Sepak Terjang Terpidana Kasus Terorisme Abu Bakar Ba’asir dengan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT)

Jejak Teror

Pada tahun 2011 lalu telah terjadi bom bunuh diri di dua lokasi di Indonesia, Pertama Bom bunuh diri di Mapolresta Cirebon yang terjadi pada tanggal 15 April 2020 pelaku bom bunuh diri tersebut bernama Muhammad Syarif, bom meledak di area Masjid Adz-Zikro di lingkungan Mapolresta Cirebon, yang kedua pada Minggu, 25 September 2011 pukul 10.55 WIB terjadi bom bunuh diri di GBIS Kepunton, Solo, Jawa Tengah, Peristiwa ini mengakibatkan 28 orang terluka. Pelaku pengeboman tersebut tewas dan setelah diidentifikasi pelaku bernama Ahmad Yosefa Hayat alias Ahmad Abu Daud, ia adalah orang yang mengantarkan Muhammad Syarif (pelaku Bom Cirebon) ke mapolresta Cirebon untuk melakukan bom bunuh diri.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Bachrul Alam menyebutkan kedua pelaku bom bunuh diri di dua tempat tersebut merupakan bagian dari jaringan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Kelompok yang di Amiri  atau diketuai oleh Abu Bakr Ba’asir ini mampu mempengaruhi dan mendorong orang untuk melakukan hal yang diluar kewarasan manusia pada umumnya yaitu “bunuh diri”, betapa dahsyatnya propaganda yang dilakukan oleh kelompok ini.

Bagaimana Berdirinya JAT

Jamaah Ansharut Tauhid atau yang disingkat menjadi JAT ini berdiri pada 27 Juli tahun 2008 namun pendeklarasianya baru dilakukan pada 17 September 2008 dengan mengangkat Abu Bakar Ba’asir sebagai pemimpinnya, organisasi ini memliki lambang atau logo lingkaran dengan kombinasi  warna hijau tua dan hijau muda yang terselip gambar dua bilah pedang dan buku bertuliskan alqur’an dan sunah sementara di atasnya bertuliskan kalimah tauhid dan dibawahnya bertuliskan ansharut tauhid. JAT mengklaim bahwa organisasinya merupakan organisasi keagamaan seperti pada umumnya di Indonesia,  organisasi ini mengusung paham jihadis salafi Indonesia, dan menolak disebut sebagai islam garis keras yang memaknai jihad dengan serangan atau terror, meskipun dalam beberapa kasus terror di Indonesia baik secara langsung maupun tidak langsung terdapat anggota JAT yang terlibat di dalamnya. Sejarah mencatat kelompok radikal islam di Indonesia dipelopori oleh seorang tokoh yang bernama Karto Suwiryo, ia adalah pemimpin kelompok Negara Islam Indonesia (NII) yang memiliki tujuan menjadikan Indonesia menjadi Negara islam atau Negara yang berasaskan pada syariat islam. Menurut ustadz Abdurrahman Ayyub dalam “Sejarah Teroris Indonesia” yang disiarkan melalui channel youtube -Salam Jambi Tv- mengatakan bahwa Kelompok ini terus mengalami regenerasi dan pembaharuan, setelah kepemimpinan Karto Suwiryo berahir karena di eksekusi aparat, kemudian kelompok NII ini terpecah menjadi beberapa kepemimpinan diantaranya adalah Kahar Muzakar, Daud Beurueh dan Mbah Gaos, lalu di era tahun 1970an diteruskan oleh Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asir, di tahun 1990an kemudian dipersatukan kembali oleh Ajengan Masduki, pada februari tahun 1993 Jama’ah Islamiyah (JI) dibentuk dengan amirnya adalah Abdullah Sungkar, pada tanggal 20 oktober 1999 Abdullah Sungkar meninggal dunia, kemudian kelompok ini membentuk Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang di kongreskan pada tahun 2000 dengan pemimpinya adalah Abu Bakar Ba’asir, hampir semua yang sehaluan dengan MMI bergabung dengan kelompok ini termasuk kelompok-kelompok alumni jihadis luar negeri baik Afghanistan ataupun yang lainya

Pada tanggal 12 Oktober 2002 Bom Bali meledak 202 Orang tewas dalam peristiwa ini korban yang tewas mayoritas warga negara Australia, para pelakunya merupakan mereka yang berafiliasi dengan MMI diantaranya adalah Encep Nurjaman alias Hanbali, Ali Ghufron alias Mukhlas, Abdul Aziz alias Imam Samudera, Ali Imron alias Ziad, Dulmatin, Umar Patek alias Abu Syeikh, Amrozi bin Nurhasyim, Abdul Ghoni alias Umeir, dan Sajio alias Sawad. Dalam kasus ini Abu Bakar Ba’asir ikut terseret dan divonis penjara 2,6 tahun pada 3 Maret 2005.

Setelah bebas pada 14 Juni 2006 kemudian abu bakar ba’asir mengundurkan diri dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan mendirikan Jamaah Ansharut Tauhid pada tahun 2008, kiprah organisasi ini tidak jauh berbeda dengan organisasi-organisasi sebelumnya berfaham  jihadis salafi dan tetap tidak mengakui pancasila sebagai dasar Negara Indonesia, sebab hokum yang dibuat oleh manusia adalah haram hukumnya, dan pada tahun 2014 JAT melalui amirnya yaitu Abu Bakar Ba’asir secara fulgar berbaiat kepada negara islam irak – suriah atau ISIS setelah di ajak oleh aman abdurahman, sontak pernyataan baiat Abu BAkar Ba’asir terhadap ISIS ini menimbulkan perpecahan dalam JAT, lalu mereka yang tidak berbaiat kepada ISIS ini membentuk organisasi baru yaitu Jamaah Ansharut Syariah

JAT dan JAD sama saja

Meskipun pemimpinya kembali divonis 15 tahun penjara pada 16 Juni 2011 karena dianggap terlibat dalam pelatihan militer para teroris di aceh, namun tidak menyurutkan langkah para anggota JAT ini untuk terus melakukan strategi dan melakukan terror kembali bersama anggota organisasi bentukan aman abdurahman yaitu JAD, organisasi taktis dan mungkin kamuflase dari JAT guna menyalurkan hasrat terornya.

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × five =