Senjata Pemusnah Massal di Tangan Teroris

Whatsapp Pinterest LinkedIn Tumblr +

Sepanjang sejarah kehidupan manusia selalu diwarnai dengan peperangan, mulai dari perang antar suku sampai perang antar negara, mulai dengan penggunaan senjata konvensional sampai dengan penggunaan senjata pemusnah massal. Di era modern penggunaan senjata pemusnah massal semakin canggih dan seakan-akan terus berlomba-lomba saling menciptakan meskipun tidak secara terang-terangan.

Senjata pemusnah massal (Weapons of mass destruction/WMD) adalah senjata yang sengaja dibuat untuk melakukan pembunuhan secara besar-besaran terhadap target yang inginkan, varietas dari senjata pemusnah massal ini bermacam-macam, secara umum dikelompokan kedalam jenis zat atau senyawa yang digunakannya. Dalam istilah militer, senjata kimia masuk dalam tiga kategori senjata permushan massal yang membahayakan, yakni nuclear, biological, and chemical (senjata nuklir, senjata biologi dan senjata kimia), semuanya masuk dalam kategori senjata pemusnah massal.

Penggunaan senjata berbahan kimia (dan sejenisnya) sangat dilarang oleh negara-negara di dunia, pelarangan tersebut sesuai dengan Konvensi Den Haag pada tahun 1899 yang melarang penggunaan gas cekik dan beracun. Deklarasi ini merupakan langkah pertama untuk melarang penggunaan gas dalam perang. Lalu konvensi ini ditegaskan kembali di Jenewa dalam bentuk protokol yang melarang penggunaan gas cekik dan beracun, serta senjata biologi. Lalu diteruskan pada Konvensi Senjata Kimia (Chemical Weapon Convention/CWC) yang diteken pada tahun 1993.

Awal Mula

Senjata kimia menggunakan bahan beracun dari zat atau senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh, melukai, atau melumpuhkan musuh. Penggunaan senjata kimia berbeda dengan senjata konvensional dan senjata nuklir karena efek merusak senjata kimia terutama bukan disebabkan daya ledaknya melainkan dapat tersebar luas dalam bentuk gas, cair dan padat, dan dapat dengan mudah menyerang orang lain dari target yang dimaksudkan.

Pada abad ke 4 SM India sudah menggunakan senjata kimia, dimana pada saat itu para pemanah mencelupkan anak panah kedalam tungku yang berisi racun (bisa) ular. Pada periode yang sama, tercatat Yunani dan China menggunakan asap untuk melawan musuh yang berada di dalam terowongan. Dimungkinkan inilah awal mula penggunaan senjata kimia dalam peperangan. Hingga beberapa abad kemudian, penggunaan asap masih digunakan sebagai senjata kimia, namun kadar racun yang dihasilkan semakin kuat dan berbahaya.

Dalam pertempuran Belgrade (Battle of Belgrade) pada tahun 1456, seorang alkemis (akhli kimia terkadang bisa disebut tukang sihir) menciptakan asap beracun yang mengandung gas klor yang mampu membuat perih mata dan menggagu pernafasan. Kemudian Leonardo Da Vinci pada abad ke 15 membuat rancangan sebuah bom kimia yang dibungkus dengan kulit kerrang yang mengandung peledak, arsenik dan belerang sebagai senjata untuk melumpuhkan kapal laut

Senjata kimia pertama kali digunakan dalam peperangan modern yaitu pada saat Perang Dunia I (1914-1918), di mana senjata gas menyebabkan cedera lebih dari satu juta korban dan membunuh sekitar 90.000 orang. Dalam Perang Dunia II Jerman-Nazi melakukan Genosida (terutama terhadap orang yahudi) menggunakan agen darah komersial hidrogen, sianida bernama zyklon B Melepaskannya di kamar gas besar adalah metode yang disukai untuk secara efisien membunuh korban mereka dengan metode industri yang berkelanjutan. Holocaus menghasilkan korban tewas terbesar terhadap senjata kimia dalam sejarah.

Catatan Sejarah

Mengutip The Science History (Melalui iNews.id), berikut sejarah penggunaan senjata kimia dalam peperangan.

1. Perang Dunia I

Senjata kimia yang paling mematikan selama masa Perang Dunia I ialah fosgen dan gas klorin. Enam hari sebelum Natal, tepatnya 19 Desember 1915, Jerman pertama kali menggunakan fosgen untuk menyerang pasukan sekutu dan menyebabkan lebih dari 120 tentara Inggris tewas dan 1.000 lainnya luka. Selain itu, ada pula gas mustard. Gas mustard pertama kali digunakan oleh pasukan Jerman dan membunuh 2.100 jiwa. Pada 1935-1936, Benito Mussolini menjatuhkan bom gas mustard di Ethiopia untuk menghancurkan tentara Kaisar Haile Selassie. Adolf Hitler juga diketahui menjadi buta akibat serangan gas dan dievakuasi ke rumah sakit militer di Jerman timur hingga masa perang berakhir. Selama periode 1915 hingga 1918, Perang Dunia I berakhir dengan menelan 1,3 juta jiwa yang disebabkan oleh senjata kimia. 

2. Perang Dunia II

Selama Perang Dunia II, gas-gas beracun digunakan di kamp konsentrasi Nazi Auschwitz di Polandia untuk membunuh warga sipil dan tentara Jepang di Asia. Senjata kimia yang digunakan pun lebih bervariasi, dari tabun, gas sarin, hingga bom napalm. Pada 1953, banyak tentara Inggris yang tewas karena menghirup gas sarin di fasilitas militer Porton Down. Pada 1961 hingga 1971, napalm dan herbisida juga digunakan pada perang Vietnam, yang memicu protes nasional dan internasional. Gas mustard dan senjata kimia pelumpuh saraf juga disebut-sebut digunakan dalam perang di Yaman, untuk mendukung kudeta terhadap monarki Yaman dari 1963 hingga 1967.

3. Perang Uni Soviet dengan Afghanistan

Ada laporan yang menyebut senjata kimia digunakan selama perang Uni Soviet dengan Afghanistan. Karena kerahasiaan, sangat sedikit informasi yang tersedia mengenai penggunaan bahan kimia yang digunakan dalam perang tersebut. Namun senjata kimia yang digunakan sangat beracun dan mampu melumpuhkan saraf. Senjata ini membunuh ratusan warga sipil selama pertengahan 1980-an.

4. Perang Sipil Yaman Senjata kimia diduga digunakan selama perang sipil di Yaman Utara. Serangan pertama dari perang ini terjadi pada 8 Juni 1963 di Kawma, sebuah desa berpenduduk sekitar 100 jiwa. Bom gas kimia menewaskan sekitar tujuh orang dan merusak mata dan paru-paru 25 warga lainnya. Namun pihak berwenang Mesir menduga bom itu adalah napalm, bukan gas. Pada 11 Desember 1966, 15 bom gas membunuh dua orang dan melukai 35 orang. Kemudian pada 5 Januari 1967, serangan gas terbesar terjadi di Desa Kitaf, menyebabkan 270 orang tewas dan 140 lainnya luka. Selama Perang Yaman, senjata kimia yang digunakan merupakan turunan halogen, yakni fosgen, gas mustard, boris, klorida atau sianogen bromida.

5. Perang Teluk

Kementerian Pertahanan AS dan Badan Intelijen Pusat (CIA) bersikukuh pasukan Irak di bawah Saddam Hussein tidak menggunakan senjata kimia selama Perang Teluk Persia pada 1991. Namun, ahli senjata kimia Jonathan B Tucker menegaskan Irak menggunakan senjata kimia untuk menyerang Kuwait dan Irak selatan. Pasukan militer melaporkan adanya gejala akut seperti terkena paparan zat kimia beracun. Senjata kimia yang melumpuhkan saraf seperti tabun, sarin, dan siklosarin serta penggunaan bahan yang dapat membuat kulit melepuh, seperti belerang, mustard, dan lumina terdeteksi di Irak.

6. Perang Iran-Irak

Selama perang Iran-Irak pada 1980-an, Saddam Hussein menggunakan senjata kimia, termasuk tabun untuk melawan Iran dan warga minoritas Kurdi di Irak. Sekitar 100.000 tentara Iran menjadi korban senjata kimia Irak. Banyak yang terkena gas mustard. Selain itu, gas pelumpuh saraf menewaskan sekitar 20.000 tentara Iran. Dari 80.000 korban selamat, sekitar 5.000 di antaranya harus menjalani perawatan medis secara teratur, dan sekitar 1.000 orang cacat permanen.

7. Perang Sipil Suriah

Pada 2013, militer Suriah menggunakan gas sarin melawan warga sipil. Ratusan warga terbunuh akibat perang ini. Gas sarin, mustard, dan klorin digunakan selama konflik ini. Dalam empat kasus, PBB mengonfirmasi penggunaan gas sarin. Pada Agustus 2016, militer Suriah menjatuhkan bom klorin ke Kota Talmen. Pada 2016, kelompok pemberontak menggunakan gas klorin untuk melawan milisi Kurdi dan warga sipil di Aleppo.

8. Serangan Suriah ke Ghouta

Sedikitnya 16 orang dirawat karena terpapar gas beracun di sebuah rumah sakit Ghouta Timur. Mereka diduga menghirup gas klorin dalam serangan udara dan artileri pasukan Suriah pada Minggu 25 Februari 2018. Direktorat Kesehatan Wilayah Damaskus (RDHD) menyatakan, para korban yang dirawat di fasilitas medis menunjukkan gejala konsisten terkena gas beracun. Para korban harus mendapat bantuan pernapasan dari tabung okisgen. Kelompok relawan medis, The White Helmets, menyatakan, seorang anak meninggal akibat gas klorin. Kedua kelompok yang bertikai saling menuduh pihak lawan menggunakan gas klorin sebagai senjata.

Kilas Temporary

Dalam perang suriah bukan hanya pasukan rezim Bashar al-Assad saja yang menggunakan senjata berbahan dasar kimia, kelompok ISIS juga menggunakan gas klorin untuk melawan milisi Kurdi dan warga sipil di Aleppo. Dengan ini bahwa senjata bermuatan senyawa kimia bukan hanya digunakan oleh negara-negara kuat saja, hampir semua kelompok atau negara yang biasa berkonflik akan memliki senjata pemusnah massal tersebut.

Di sub yang terkecil dari jaringan teroris pun memiliki kemampuan dalam membuat bom yang berbahan kimia, seperti halnya kelompok JAD yang tertangkap di Cirebon, dalam penangkapan tersebut ditemukan bom rakitan berbahan kimia racun abrin yang akan diledakan, cara kerja dari racun Abrin ini adalah dengan menghambat sel-sel protein yang dibutuhkan yang dibutuhkan oleh manusia. Tanpa protein, sel-sel tubuh mati dan dapat berdampak pada kematian. Hingga saat ini, tidak ada penawar racun abrin

Jadi bahaya dari senjata berbahan dasar senyawa kimia ini bukan disebabkan daya ledaknya melainkan penyebaranya yang dapat meluas dalam bentuk gas, cair dan padat, dan dapat dengan mudah menyerang orang lain dari target yang dimaksudkan dengan jumlah korban yang fantastis baik yang tewas ataupun terluka dan kecacadan permanen. Menurut teori-teori konspirasi hari ini, penggunaan senjata pemusnah massal yang digunakan negara-negara adidaya tidak lagi dengan cara-cara kasat mata (peledakan dan sejenisnya) tetapi malalui penyebaran virus-virus yang mematikan, sehingga terjadilah Genosida yang smooth dan modern di era millenial.

Share.

Leave A Reply

three × 5 =