Pernyataan Macron dan Aksi Teror Malam Natal

Di penghujung tahun 2020 ini muncul peristiwa yang cukup menghentak khalayak dunia, bermula pada awal oktober 2020 seorang guru di Perancis bernama Samuel Patty yang mengajarkan kepada murid-muridnya  tentang kebebasan berekspresi, dengan menunjukkan karikatur Nabi Muhammad SAW dari majalah Charlie Hebdo, akibatnya berujung pada pemenggalan kepala Samuel Patty.

Pemenggalan itu  dilakukan oleh Abdoullakh Anzorov, seorang remaja 18 tahun yang lahir di Moskwa tapi berasal dari Chechnya, selatan Rusia. Menurut jaksa anti-teror Jean-Francois Ricard, tersangka telah diberikan status pengungsi di Perancis dan mendapat izin tinggal 10 tahun sejak awal 2020.

Pemenggalan kepala Samuel Patty menimbulkan gejolak di negara Perancis, lalu kepala negara Perancis Emmanuel Macron menyatakan, Islam sebagai teroris dan tak akan melarang pencetakan karikatur Nabi Muhammad, Menurutnya hal itu merupakan bagian dari kebebasan dalam berekspresi.

Persoalan menjadi semakin pelik, sebab pernyataan Macron tersebut kemudian menjadi sorotan umat islam di seluruh dunia, beragam aksi anti perancis pun bermunculan, mulai dari demonstrasi menggeruduk kantor duta besar perancis, pemboikotan produk-produk perancis, dan kecaman-kecaman dari kepala negara di dunia pun menggema.

Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim pun ikut menyuarakan kecaman terhadap Macron. Dalam hal ini secara resmi Presiden Jokowi ikut menyatakan sikap. Menurutnya, pernyataan macron tersebut telah melukai perasaan umat islam. Sayangnya di Indonesia aksi atau demonstrasi anti perancis kemarin tidak seheboh demo bela islam pada tahun 2016 lalu, atau tidak semeriah iring-iringan penyambutan kepulangan Habib Rizieq Sihab pada 10 Nevember Lalu. Yang jelas tidak ada negara yang berpenduduk muslim kemudian tidak mengecam pernyataan Macron.

Sebenarnya yang perlu diwaspadai bersama tentang efek dari pernyataan Macron itu adalah reaksi dari kelompok ekstrimis, sebab kelompok ekstrimis ini bergerak tidak dengan aksi demonstrasi pada umumnya, mereka bergerak dengan melakukan tindakan teror yang dapat memakan banyak korban jiwa. Sepanjang tahun 2020 tidak ada aksi terror di Indonesia yang mengguncang publik, hanya terror ancaman dan rencana terror, setelah itu terjadi penagkapan oleh apparat.

Bulan desember sudah didepan mata, natal dan malam pergantian tahun tinggal hitungan hari, momen ini seolah juga menjadi agenda rutin bagi kelompok ekstrimis dalam melakukan aksi kejinya. Dengan tanpa alasan yang jelas, beberapa kali malam natal diserang bom oleh kelompok ekstrimis. Kewaspadaan terhadap aksi-aksi teror menjelang natal ini harus ditingkatkan. Sebab tidak menutup kemungkinan akan ada aksi balas dendam terhadap pernyataan macron, yang kemudian mereka curahkan pada malam natal nanti.

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

seventeen + ten =