Propaganda Kelompok Teroris

Banyak metode yang digunakan kelompok teroris dalam melakukan propaganda. Propaganda merupakan cara orang atau kelompok dalam memasukan ide dan gagasan miliknya kepada target atau sasaran yang di inginkan. Kelompok teroris dalam praktek propagandanya mampu beradaptasi sesuai dengan kondisi perkembangan zaman. Adaptasi ini dilakukan sesuai dengan kecenderungan masyarakat dalam mengkonsumsi media massa.

Media massa merupakan sebuah alat untuk mempublish baik gagasan maupun upaya mendorong eksistensi individu dan kelompok. Bagi kelompok teroris media massa memiliki posisi penting dalam usaha mengkampanyekan ideologi dan isu-isu yang mereka perjuangkan. mereka sadar betul bahwa media masa merupakan elemen penting dalam proses komunikasi publik, karena tanpa media massa pesan perjuanganya tidak akan mampu menjangkau khalayak luas.

Jika ditelaah ada dua bagian yang terjalin dengan erat terkait publikasi kelompok teroris, pertama media yang dibuat oleh kelompok teroris dengan tujuan publikasi terkait gagasan-gagasan dan propaganda dalam rangka menyebarkan faham yang dimiliki oleh kelompoknya, kedua secara alamiah media mainstream juga turut serta dalam mempublikasikan gerakan kelompok teroris baik aksi teror maupun hanya sekedar mirroring dari media propaganda yang dibuat oleh kelompok teroris sehingga mampu mendorong eksistensinya

Di era sebelum internet menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat, akses informasi masyarakat bersumber dari media cetak dan media elektronik (TV & Radio). Pemanfaatanya pun dilakukan oleh semua komponen termasuk kelompok teroris kala itu. Di era tersebut selain propaganda melalui ceramah keagamaan, mereka juga membuat beberapa media cetak sejenis buletin yang diedarkan baik secara terang-terangan maupun secara underground. Buletin tersebut melakukan kamuflase isi dan nama dengan balutan kajian keagamaan, output dari pola semacam ini tidak membuahkan hasil yang signifikan.

Kelemahannya, media konvensional seperti buletin jangkauannya sangat terbatas sehingga menuntut adanya jaringan distribusi yang kuat agar mencapai khalayak. Akan tetapi, jika jaringan kelompok teroris ini sudah berada di banyak wilayah atau negara, maka dimungkinkan pendistribusiannya juga bisa maksimal. Kelompok teroris ISIS misalnya, selain memanfaatkan internet untuk kampanye, mereka juga mencetak surat kabar bernama “Al-Fatihin” yang distribusinya menjangkau hingga ke Indonesia.  

Di era internet, muncul berbagai macam platform sosial media seperti Facebook, Twitter dan sebagainya yang kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh kelompok teroris selain website dan blog.  Dalam hal ini, yang mereka lakukan selain penyebaran faham Jihadis yang bisa di unduh, mereka juga membuka ruang diskusi melalui fasilitas chating dan lainnya sehingga orang-orang yang sudah termakan propaganda kelompok teroris bisa berinteraksi dengan sang propagandis, lalu tahap berikutnya ialah ajakan jihad melawan kekafiran dengan melakukan aksi teror di wilayah yang dipimpin oleh toghut. Lalu Ajakan berikutnya adalah  melakukan penggalangan dana yang kelak akan digunakan untuk membiayai gerakan mereka.

Korban agitasi dan propaganda yang dilakukan oleh kelompok teroris melalui internet salah satunya adalah seorang TKI yang bekerja di Singapura, TKI tersebut menjadi radikal setelah menonton video daring dari kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), termasuk rutin mengkonsumsi ceramah-ceramah dari Aman Abdurahman melalui yotube, Aman Abdurahman merupakan pemimpin Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS, lalu mereka meyakini apa yang di propagandakan oleh ISIS merupakan kebenaran dari implemantasi Islam. Bukan hanya mengkonsumsi ajaran-ajaran ISIS mereka juga kemudian mengkampanyekan ajaran-ajaran tersebut, bahkan hampir separuh gajinya disumbangkan untuk mendanai tindakan terorisme yang dilakukan oleh JAD. Setelah kekalahan ISIS di Suriah mereka hendak melangkah dan bergabung dengan salah satu negara yang memiliki sisa-sisa jaringan ISIS diluar Suriah dan Irak diantaranya ialah Filipina selatan, Afghanistan, dan Afrika. Karena mereka menggap sedang berperang membela Islam

Adanya situs jejaring social Youtube semakin mempermudah kelompok teroris dalam melakukan agitasi dan propaganda. Dengan adanya youtube ini, kelompok teroris lebih leluasa untuk menyiarkan rekaman videonya kepada publik tanpa ada sensor. Jika pun kemudian video tersebut di banned oleh pihak youtube, namun terkadang video yang sudah terupload tersebut sudah terlanjur menyebar ke public karena sudah terunduh. Semisal pada tahun 2014 beredar video untuk mendukung perjuangan ISIS menjadi khilafah dunia. Dalam video berdurasi delapan menit dengan judul Join the Ranks, tampak seorang pria yang menyebut dirinya Abu Muhammad al-Indonesi sangat berapi-api dalam mengkampanyekan ISIS.

Terorisme memerlukan media untuk mendapatkan legitimasi dari publik bahwa aksi yang mereka lakukan lebih karena orientasi ideologis dan penguasaan wilayah atau negara, bukan karena alasan individu atau personal. Kelompok teroris lebih meyukai jika aksi yang mereka lakukan dibingkai dalam pemberitaan media massa sebagai aksi yang bernuansa perjuangan ideologis. Tidak mengherankan jika dalam berbagai aksinya kelompok teroris mempublikasikannya dengan tujuan mengokohkan eksistensinya dalam memperjuangkan ideology sekaligus memberikan pesan ancaman terhadap mereka yang dianggap sebagai musuhnya.

Ada hal yang berbeda terkait hasil propaganda melalui pola media konvensional dengan pola propaganda melelui internet, dikarenakan jangkauanya yang terbatas sehingga waktu dan hasilnya kurang maksimal, sementara pola propaganda yang menggunakan internet bisa dengan waktu yang singkat namun hasilnya cukup signifikan karena ditunjang akses yang tak terbatas, ditambah lagi dalam kelompok teroris terdapat divisi khusus untuk urusan dunia internet.

Pekerjaan rumah bagi pemerintah adalah bagaimana pemerintah memaksimalkan pengawasan terhadap dunia internet yang rentan dimanfaatkan oleh kelompok teroris, mungkin bisa dengan menggandeng para penyedia social media sehingga bisa mempersempit ruang gerak kelompok teroris dalam dunia internet.

Baca Juga : https://carubannusantara.or.id/menyingkap-tabir-kepalsuan-isis/

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 − fifteen =