Rekrutmen Teroris Melalui Media Sosial

Internet merupakan ruang terbuka tak beraturan dengan separuh penduduk bumi di dalamnya. Bagi teroris internet adalah source baru yang bisa dimanfaatkan untuk menjangkau milyaran pengguna. Salah satu pemanfaatan internet oleh kelompok teror adalah sebagai sarana untuk melakukan rekrutmen anggota.

Dimulai dari distribusi materi propaganda secara massif, yang kemudian dikonsumsi oleh masyarakat umum akan berimbas pada bergesernya ideologi dan pemahaman seseorang. Salah satu tujuan utama kelompok teror melakukan kampanye melalui media sosial adalah terserapnya radikalisme dalam paham masyarakat dan mendeklarasikan keanggotaan dengan mereka.

Baca Juga: Menakar Kemampuan Kelompok Teror dalam Mengelola Media Online dan Jejaring Sosial

Pengelolaan media online dan jejaring sosial oleh kelompok teroris bukan merupakan hal yang remeh, justru mereka sangat paham bagaimana mengelola itu semua sebagai sarana untuk “berjihad”. Keberhasilan kelompok teror dalam berkampanye di media sosial bisa kita buktikan dengan bertambahnya anggota-anggota baru karena pengaruh konten radikal yang mereka lihat di internet. Seperti:

  • Nurshadrina dan Nailah: Perempuan Indonesia yang berangkat ke Raqqa mengikuti ISIS, berawal dari melihat konten ISIS di internet
  • Tertangkap nya 36 terduga teroris dan dari keterangan polisi mereka terpapar paham radikal melalui internet dan dibaiat secara online, sampai-sampai mereka berdiskusi untuk merakit bom di grup platform (media sosial).
  • Siska Nur Azizah dan Dita Siska Milleni: dua wanita yang ditangkap saat mau menyusup ke Rutan Mako Brimob dengan membawa senjata tajam dan diduga akan melakukan aksi teror saat terjadi kerusuhan di Mako Brimob. Mereka berdua mengenal paham radikal dari internet yakni dari grup-grup Whatsapp, Instagram dan Channel Telegram yang bernama Turn Back Crime.

Mereka hanyalah secuil dari beberapa orang yang terpengaruh konten-konten ekstrem kelompok teror.

Tahapan Radikalisasi Melalui Internet

Untuk mempengaruhi ideologi seseorang hingga menjadi radikal, ada beberapa tahapan yang disusun oleh kelompok teroris.

Penyebaran Materi Propaganda

Ini merupakan hal pokok dan modal awal untuk mengenalkan masyarakat terhadap paham-paham Islam “versi mereka”. Walaupun monitoring intens dilakukan oleh pemerintah yang menyebabkan akun atau channel milik mereka dihapus, tapi dengan penyebaran konten yang massif di berbagai platform secara terus-menerus, maka konten mereka akan tersebar dengan sendirinya.

Saya mengutip pernyataan Peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Universitas Indonesia, Solahudin dalam forum diskusi Cegah dan Perangi Aksi Teroris di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Rabu, 16 Mei 2018. Ia mengatakan: “Saya bisa simpulkan bahwa salah satu elemen yang mempercepat proses radikalisasi itu terkait dengan sosial media,”.

Menurutnya kelompok-kelompok ISIS di Indonesia membuat banyak saluran di aplikasi perpesanan Telegram. Pada 2017, terdapat lebih dari 60 saluran Telegram berbahasa Indonesia. Dari angka itu, kata Solahudin, lebih dari 30 saluran privat dibuat kelompok-kelompok ISIS di Indonesia.

Setiap hari, mereka mendistribusikan 80-150 pesan kekerasan dalam satu saluran. Jika jumlah saluran Telegram mereka lebih dari 60, artinya dalam 24 jam tersebar ribuan pesan kekerasan. “Intensifnya orang terpapar dengan paham-paham kekerasan itulah yang membuat proses radikalisasi sekarang ini berlangsung lebih kencang,” ujarnya.

Pernyataannya tersebut dikuatkan setelah ia melakukan studi kepada 75 orang narapidana terorisme. Dalam studi tersebut, Solahudin mempelajari berapa lama seseorang terpapar konten radikalisme hingga akhirnya melakukan aksi teror. Hasilnya, 85 persen dari narapidana terorisme tersebut mengalami waktu yang cukup singkat sejak terpapar konten radikalisme hingga melakukan aksi teror. Solahudin menyatakan, waktu yang diperlukan adalah 0-1 tahun.

“Kemudian saya mencoba bandingkan dengan narapidana tahun 2002-2012 ketika media sosial belum marak. Mereka rata-rata mulai terpapar sampai memutuskan terlibat itu antara 5-10 tahun,” tutur Solahudin.

Dilihat dari hasil studi tersebut bisa kita ambil kesimpulan bahwa konten propaganda yang disebarkan kelompok teror berperan sangat besar dalam mempengaruhi pemikiran masyarakat sehingga proses radikalisasi diserap lebih cepat.

Pengarahan Melalui Chat dan Komunikasi

Setelah seseorang tertarik dengan konten-konten berbau radikal, maka tahap selanjutnya adalah berkomunikasi. Mereka yang tertarik akan lebih serius untuk mengetahui lebih dalam tentang paham tersebut, biasanya mereka bertanya dengan mengirimkan direct message ke admin sebuah akun, dan admin dari masing-masing akun media sosial akan mulai berkomunikasi dan mengarahkan calon anggotanya ini ke saluran grup chat milik mereka.

Di saluran telegram misalnya, calon anggota baru akan menemukan konten-konten yang lebih ekstrem dari sebelumya dan juga tentu mendapatkan pengarahan langsung dari divisi rekrutmen kelompok teroris. Kita ambil contoh kasus Dita siska, saat diwawancarai TEMPO.CO di salah satu markas polisi di Jakarta, Selasa, 22 Mei 2018.

Dari Mana Anda Mendapat Pemahaman Seperti Itu?

Saya belajar otodidak dari berbagai grup WhatsApp dan channel Telegram sejak November tahun lalu, dan situs-­situs Internet. Di Telegram, salah satu channel-nya benama “Turn Back Crime”. Di sana banyak artikel tentang Islamic State dan video-video eksekusi, pemenggalan. Saya juga banyak baca dari Instagram. Nama akunnya yang ada Ikhwan gitu.

Siapa yang memasukkan Anda ke grup-grup itu?

Namanya Khalid. Dia mahasiswa Indonesia di Mesir. Tapi saya tidak mengenalnya. Awal kenalnya dari Instagram.

Nama akunnya Ikhwan. Dia bertanya apakah saya suka nasyid. Dia punya koleksi banyak dan dia minta saya membuat akun di Telegram. Setelah itu, dia memasukkan saya ke grup Mujahidin Indonesia.

Di grup Mujahidin bahas apa saja?

Artikel-artikelnya. Daulah Islamiyah. Saya sudah lama vakum dari situ. Akunnya hangus, enggak sengaja log out, lupa password-nya.

Anda tidak takut melihat video-video pemenggalan kepala itu?

Pertama takut. Tapi kan update terus videonya. Jadi ditonton terus sampai bosan. Di sana juga ada panduan untuk memenggal.

Kalau ada tawaran ke Suriah….

(Memotong) Pingin! Insya Allah, saya siap.

Kalau di sana cuma dijadikan istri tentara ISIS bagaimana?

Kalau perempuan enggak mau nikah, kan, boleh angkat senjata. Kalau sudah menikah, boleh jadi dokter atau jadi perawat. Saya pilih berperang saja, belum mau menikah, apalagi dipoligami.

Apakah Anda pernah membayangkan menembak dan membunuh orang lain?

tapi belum pernah, kok. Ya, ingin melakukannya saja

Itulah kenapa Anda membawa gunting ke Mako Brimob?

Siska yang bawa. Saya cuma bawa duit, enggak tahu kalau ada gunting. Saya ke sana mau bantu memberi makan para ikhwan yang ada di penjara.

Disuruh siapa ke Mako Brimob?

Di channel Diskusi Din ada seruan merapat ke Brimob karena Mako rusuh. Lalu beritanya sudah sampai Amaq (Portal Berita Milik ISIS). Lalu tanya, mau lanjut atau enggak. Katanya kan sudah dapat senjata, nah, mau diserahkan atau perang. Tapi mereka pakai senjata itu untuk negosiasi. Ikhwan-ikhwan itu mungkin mau perang, tapi kemudian Aman (Abdurrahman) bilang sebaiknya jangan, menunggu waktu yang tepat. Ya, sudah….

Omong-omong, apa kuat memanggul senjata laras panjang?

Kuat. Saya sering angkat galon air, kok, ha-ha-ha….

Anda Ingin ISIS ada di Indonesia?

Bukan cuma di Indonesia, tapi di seluruh dunia


Dari ulasan wawancara dita dengan TEMPO, kita bisa mengetahui pola dan alur perekrutan seseorang hingga mau melakukan aksi teror. Internet bukan hanya digunakan untuk hiburan ataupun curhat, banyak orang mencari solusi keagamaan melalui internet. Kasus Dita Siska seharusnya menjadi peringatan bagi kita agar tidak menjadikan konten maupun informasi yang ada di internet sebagai data yang kita percayai begitu saja tanpa adanya filter dan validasi. Imbas dari radikalisasi melalui dunia maya adalah banyaknya aksi teror lone wolf atau beraksi sendiri. Mereka yang sudah terpapar akan nekat melakukan aksi teror sendiri walaupun tidak mendapatkan seruan dari guru atau atasannya

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

20 − fifteen =