Pro Kontra Pernyataan Macron

Whatsapp Pinterest LinkedIn Tumblr +

Prancis tengah menjadi sorotan. Pembunuhan guru asal Paris bernama Samuel Paty menjadi salah satunya yang terjadi pada pertengahan Oktober lalu.

Seorang remaja asal Chechnya bernama Abdoullakh Abouyezidovitc membunuh Samuel Paty dikarenakan mengajarkan kebebasan berpendapat kepada murid-muridnya menggunakan karikatur Nabi Muhammad dari majalah satir Charlie Hebdo.

Aksi teror itu menjadikan Prancis lebih disorot lagi dan memicu efek bola salju karena disusul dengan aksi teror lainnya. Setelah peristiwa di Paris, menyusul aksi serupa di Nice dan Lyon. Namun, puncaknya, adalah pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron soal Islam Radikal pada tanggapannya soal kasus Paty, 16 Oktober lalu.

baca juga: https://carubannusantara.or.id/yordania-dalam-perang-melawan-terorisme

Emmanuel Macron (Presiden Prancis) menyinggung soal Islam radikal. Ia menyebut Samuel Paty sebagai sasaran kaum radikal yang kebingungan. Menurut Macron, Paty bukanlah musuh utama para kaum Islam radikal, ia hanya seorang guru. Namun, karena kelompok radikal digerakkan oleh kebencian, terutama terhadap keberagaman, ia pun tersasar. Menurutnya Paty merupakan korban konspirasi kegilaan, kebohongan, kebingungan, kebencian terhadap yang lain, kebencian terhadap esensi kita (sekularisme).

Macron mengakhiri pernyataannya dengan komtimen membela kebebasan dan sekularisme Prancis. Ia berjanji akan menindak tegas mereka yang melanggar hal tersebut, tak terkecuali menutup tempat-tempat ibadah yang dirasa mengajar paham radikal.

Sontak saja pernyataan tersebut menimbulkan pro dan kontra yang meluas ke penjuru dunia Islam Presiden Recep Tayyip Erdogan langsung menbalas pernyatan tersebut dengan mengatakan Macron membutuhkan perawatan kesehatan mental dan pemimpin Prancis itu “tersesat” dan buntut dari pernyataan ini membuat hubungan Prancis dan turki kembali memanas.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengecam pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dianggap menghina agama Islam. Kementrian luar negeri  telah memanggil Duta Besar Prancis untuk Indonesia Olivier Chambard, untuk menyampaikan sikap keberatan Indonesia.

Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Muslim terbesar di dunia dari Indonesia pada Rabu (28/10) menyerukan ketenangan sambil mengkritik “sekulerisme ekstrem”. Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Yahya Staquf mengatakan  “Menghina kehormatan Nabi Muhammad dianggap penghinaan terhadap Islam,”. Namun menanggapi penghinaan terhadap Nabi Muhammad dengan membunuh pelakunya merupakan tindakan biadab yang berpotensi memicu ketidakstabilan yang meluas tanpa kendali Prancis, dikutip dari South China Morning Post.

Akan tetapi Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab memiliki pendapata lain, Anwar Gargash, Menurutnya, ini merupakan kesalahpahaman, Macron tidak mencoba memojokkan Islam, namun memperingatkan soal ancaman radikalisme dan tidak secara spesifik menyasar Islam. Hal terebut sejalan dengan pidato  Emmanuel Macron pada 2 Oktober 2020 bahwa berencana menghukum pelaku separatisme yang salah satunya dengan mengawasi kelompok-kelompok radikal, tak terkecuali yang berkaitan dengan Islam.

Lebih keras Emmanuel Macron menyinggung Islam sebagai agama yang dalam krisis global, yang kemudian memunculkan islam-islam radikal serta dikaitkan dengan komtimennya soal sekularisme, pernyataan inilah yang dipahami berbeda-beda.

Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Muslim terbesar di dunia dari Indonesia pada Rabu (28/10) menyerukan ketenangan sambil mengkritik “sekulerisme ekstrem” Prancis, South China Morning Post melaporkan.  Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Yahya Staquf mengatakan  “Menghina kehormatan Nabi Muhammad dianggap penghinaan terhadap Islam,”. Namun menanggapi penghinaan terhadap Nabi Muhammad dengan membunuh pelakunya merupakan tindakan biadab yang berpotensi memicu ketidakstabilan yang meluas tanpa kendali.

Beberapa pihak menganggap Emmanuel Macron menggeneralisir Islam (berdasarkan kasus terorisme) serta mencoba memicu Islamophobia. Tanggapan itu kian buruk ketika majalah satir Charlie Hebdo tidak dilarang menerbitkan karikatur Nabi Muhammad dengan landasan kebebasan berpendapat.

Pro kontra, perbedaan pendapat itu pada akhirnya menimbulkan berbagai efek. Mereka yang merasa Macron memojokkan Islam menyorakkan pemboikotan atas barang-barang dari Prancis. Sementara itu, mereka yang merasa Macron benar, berusaha membela. Hal itu salah satunya terjadi di Indonesia.

Share.

Leave A Reply

3 × four =