima uang. Proses pengiriman uang melalui dompet virtual bersifat anonym, sebab, pemindahan uang dari satu dompet ke dompet yang lain sudah terenkripsi dan menjamin orang lain tidak dapat mengidentifikasi alur perputaran uang.

Mata uang digital terbagi menjadi ribuan jenis, bitcoin menjadi yang terpopuler. Bitcoin menjadi salah satu cara agar Anda bisa mengirim uang dalam jumlah jutaan dollar ke berbagai negara tanpa dikenakan fee ataupun pajak. Bahkan sekarang ini bitcoin sudah bisa dicairkan dalam bentuk uang resmi negara. Pasar illegal penjualan senjata, drugs dan lainnya seperti di deep web menggunakan bitcoin sebagai sistem pembayarannya. Anonimity menjadi alasan utama pemilihan mata uang digital sebagai sistem transaksi.

Bayangkan saja, dengan cryptocurrency kelompok teror bisa mengirimkan uang dalam jumlah berapapun ke siapapun tanpa terdeteksi, tanpa dikenai pajak dan bisa dibelanjakan online atau ditarik dalam bentuk pecahan rupiah.

Teroris sudah menggunakan bitcoin untuk proses pendanaan, sebagai contoh, Ketika salah satu situs web berita yang beralamatkan di https://ou7zytv3h2yaosqq.f101.ml/ dan merupakan web affiliasi ISIS diketahui beberapa bulan tidak aktif, lalu bersamaan dengan kembali munculnya situs tersebut, terpampang campaign penggalangan dana melalui bitcoin. Dalam laman tersebut juga terdapat video youtube yang menjelaskan dari mulai tutorial cara deposit bitcoin ke dompet kita, sampai cara mentransfer bitcoin ke dompet ISIS. Mereka juga menyertakan link yang ketika di klik akan membuka laman baru berisikan alamat dompet ISIS dan juga beberapa tutorial.

Kesimpulan

Semakin cepat berkembangnya teknologi, maka semakin beragam pula metode pemanfaatannya oleh kelompok teror untuk memaksimalkan berjalannya tujuan mereka. Mungkin, itu adalah kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan kepiawaian teroris memanfaatkan perkembangan teknologi. Melihat hal ini, tentu pemerintah harus bisa selangkah lebih maju dalam penanganan teknologi, sehingga upaya deradikalisasi dalam media sosial bisa lebih akurat dan mitigasi pencegahan penyebaran konten ekstrimist bisa berjalan maksimal. Dan juga kesadaran masyarakat akan rambu-rambu penggunaan media sosial merupakan aspek yang terpenting, karena kita semua sebagai pengguna, dengan kata lain kita adalah konsumen berbagai konten di internet, maka filter menjadi tameng utama untuk menghindari hoax, hatespeech ataupun terserapnya paham radikal.

Share.

Leave A Reply

eighteen − 12 =