Poso Menjadi Tanah Jihad Bagi Teroris

Whatsapp Pinterest LinkedIn Tumblr +

Mujahidin Indonesia Timur (MIT)

Poso merupakan sebuah daerah yang terletak di tengah pulau Sulawesi, daerah ini secara geografis terdapat banyak pegunungan dan hutan yang strategis untuk dijadikan tempat latihan kelompok teroris dan juga bisa digunakan untuk persembunyian dari kejaran aparat. Di daerah ini pula menjadi dasar seorang mujahid dalam melakukan pijakan awal dalam berjihad atau dengan kata lain belum dikatakan berjihad kalau belum menginjakan kakinya di tanah Poso..

Di Poso pernah terjadi konflik horizontal antara tahun 2000 sampai tahun 2001, konfliknya adalah berupa pertikaian antara Umat Kristen dengan umat Islam. Kelompok muslim Poso kala itu banyak dibantu oleh pejuang muslim yang berasal dari luar Poso untuk membantu memerangi lawan mereka. Dari konflik horizontal inilah kemudian lahir kelompok ekstrimis islam yang mengakar di daerah ini. kelompok ini kemudian dikenal dengan nama Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang diprakarsai oleh Santoso alias Abu Wardah Asy Ayarqi, kelompok ini berafiliasi dengan kelompok teroris lainya di indonesia maupun diluar indonesia termasuk ISIS, sehingga MIT dan Santoso masuk kedalam daftar teroris global, dalam hal ini pemerintah Amerika memblokir seluruh property dalam yurisdiksi yang terkait dengan MIT dan Santoso.

Catatan Aksi Terorisme Mujahidin Indonesia Timur (MIT)

Dalam perjalananya kelompok ini banyak melakukan kejahatan dan aksi terorisme yang tidak berprikemanusiaan, dalam sembilan tahun terahir sudah hampir 30 lebih aksi terorisme yang dilakukan oleh kelompok MIT ini dengan sasaran utamanya adalah anggota POLRI dan warga sipil, disarikan dari beberapa media, berikut catatan kejahatan dan aksi terorisme Kelompok MIT Poso dari Tahun 2011 sampai tahun 2020 :

2011

  • 25 Mei 2011. Tiga polisi diberondong senjata yang sedang berjaga di depan Bank BCA Palu, Jalan Emy Saelan, Palu Selatan, Kota Palu, dua polisi yakni Bripda Irbar dan Bripda Yudisthira tewas. Mereka kena tembak di kepala dan dada. Sedangkan Bripda Dedy Anwar luka tembak di kaki.

2012

  • 29 September 2012. Sebuah bom meledak di di Desa Korowou, Lembo, Kabupaten Morowali. Ledakan yang terjadi sekitar pukul 21.45 WITA tidak menimbulkan korban jiwa atau luka-luka. Insiden itu hanya menyebakan kaca jendela pecah dan beberapa seng atap rumah terlepas dari tempatnya.
  • 4 Oktober 2012. Penembakan terjadi di Desa Masani, Poso Pesisir. Akibat penembakan itu, seorang warga desa bernama Hasman Sao (35), terluka di bagian leher.
  • 9 Oktober 2012. Sebuah bom meledak di Jalan Tabatoki, Kelurahan Kawua, Poso Kota Selatan sekitar pukul 20.15 WITA. Bom yang diperkirakan berdaya ledak tinggi itu terdengar hingga radius 5 kilometer dan lokasinya dekat dengan Markas TNI Kompi B Yonif 714/Sintuwu Maroso Poso.
  • 16 Oktober 2012. Dua polisi, Briptu Andi Sapa dan Brigadir Sudirman, ditemukan tewas di Dusun Tamanjeka, Desa Masani. Mayat keduanya ditemukan setelah dinyatakan hilang sepekan sebelumnya. Keduanya dikubur dalam satu lubang. Polri menyatakan bahwa pelaku dari pembunuhan ini adalah kelompok Santoso.
  • 22 Oktober 2012. Sebuah bom berdaya ledak tinggi meledak sebanyak dua kali di dekat Pos Lantas Poso. Saat itu, seorang Polisi yang hendak melakukan tugas rutin menjaga lalu lintas terkena serpihan bom bersama seorang Satpam Bank BRI.
  • 15 November 2012. Rumah dinas Kapolsek Poso Pesisir Utara diberondong tembakan oleh kelompok tak dikenal yang diduga jaringan Santoso. Terjangan peluru sempat melewati kedua kaki Kapolsek Iptu Bastian Faruklabi.
  • 20 Desember 2012. Tiga anggota Brimob tewas setelah ditembak dari belakang saat patroli di desa Kalora, Poso Pesisir Utara, dan diduga dilakukan oleh kelompok Santoso. Yang pertama Briptu Ruslan, kemudian Briptu Winarto dan Briptu Wayan Putu Ariawan. Mereka mengalami luka tembak di bagian kepala dan dada.
  • 25 Desember 2012. Sebuah bom ditemukan di depan pos Pasar Sentral Poso. Bom itu ditemukan sekitar pukul 07.00 WITA. Tim Jihandak Brimob Polda Sulawesi Tengah dibantu aparat Polres Poso berhasil menjinakkan bom tersebut.

2013

  • 14 Mei 2013. Seseorang tak dikenal melemparkan bom molotov ke pojok kantor Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resort Palu, sekitar pukul 20.00 WITA. Kapolres Palu AKBP Trisno Rahmadi mengatakan bahwa tidak ada unsur bahan peledak dalam bom molotov itu.
  • 19 Mei 2013. Ancaman bom terhadap Markas Kepolisian Sektor Palu Timur. Benda mencurigakan yang mirip bom dan disimpan dalam kardus tersebut ditemukan di Jalan RE Martadinata, Palu Timur. Benda tersebut diletakkan oleh orang tak dikenal tidak jauh dari Markas Kepolisian Sektor Palu Timur. Tim Penjinak Bom (Jibom) kemudian meledakkan benda yang diduga bom tersebut.

2014

  • 25 Februari 2014. Sebuah bom meledak di Desa Pantangolemba Kecamatan Poso Pesisir Selatan. Kapolres Poso, AKBP Susnadi menduga bahwa bom yang meledak di Pantangolemba adalah milik kelompok teror (MIT) di Poso.
  • 3 Juni 2014. Seorang warga bernama Muhammad Amir, ditembak saat sedang mengecek air bersih di bak induk penampungan air sekitar 1,5 kilo meter dari perkampungan. Amir mengalami luka tembak di bagian pinggang belakang sebelah kanan hingga tembus ke bagian depan perut.
  • 9 Juni 2014. Markas Polsek Poso Pesisir Utara ditembaki oleh orang tak dikenal. Para pelaku memberondong Markas Polsek Poso Pesisir Utara dari arah belakang. Bagian belakang kantor polisi itu adalah hutan yang gelap. Mendengar suara tembakan, sejumlah polisi yang berjaga kemudian membalas tembakan. Aksi saling balas tembakan itu berlangsung terjadi sekitar lima menit. Insiden baku tembak itu melukai Briptu Rivaldi di bagian paha, dan telah mendapatkan perawatan.
  • 19 September 2014. Seorang petani bernama M. Fadli (50), tewas dengan keadaan kepala hampir terpenggal di Desa Taunca, Poso Pesisir Selatan. Fadli dibunuh karena dia diyakini merupakan agen Densus 88. Kelompok MIT mengklaim bahwa merekalah yang membunuh Fadli.
  • 7 Oktober 2014. Ledakan bom terjadi di depan rumah warga Desa Dewua, Poso Pesisir Selatan. Namun waktu itu Tim Gegana yang dikawal Brimob menuju TKP dihadang kelompok sipil bersenjata di perbukitan Desa Tangkura hingga terjadi baku tembak.
  • 10 Desember 2014. Dua warga Desa Sedoa, Lore Utara, bernama Obet Sabola dan pamannya Yunus Penini, menghilang di hutan dan hingga kini belum ditemukan.
  • 29 Desember 2014. Kelompok MIT melakukan penculikan terhadap 3 warga Tamadue. Ketiga korban penculikan tersebut adalah Harun Tobimbi, Garataudu, dan Victor Polaba. Garataudu ditemukan tewas, sedangkan Victor Polaba dan Harun berhasil meloloskan diri.

2015

  • Tangkura. Dolfi Moudi Alipa (22) tewas akibat tiga luka tembak pada bagian kepala, dada kiri dan perut. Korban tewas kedua bernama Aditya Tetembu (58), dan korban tewas ketiga yaitu Hery Tobio (55). Prosesi pelepasan jenazah dan pemakaman turut dihadiri Bupati Poso, Piet Inkiriwang.
  • tulang rusuk kanannya dan akhirnya meninggal. Pangkatnya dinaikkan menjadi AKP (Anumerta) dan namanya diabadikan menjadi nama lapangan apel markas Polda Sulawesi Utara.
  • Sausu, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Pemenggalan itu diduga sebagai aksi balas dendam setelah terjadi kontak tembak dengan Polri.[61]
  • Balinggi, Kecamatan Balinggi. Mayat kedua ditemukan sehari kemudian di kebun Dusun Buana Sari, Desa Tolai, Kecamatan Torue. Korban diketahui bernama Simon alias Hengky (50), warga Dusun Matanpondo, Desa Tolai Barat, Torue. Simon ditemukan telah meninggal di parit dengan leher tergorok. Mayat ketiga ditemukan di kilometer 19, Desa Sausu Salubanga, Sausu dengan identitas yang belum diketahui.
  • Yonif 712/Raider Manado, tewas saat kontak tembak dengan kelompok MIT. Kontak tembak terjadi dengan anggota TNI Satgas Camar Maleo saat melakukan patroli di Dusun Gayatri, Desa Maranda, Kecamatan Poso Pesisir Utara, di Poso.

2016

  • Sangginora, Kecamatan Poso Pesisir Selatan. Ia tewas saat dilarikan di Rumah Sakit Umum Daerah Poso akibat luka tembak di dagu kiri dan menembus leher belakang. Pangkatnya dinaikkan menjadi Brigadir Kepala secara anumerta.

2017

  • 3 Agustus 2017. Seseorang petani ditembak mati oleh MIT di wilayah Pegunungan Pora, Desa Parigimpuu, Kecamatan Parigi Barat, Parigi Moutong.

2018

  • 30 Desember 2018. Seseorang berinisial RB ditemukan dengan kepala terpisah dari badan di Desa Sausu Salubanga, Kecamatan Sausu, Parigi Moutong. Kepolisian menduga ini merupakan upaya MIT demi memancing polisi.

2019

  • Bulan Juni tahun 2019, dua orang yang diketahu ayah dan anak asal Dusun 3 Tokasa, Desa Tanah Lanto, Kecamatan Torue, Kab. Parigi Moutong, Sulawesi Selatan ditemukan tewas dalam kondisi leher tergorok. Peristiwa ini cukup menyita perhatian, pasalnya belakangan pelaku pembunuhan petani tersebut adalah anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora.
  • Jumat, 13 Desember 2019 pukul 12.30 Wita, sekelompok orang tak dikenal yang diduga terkait jaringan kelompok teros di Poso menembaki personel polisi yang tergabung dalam Operasi Tinombala. Penembakan itu sesaat sepulang dari menunaikan ibadah sholat Jum’at di Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulteng ini. Seorang anggota polisi tewas.

2020

  • Rabu, 15 April 2020. Penyerangan terhadap anggota kepolisian yang tengah berjaga di depan Bank Mandiri, Jalan Pulau Irian Jaya, Gebang Rejo, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. dua pelaku penyerangan tersebut berhasil ditembak mati dan berhasil di identifikasi sebagai anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT)
  • Jumat, 17 April 2020, Pemenggalan kepala anggota Bantuan Kepolisian (Banpol) yang dilakukan oleh kelompok MIT pimpinan Ali Kalora. Dalam melakukan aksinya tersebut mereka memvideokanya dan beredar di sosial media.

Pergantian kepemimpinan dan jumlah anggota

Kelompok ini mengalami pergantian kepemimpinan setelah Santoso alias Abu Wardah Asy Ayarqi ditembak mati pada tanggal 18 juli 2016 oleh satgas Operasi Tinombala atau operasi pengejaran terhadap kelompok terorisme Muhajidin Indonesia Timur (MIT) di wilayah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, sehingga sejak tahun 2016 sampai dengan sekarang di pimpin oleh Ali Kalora yang bernama asli Ali Ahmad.

Menurut Juru bicara Badan Intelijen Negara, Wawan Hari Purwanto mengungkapkan anggota kelompok teroris pimpinan Ali Kalora itu kini hanya tersisa 7 orang setelah sebelumnya petugas melumpuhkan 5 dari 12 orang anggota pada 2019 lalu, dan operasi tinombala terus dilakukan mempersempit ruang gerak kelompok teroris ini, meskipun secara kuantitas kelompok ini hanya hitungan jari tetapi militansinya tidak diragukan lagi, sepanjang bulan April tahun 2020 mereka terus melakukan terror dan perlawanan terhadap apparat.

Bahaya Terorisme Masih Terus Mengintai

Ada dua hal yang menyita perhatian publik dalam pemberitaan teroris poso selama April 2020, pertama pada saat iring-iringan pemakaman dua pelaku penyerangan anggota kepolisian yang tengah berjaga di depan sebuah Bank tersebut, terdapat bendera yang menyerupai bendera ISIS, kemudian yang kedua, beredar video Ali Kalora yang mengancam Bantuan Kepolosian (Banpol) dan video tersebut ditutup dengan ritual pemenggalan anggota Banpol yang menjadi tawanan mereka. Dua kejadian tersebut menunjukan bahwa seolah-olah kelompok MIT ini tidak akan pernah terkalahkan, meskipun dalam pemberitaan terkini pada tanggal 25 april 2020 satu orang anggota kelompok tersebut yang masuk kedalam Daftar Pencarian Orang (DPO) kembali tewas oleh timah panas milik apparat dalam baku tembak yang terjadi di Poso. aparat masih terus memburu sisa anggota teroris MIT yang bersembunyi di hutan Poso.

Bahaya terorisme di negeri ini masih terus mengintai, menunggu semua lengah dan mereka akan melakukan aksinya. Dan pandemi yang melanda negeri ini menjadi satu momentum bagi mereka untuk bergerak. waspadalah..!!!

Share.

Leave A Reply

5 × 3 =