Perbedaan Pola dan Gerakan Terorisme Era 2000an dan Sekarang

Terorisme menjadi perhatian khusus bagi keamanan dunia global. Gerakan yang jika dibiarkan akan menggangu keamanan bahkan kedaulatan negara ini muncul dari pemahaman keagamaan yang menyimpang. Paham radikal bisa memapar siapapun. Terorisme tidak bisa dilabeli atau dikaitkan dengan ajaran agama apapun. Pada dasarnya, seseorang yang merasa dirinya paling benar dan menganggap orang lain salah dan ia sudah melakukan aksi nyata untuk membunuh, maka hal tersebut bisa dikategorikan “terorisme”.

Di Indonesia kegiatan terorisme telah lama tumbuh. Paham dan ideologi radikal impor menjadi salah satu faktor utama berkembangnya kelompok teror di indonesia. Di samping juga pengaruh dari cita-cita pendirian Negara Islam yang dulu diusung Kartosoewiryo. Namun, karakter dan pola kegiatan terorisme di Indonesia berubah-ubah dari masa ke masa.

Terorisme di era 2000an


Pada tahun 2000 – 2010, aksi terorisme cenderung menarget tempat yang menjadi representasi simbol-simbol Barat, sebagaimana bom bali yang dilakukan Amrozi cs. Mereka menarget cafe yang banyak dikunjugi turis asing. Kemudian pengeboman JW Marriott yang juga merupakan milik perusahaan perhotelan multinasional Amerika.

Perbedaan dasarnya ada di kelompok teror yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Pelaku bom bali merupakan kelompok teroris dari Jama’ah Islamiyah (JI). Informasi tersebut disampaikan salah satu otak dan peracik bom bali yaitu Ali Imron. Ia menyatakan bahwa dirinya bukanlah bagian dari ISIS yang dalam dua tahun belakangan melancarkan aksi serangan teror. Ali Imron cs yang dulu mendalangi bom bali adalah kelompok JI yang menurutnya berbeda dengan ISIS.

Jama’ah Islamiyah (JI) sendiri merupakan kelompok yang berafiliasi dengan Al-Qaeda dimana ideologi yang dianut adalah Manhaj Salafi dan anti-Barat. Target dan sasaran organisasi teror pimpinan Osama bin Laden ini adalah representasi simbol-simbol Barat. Mereka beranggapan bahwa Amerika dan Negara Barat lainnya telah menjajah Negara Islam.

Al Qaeda adalah stateless organization, “It is nowhere yet everywhere”. Artinya tidak memiliki tempat namun ada dimana-mana. Tidak bisa dipungkiri bahwa dominasi Al-Qaeda pada era 2000an menjadikan banyak organisasi teror dari berbagai belahan dunia berkiblat kepadanya. Jihad yang mereka lancarkan terstruktur, terencana dan bersifat strategis. Tujuannya jelas untuk menghancurkan dan memberi pesan kepada mereka yang dianggap musuh.

Jika kita melihat kilas balik kejadian teror era 2000an, perencanaan aksi memang disusun secara matang. Hal ini terlihat dari bagaimana mereka melakukan survey dan pemetaan lokasi sebelum melakukan aksi. Video pengantin bom bunuh diri JW. Marriott yang diambil di depan hotel beberapa hari sebelum kejadian adalah salah satu bukti nyata pematangan rencana oleh mereka. Disamping itu, jenis bom yang digunakan memiliki daya ledak yang besar. Bahan peledak yang digunakan untuk merakit bom juga termasuk jenis bom konvensional dengan skala besar yaitu TNT dan RDX yang biasa digunakan dalam perang Afghani style

video pengantin bom jw marriot
Video pelaku bom bunuh diri JW Marriot

Kemampuan kelompok JI dalam merakit bom dengan daya ledak besar bukan tanpa alasan. Mereka mempelajari itu semua dari camp-camp perang saat berada di Afghanistan. Merujuk dari beberapa data, tahun 80an banyak orang Indonesia pergi ke Afghanistan untuk berjihad melawan Soviet. Mereka mempelajari stategi perang, perakitan bom, menggunakan senjata dan lain sebagainya.

Jama’ah Islamiyah diketahui juga sangat ketat dalam melakukan kaderisasi. Mereka akan memfilter betul seseorang yang akan menjadi anggota. Bahkan jika salah satu pemimpinnya tertangkap, maka sel organisasi dihapus. Dan anggota JI yang tertangkap polisi tidak akan lagi bisa masuk organisasi.

Terorisme Era 2010 – Sekarang

Ketika terorisme memasuki era 2010, pola dan gerakan kelompok teror mengalami perubahan. Baik dari segi kemampuan, perencanaan, target sasaran dan juga proses perekrutan. Mayoritas masyarakat mungkin belum menyadari adanya perubahan tersebut. Tapi jika kita amati, terdapat pergeseran yang jauh berbeda dari aksi teroris di tahun 2010 ke belakang.

Peran organisasi teroris yang dulu kebanyakan dari JI mungkin menjadi salah satu sebab pokok terjadinya perubahan gerakan. Era 2010 sampai sekarang kelompok teroris yang melakukan aksi kebanyakan merupakan anggota dari Jama’ah Ansharud Daulah (JAD). Walaupun pendiri JAD Aman Abdurrahman dulunya merupakan anggota JAT yang mana merupakan pecahan dari JI, tetapi kedua organisasi tersebut memiliki ideologi yang berbeda.

Jika JI beraffiliasi dengan Al-Qaeda, JAD beraffiliasi dengan ISIS. Bahkan, terbentuknya JAD sebenarnya ditujukan untuk mewadahi kelompok ISIS di Indonesia. Aman yang kala itu menjalani hukuman penjara di lapas Kembang Kuning, Nusakambangan, memanggil Marwan alias Abu Musa dan Zainal Anshori alias Abu Fahry untuk datang menjenguknya. Saat itu Aman menyampaikan kekhalifahan ISIS dan memerintahkan kedua muridnya tersebut untuk membuat organisasi sebagai wadah ISIS di indonesia.

ISIS sendiri pada awalnya merupakan organisasi yang berba’iat pada Al-Aaeda. Namun, kemudian dua kelompok ini berkonflik karena memiliki beberapa perbedaan.

Baca Juga : ISIS Versus Al-Qaeda

Terdapat beberapa perbedaan mendasar di antara kedua organisasi tersebut. Jihad yang dilakukan Al-Qaeda lebih besar didasari untuk meruntuhkan hegemoni Barat, sedangkan ISIS melakukan jihad untuk penegakkan Negara Islam. Dari paham tersebut, anggota ISIS dalam melakukan aksi teror tidak memandang muslim atau non-muslim. Bagi mereka siapa saja yang tidak setuju dengan penegakkan khilafah ala ISIS, maka mereka halal dibunuh.

Hal ini juga yang menyebabkan target sasaran kelompok teror era sekarang bisa menarget siapa saja, tak terkecuali aparat keamanan atau bahkan pejabat pemerintah. Kemudian jihad yang mereka lakukan bisa dikatakan hanya bermodal nekat. Jika dulu teroris menyusun rencana dengan matang dan juga melakukan survey lokasi, teroris sekarang lebih memilih nekat untuk melakukan aksi. Mereka cenderung tidak terlalu memikirkan berhasil atau tidaknya aksi tersebut. Mungkin yang terpenting bagi mereka adalah menggugurkan kewajiban jihad walaupun hanya dengan sebilah pisau.

Dari segi kemampuan dalam merakit bom kelompok teroris sekarang ini berbeda jauh dengan kelompok sebelumnya. Bom yang mereka buat tidak sedahsyat dulu. Faktor pengetahuan kelompok teror sekarang kurang begitu memadai. Rata-rata dari mereka hanya mendapatkan pengetahuan lewat beberapa tutorial yang tersebar di grup-grup teror. Ditambah faktor jumlah human resource (SDM) yang ahli dalam perakitan bom sangat sedikit.

Tetapi dalam proses perekrutan kelompok teroris sekarang mengalami peningkatan. Jika dulu untuk memengaruhi seseorang menjadi radikal membutuhkan proses yang cukup lama dan memakan waktu bertahun-tahun. Sekarang proses perekrutan hanya membutuhkan hitungan bulan.

Media sosial menjadi satu elemen pokok pada proses percepatan rekrukmen. Pada 2017, Solahudin mewawancarai 75 terpidana teroris. Dalam wawancara itu menanyakan sejak kapan yang bersangkutan terpapar paham radikal dan kapan mulai melakukan aksi teror. Hasilnya 85 persen narapidana teroris melakukan aksi teror setelah kurang dari setahun mengenal paham radikal.

“Jadi antara nol sampai satu tahun. Kemudian saya coba bandingkan dan profiling narapidana teroris yang terlibat teror 2002 sampai 2012 ketika zaman media sosial belum marak, mereka mulai terpapar (paham radikal) sampai terlibat aksi teror itu butuh waktu 5 sampai 10 tahun,” papar Solahudin. Dilansir dari merdeka.com

Kesimpulan

Jika kita rangkum terdapat 5 perbedaan antara teroris di era 2000an dan era 2010 – sekarang :

  1. Aksi
  2. Kemampuan
  3. Motif
  4. Target Sasaran
  5. Perekrutan

Data tersebut bisa kita jadikan parameter untuk mengetahui kelompok mana yang menjadi dalang suatu teror. Karena jika kita teliti lebih lanjut, setiap organisasi teror memiliki pola dan ciri tersendiri.

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 − seventeen =