Sejarah Singkat Jamaah Islamiyah.

Peristiwa Pemboman WTC 11 September 2001 telah melahirkan sebuah stigma terhadap Islam, yaitu teroris dan al-Qaeda sebagai tertuduh. Di Asia Tenggara, kasus Bom Bali juga mengidentifikasikan adanya jaringan al-Qaeda yang kemudian dikenal dengan jamaah Islamiyah. Banyak teori yang dikemukakan oleh ilmuwan-ilmuwan di berbagai belahan dunia tentang fenomena radikalisme Islam ini. Di antara teori tersebut mengatakan bahwa radikalisme agama yang terjadi di berbagai belahan dunia merupakan resistensi agama terhadap laju modernisasi dunia. Di Asia Tenggara, munculnya radikalisme Islam lebih dipicu oleh sikap-sikap pemerintah terhadap umat Islam.

Walaupun demikian, Jamaah Islamiyah tetap merupakan misteri; eksistensinya tidak bisa dibuktikan, namun fenomenanya ada di mana-mana. Banyak pihak akhirnya mengaitkan keberadaan Jamaah Islamiyah dengan keberadaan berbagai model pendidikan garis keras di Indonesia. Tulisan ini berusaha untuk mengidentifikasikan hubungan antara keberadaan organisasi Jamaah Islamiyah dengan kelompok-kelompok teroris yang akhir-akhir ini telah memperburuk citra Islam.

Sejarah dan Jaringan JI

Jemaah Islamiyah (JI) adalah nama untuk gerakan Muslim yang beroperasi di Asia Tenggara. Gerakan ini menjadi popular selepas peristiwa pengeboman sebuah pusat hiburan di Bali pada 12 Oktober 2002, yang mengorbankan 202 nyawa, dan pengeboman di hotel J.W. Marriot, Jakarta, pada 5 Ogos 2003 yang membunuh 12 orang. Kemudian JI juga dipercayai bertanggungjawab ke atas pengeboman di depan pejabat Kedutaan Australia di Jakarta pada 9 September 2004, dan beberapa siri pengeboman gereja di Indonesia pada tahun-tahun sebelumnya.  Oleh itu, JI secara resmi dimasukkan ke dalam senarai organisasi teroris di PBB pada 23 Oktober 2002.

Walaupun dilaporkan bahawa JI baru resmikan di Malaysia sekitar tahun 1990-an oleh Abdullah Sungkar bersama-sama dengan veteran perang Afghanistan yang terlibat dengan al-Qa‘idah, namun menurut sebahagian pengamat, akar kumpulan JI  telah bermula sejak tahun 1970-an, ketika Sungkar dengan Abu Bakar Ba’asyir mendirikan Sekolah Agama atau Pondok Pesantren al-Mukmin yang dikenali sebagai Pondok Ngruki di Solo, Jawa Tengah.

 JI merupakan transformasi daripada gerakan Darul Islam (DI) yang pernah memberontak sekitar tahun 1950-an, bertujuan untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). Dikabarkan bahwa Sungkar dan Ba’asyir masuk ke dalam DI tahun 1976. Sungkar dilantik menjadi Gubernur militer NII wilayah Jawa Tengah. Pada bulan Februari 1977 ia memimpin kelompok pejuang yang diberi nama  Jemaah Mujahidin Ansharullah (JMA) dan dianggap oleh sebagian pengamat sebagai awal bagi gerakan JI sekarang.

Sungkar dan Ba’asyir akrab dengan Abdul Wahid Kadungga, dialah yang memperkenalkan kepada mereka gerakan Jama‘ah Islamiyyah (Islamic Group), sebuah gerakan militan Muslim yang merupakan pecahan daripada Ikhwan al-Muslimin  (IM) dan mulai popular di Mesir tahun 1970-an.

Adapun Hubungan antara JI dan al-Qaeda tidak dapat dipungkiri, JI adalah “sayap al-Qaeda di Asia Tenggara”. Kehadiran kaum militan Asia Tenggara secara bersamaan di kamp-kamp al-Qaeda di Afghanistan yang menyebabkan terjadi hubungan pribadi antara JI dan kelompok-kelompok Islamis garis keras Asia Tenggara. Kelompok itu antara lain Fron Pembebasan Islam Moro, gerakan yang memperjuangkan negara Muslim di Filipina Selatan, dan sejumlah kelompok Indonesia, Malaysia dan Thailand. Hal ini mengisyaratkan bahwa meski sebagian personal JI terinspirasi oleh tokoh global seperti Osama bin Laden, kelompok-kelompo Asia Tenggara tetap berbeda secara organisasi dan operasi.

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 + sixteen =